Hari Minggu Palma, 25 Maret 2018

Kisah Sengsara Tuhan kita Yesus Kristus
Yes 50: 4-7  +  Fil 2: 6-9  +  Mrk 15: 1-39


Lectio :
Pagi-pagi benar imam-imam kepala bersama tua-tua dan ahli-ahli Taurat dan seluruh Mahkamah Agama sudah bulat mupakatnya. Mereka membelenggu Yesus lalu membawa-Nya dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus.  Pilatus bertanya kepada-Nya: "Engkaukah raja orang Yahudi?" Jawab Yesus: "Engkau sendiri mengatakannya." Lalu imam-imam kepala mengajukan banyak tuduhan terhadap Dia.  Pilatus bertanya pula kepada-Nya, katanya: "Tidakkah Engkau memberi jawab? Lihatlah betapa banyaknya tuduhan mereka terhadap Engkau!" Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawab lagi, sehingga Pilatus merasa heran. Telah menjadi kebiasaan untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu menurut permintaan orang banyak.  Dan pada waktu itu adalah seorang yang bernama Barabas sedang dipenjarakan bersama beberapa orang pemberontak lainnya. Mereka telah melakukan pembunuhan dalam pemberontakan.  Maka datanglah orang banyak dan meminta supaya sekarang kebiasaan itu diikuti juga. Pilatus menjawab mereka dan bertanya: "Apakah kamu menghendaki supaya kubebaskan raja orang Yahudi ini?"  Ia memang mengetahui, bahwa imam-imam kepala telah menyerahkan Yesus karena dengki.  Tetapi imam-imam kepala menghasut orang banyak untuk meminta supaya Barabaslah yang dibebaskannya bagi mereka. Pilatus sekali lagi menjawab dan bertanya kepada mereka: "Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan orang yang kamu sebut raja orang Yahudi ini?" Maka mereka berteriak lagi, katanya: "Salibkanlah Dia!" Lalu Pilatus berkata kepada mereka: "Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?" Namun mereka makin keras berteriak: "Salibkanlah Dia!" Dan oleh karena Pilatus ingin memuaskan hati orang banyak itu, ia membebaskan Barabas bagi mereka. Tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan. 
Kemudian serdadu-serdadu membawa Yesus ke dalam istana, yaitu gedung pengadilan, dan memanggil seluruh pasukan berkumpul. Mereka mengenakan jubah ungu kepada-Nya, menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya.  Kemudian mereka mulai memberi hormat kepada-Nya, katanya: "Salam, hai raja orang Yahudi!"  Mereka memukul kepala-Nya dengan buluh, dan meludahi-Nya dan berlutut menyembah-Nya. Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah ungu itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya. Kemudian Yesus dibawa ke luar untuk disalibkan. Pada waktu itu lewat seorang yang bernama Simon, orang Kirene, ayah Aleksander dan Rufus, yang baru datang dari luar kota, dan orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus.  
Mereka membawa Yesus ke tempat yang bernama Golgota, yang berarti: Tempat Tengkorak. Lalu mereka memberi anggur bercampur mur kepada-Nya, tetapi Ia menolaknya.  Kemudian mereka menyalibkan Dia, lalu mereka membagi pakaian-Nya dengan membuang undi atasnya untuk menentukan bagian masing-masing. Hari jam sembilan ketika Ia disalibkan. Dan alasan mengapa Ia dihukum disebut pada tulisan yang terpasang di situ: "Raja orang Yahudi".  Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan-Nya dan seorang di sebelah kiri-Nya. Demikian genaplah nas Alkitab yang berbunyi: "Ia akan terhitung di antara orang-orang durhaka." Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia, dan sambil menggelengkan kepala mereka berkata: "Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, turunlah dari salib itu dan selamatkan diri-Mu!" Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli Taurat mengolok-olokkan Dia di antara mereka sendiri dan mereka berkata: "Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Baiklah Mesias, Raja Israel itu, turun dari salib itu, supaya kita lihat dan percaya." Bahkan kedua orang yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela Dia juga.  
Pada jam dua belas, kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam tiga. Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata: "Lihat, Ia memanggil Elia."  Maka datanglah seorang dengan bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum serta berkata: "Baiklah kita tunggu dan melihat apakah Elia datang untuk menurunkan Dia." Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya. Ketika itu tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah.  Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat mati-Nya demikian, berkatalah ia: "Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!".

Meditatio :
Salibkanlah Dia! Salibkanlah Dia! Sebuah teriakan yang satu dan sama, yang diucapkan ribuan orang yang menghendaki Yesus disalibkan. Sebuah hukuman yang amat keji, yang memang harus diterima oleh mereka para penjahat kelas kakap. Menyalibkan penjahat memang sungguh wajar dan layak pada waktu itu, tetapi menyalibkan sang Guru, Putera Daud yang luhur dan mulia sepertinya sulit dimengerti. Namun itulah misteri kehidupan. Teriakan hosanna Putera Daud. Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, diberkatilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapa kita Daud, hosana di tempat yang maha tinggi! (Mrk 11: 9-10) sudah tidak terdengar lagi. Pujian telah menjadi kecaman penuh kegeraman. Tidak ada pujian dan senyuman, tidak ada sorak-soraian dan lambaian kasih. Mulut yang satu dan sama itu bisa dipakai untuk memuji dan menghujat sesama.
Yesus yang sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia juga mengalami sakit dan derita dalam salib yang dipanggulNya. Mereka yang tidak tahu siapakah Dia, amatlah patut dimengerti kalau mereka itu mencaci dan menderaNya; tentunya tidaklah demikian bagi mereka yang telah tahu dan mengenal, bahkan telah menerima bantuanNya. Ada orang-orang yang dengan enaknya menyengsarakan dan membunuhNya, sebagaimana dilakukan Saulus ketika mengejar-ngejar umatNya yang kudus (Kis 12). Eloi, Eloi, lama sabakhtani?, Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Adalah sebuah teriakan rasa sakit atas derita yang harus diterimaNya. Yesus berteriak karena sebagai manusia yang merasa ditinggalkan. Orang-orang yang dikasihiNya melupakan dan merasa tidak tahu menahu tentang diriNya.  Dia yang selalu melaksanakan kehendak Bapa, yang mengutusNya, kini harus memanggul salib seorang diri. Para murid yang percaya kepadaNya meninggalkan diriNya seorang diri. Yesus tidak menghendaki cawan yang harus diminumNya diambil daripadaNya, tetapi sebaliknya dalam derita yang dipanggulNya, dan kematian yang dialamiNya, manusia mendapatkan keselamatan.  Yesus menderita di antara orang-orang yang dikasihiNya. Dia menderita, bukan di Samaria, di gunungnya yang kudus, melainkan di Yerusalem, tempat bait Allah yang dibangga-banggakan itu berada.
Yesus sadar sungguh akan tugas perutusanNya. 'Dia telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib' (Fil 2). Dialah Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan. Apa yang pernah dikatakanNya sendiri, bahwa 'Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh' (Mrk 8: 31) segera terpenuhi.
'Sungguh, Orang ini adalah Anak Allah!'. Sebuah pengakuan dari seseorang yang mengungkapkan iman kepercayaannya. Inilah pengakuan yang diharapkan Yesus. Sebab di kayu salibNya, ketika Dia ditinggikan, semua orang yang berani memandangNya dan percaya kepadaNya akan beroleh hidup kekal (Yoh 3: 15). Semuanya terjadi dengan indahnya, karena memang Dia menyerahkan nyawaNya demi keselamatan umat manusia. Yang nampak memang Dia mati di kayu salib, tetapi kematianNya bukanlah kematian sia-sia, sebab semuanya itu terjadi karena kemauan Allah sendiri yang menghendaki diriNya menyerahkan Nyawa menjadi tebusan bagi seluruh umat manusia.
Kisah sengsara Tuhan kita Yesus Kristus, tidak mengajak kita untuk bersedih, atau bahkan menangis tersedu-sedu, seperti perempuan-perempuan Yerusalem, sudah bukan jamannya sekarang ini orang menangis dan mengeluh. Yesus malah mengajak setiap orang untuk menangisi diri dan anak-anaknya (stasi VIII). Kisah sengsara kiranya mengajak kita untuk semakin berani berkata-kata dengan hati, bahwa sungguh, Orang ini, yakni Engkau sendiri, adalah Anak Allah. Kita semakin percaya dan berserah diri kepadaNya, sebagaimana telah dilakukan segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah yang mengaku, bahwa Yesus Kristus itu adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah, Bapa'  (Fil 2).

Oratio :
Yesus Kristus, Engkau menderita dan wafat di salib demi penebusan umat manusia. Kiranya kami yang berani memandang salib, percaya dan mengikutiMu akan beroleh selamat, terlebih-lebih berani dalam berkorban untuk sesama yang membutuhkan kami. Amin

Contemplatio  :
'Sungguh, Orang ini adalah Anak Allah!'.













Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Pesta Maria mengunjungi Elizabet

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis