Hari Raya Santo Yusuf, 19 Maret 2015

2Sam 7: 4-15  +  Rom 4: 13.16-18.22  +  Mat 1: 16.18-21.24a

 

 

Lectio

Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.  Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.  Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.  Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.  Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka."  Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya.

 

Meditatio

Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus. Penyataan ini hendak menyatakan, bahwa Yesus mendapatkan nama keluarga, bukan berasal dari Maria, melainkan dari Yusuf. Berkat Yusuf, sang ayah, Yesus termasuk keluarga Abraham, bapa bangsa, dan keturunan Daud, raja besar dalam sejarah Israel. Namun gelar Kristus, Yang Terurapi, memenuhi kehendak Tuhan Allah sendiri, sebagaimana pernah dikatakan nabi Natan: 'Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya.  Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya.  Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku' (2Sam 7: 12-14). Dia pasti yang kepadaNya Aku berkenan.

Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Sebuah keterangan singkat tentang keadaan seorang perempuan yang bernama Maria. Dia seorang calon isteri Yusuf. Mereka masih bertunangan. Mereka belum sebagai suami isteri, belum tinggal satu rumah; walau mungkin mereka sudah akrab,  sudah pergi ke sana kemari berdua, sering bergandengan tangan, bahkan seorang Maria sudah layak dipanggil sang isteri Yusuf.  Dia, Maria, sang perempuan itu, ternyata telah  mengandung dari Roh Kudus.  Dia mengandung dari Roh Kudus, yakni ketika dia dengan tulus hati menjawab kemauan Tuhan, sebagaimana dikatakan seorang malaikat:  'Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah'. Dan Maria dengan berani Maria mengamini: 'sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu'. Maria sepertinya yakin, bahwa tiada yang mustahil bagi Allah.  

Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.  Yusuf tidak mau tahu dengan Maria, perempuan yang dicintainya. Dia tidak menuntut. Dia tidak mempermalukan calonnya; mungkin bisa-bisa saja menjadi umpan balik, yakni kesalahan dilemparkan banyak orang kepada dirinya. Lebih baik ditinggalkan saja secara diam-diam. Kesabaran seorang Yusuf patut menjadi kebanggaan dan panutan kita bersama. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi. Ungkapan mimpi sepertinya menjadi salah satu kesempatan, di mana terjadinya pertemuan konkrit antara Allah dan manusia.  'Yusuf, anak Daud', kata malaikat. Yusuf bukan anak Yakub, sang ayah kandungnya. Ini adalah sebuah penjelasan keunggulan keluarga mereka sebagai keturunan raja besar Israel.  'Janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu', jangan kamu tinggalkan dia, teruskan pertunangan kalian. Maria cocok menjadi isterimu, dan kamu memang  harus menjadi suaminya. Kamu laki-laki yang setia dan bertanggungjawab.  'Sebab Anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.  Ia akan melahirkan Anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka'. Sebuah penyataan tentang Maria dan yang terjadi pada diri tunangannya itu. Maria itu suci adanya. Yusuf pun sekarang diminta juga mengamininya, seperti yang telah dilakukan Maria, tunangannya. Anak yang dikandung Maria akan menjadi miliknya, karena Yusuf yang memasukkan Dia dalam silsilah raja Daud, dan Yusuflah yang membiarkan Yesus masuk dalam kalangan masyarakat sosial, sesuai dengan nama keluarga yang dimiliki sang ayah.

Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Yusuf pun mengamininya, walau dia tidak berkata kepada malaikat itu: aku ini hamba Tuhan, terjadilah pada tunanganku, menurut perkataanMu. Apakah ini sebuah kekalahan dibanding Samuel, seseorang anak laki-laki kecil yang menjawab panggilan Tuhan? Pada saat itulah seharusnya Yesus juga disebut anak Abraham, bukan saja anak Yakub, anak Daud. Mungkin sulit dipertanggunjawabkan secara sosial keberanian Yusuf menerima Maria; Yusuf hanya percaya akan apa yang dikatakan malaikat kepada diri. Namun tak dapat disangkal, imannya tak kalah dengan Abraham, yang 'sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, tetap berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan, dan yakin, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran' (Rom 4:  18.21-22).

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, tanamkanlah keberanian dalam hati kami untuk mengamini setiap sabdaMu. Bahwa dalam mengikuti Engkau, seberat apapun yang kami hadapi Engkau pasti mendampingi dan memberikan yang terindah bagi kami. Terima kasih ya Yesus atas rahmat kasihMu.

Santo Yusuf, doakanlah kami. Amin

 

Contemplatio :

'Janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu'.








Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018

Selasa XXX, 26 Oktober 2010