Kamis Putih, 29 Maret 2018

Pesta Perjamuan Tuhan

Kel 21: 1-9  +  1Kor 11: 23-26  +  Yoh 13: 1-15

 

 

Lectio

Sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.  Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia.  Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah.

Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya,  kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: "Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?"  Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak."  Kata Petrus kepada-Nya: "Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya." Jawab Yesus: "Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku."  Kata Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!"  Kata Yesus kepadanya: "Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua."  Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: "Tidak semua kamu bersih." 

Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu?  Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.  Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu;  sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu".

 

Meditatio

Sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa.  Yesus hendak mengakhiri tugas perutusanNya di dunia. Dia hendak mengakhiri dalam kemuliaanNya di kayu salib, dan bukan dalam kematian. Semua yang telah dilakukanNya adalah seturut kehendak Bapa. Yesus mau memperbaharui Paskah. Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya, dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah. Dia berasal dari atas dan akan kembali ke atas, dan bukan tetap tinggal di dunia, karena memang Dia bukan dari dunia. Hanya Dia yang berasal Atas akan kembali ke atas. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya, demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.  Mengapa? Karena kasih Allah itu tidak berkesudahan. Kasih Allah itu abadi dan kekal. Kasih Allah inilah yang menghendaki agar semua orang beroleh selamat.

Kalau Yesus dengan setia merayakan Paskah, kita pun orang-orang yang percaya kepadaNya juga ikut serta dalam Paskah Perjanjian Baru, di mana Kristus sendiri menjadi Imam dan Kurban. Kita ambil bagian dalam Paskah Baru.  'Ia mengambil roti mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!.  Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!' (1Kor 11: 24-25). Yesus sendiri yang memimpin perjamuan sebagai Imam, sekaligus menjadi Kurban, karena Tubuh dan DarahNya yang dipersembahkanNya.  Dan sungguh, 'setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang', bukan dengan berkotbah maksudnya, melainkan mengenakan kematianNya agar kita semua dibangkitkan kelak di akhir jaman ketika Dia datang untuk kedua kaliNya.

Ketika mereka sedang makan bersama, dan iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia.  Terasa aneh dan janggal memang, tetapi itulah yang terjadi. Perjamuan adalah saat kesatuan hati dan jiwa, tetapi saat itu juga terjadi sebuah pengkhianatan yang dilakukan oleh kuasa kegelapan. Dalam saat yang  indah, Allah sepertinya membiarkan kuasa kegelapan menyelinap dalam diri orang-orang yang mencari kepuasan diri. Sang Anak Tunggal Bapa membiarkan semuanya itu, karena memang Dia tahu dengan apa yang terjadi pada diriNya;  walau tak dapat disangkal,  celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.

'Darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu. Kamu harus merayakannya sebagai hari raya bagi TUHAN turun-temurun. Kamu harus merayakannya sebagai ketetapan untuk selamanya' (Kel 12: 11-14). Apakah ritual Paskah tidak mereka jalankan sehingga perjamuan kudus itu sempat kecolongan, sehingga kuasa kegelapan masuk dan mencuri hati Yudas Iskariot? Bukankah ada Yesus bersama mereka? Sekali lagi apakah Yesus memang membiarkan semuanya ini terjadi? Bukankah bersama Yesus, kita akan selamat?

Bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. Sang Anak Manusia benar-benar mengambil rupa seorang hamba, karena memang yang dilakukan pada malam itu adalah tugas seorang hamba yang harus berani dan rela membasuh kaki sang majikannya. Aneh juga, para murid hanya berdiam diri pada saat pembasuhan itu. Para murid dibuatNya kelu. Hanya ketika sampai kepada Simon Petrus, berkatalah Petrus kepada-Nya: 'Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?'.  Mengapa Petrus baru bertanya ketika dia mendapatkan giliran? Mengapa tidak semenjak awal dia bertanya demikian?  Jawab Yesus kepadanya: 'apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak'. Mengapa baru kelak mengerti? Mengapa Yesus tidak menerangkan kepada mereka terlebih dahulu apa yang hendak dilakukanNya?  

'Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya'. Petrus berkata demikian, karena dia mungkin merasa tidak tega melihat sang Guru melakukan semua itu. Namun kenapa Petrus tidak menantang, bahwa dirinyalah yang akan membasuh kaki teman-temannya? Jawab Yesus: 'jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku'. Dibasuh oleh Kristus sepertinya adalah sebuah kewajiban yang harus berani diterima oleh setiap murid. Pembasuhan dan pelayanan kasih Yesus akan membuat setiap orang menjadi bagian hidup sang Guru itu sendiri.  Hanya dalam kasihNya setiap orang beroleh keselamatan; di luar kasih Allah, tidak ada keselamatan. Hanya Allah yang mampu menyelamatkan seluruh umat manusia.

 Kata Simon Petrus kepada-Nya: 'Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!'.  Petrus ini memang seorang pemberani. Sangat impressif. Bukankah dengan dibasuhnya kaki, tangan dan kepala semakin lengkap dan utuhlah untuk mendapat bagian bersamaNya?  Kata Yesus kepadanya: 'barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua'.  Jawaban Yesus amatlah tegas, tetapi ternyata mengandung suatu pesan yang mendalam. Apa yang dikatakan bukan soal tangan atau kaki, bukan soal pembasuhan kaki atau mandi, melainkan soal keutuhan dalam hidup bersama dengan diriNya.  Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia, karena itu Ia berkata: 'tidak semua kamu bersih'.

'Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu?', kata Yesus setelah mengenakan kembali jubahnya. 'Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.  Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu'. Penegasan Yesus amat jelas dan mudah dimengerti setiap orang. Kalau Yesus saja mau melayani, mengasihi dan bahkan berani mati untuk sesamaNya, demikianlah hendaknya kita yang percaya kepadaNya. Percaya kepadaKu, tegas Yesus berarti 'berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu'. Beriman kepada Tuhan Allah berarti bersikap seperti Tuhan Allah sendiri. Hendaknya kamu sempurna, seperti Bapamu di surga sempurna.

 

Oratio :

Ya Yesus, hanya dalam kasihMu kami mendapatkan keselamatan, maka ajarilah kami agar dapat menjadi sesama bagi orang lain, agar semakin banyak orang dapat menikmati kasih dan keselamatan dariMu. Amin

 

Contemplatio :

Pertama, ketika mereka sedang makan bersama, dan iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia. Dalam peristiwa kudus, setiap orang harus berani berkonsentrasi dan menaruh perhatian terhadap apa yang dirayakan

Kedua, 'jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku'. Menikmati kasih Yesus adalah kewajiban setiap orang yang ingin beroleh keselamatan, sebab hanya melalui Dialah setiap orang akan sampai kepada Bapa.

Ketiga, 'jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu'. Yesus, bukan saja memberi panutan, melainkan spiritualitas hidup. Spiritualitas untuk menjadi sesama bagi orang lain, dan menjadi Yesus bagi orang-orang yang merindukan keselamatan.

 








Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018

Selasa XXX, 26 Oktober 2010