Senin dalam Pekan Suci, 26 Maret 2018

Yes 42: 1-7  +  Mzm 27  +  Yoh 12: 1-11


Lectio :
Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati.  Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus. Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu. Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata:  "Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?" Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya. Maka kata Yesus: "Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku.  Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu." 
Sejumlah besar orang Yahudi mendengar, bahwa Yesus ada di sana dan mereka datang bukan hanya karena Yesus, melainkan juga untuk melihat Lazarus, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati. Lalu imam-imam kepala bermupakat untuk membunuh Lazarus juga, sebab karena dia banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus.

Meditatio :
Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati.  Ada acara apa Yesus pergi ke rumah mereka? Apakah hanya sekedar jalan-jalan? Apa memang Yesus secara sengaja singgah dan istirahat di rumah itu, sehingga nanti ketika sampai di Yerusalem tepatlah pada hari raya Paskah? Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus. Keluarga Lazarus bersyukur kepada Tuhan atas kunjungan sang Empunya kehidupan di rumahnya. Betapa bahagianya, Allah mengunjungi umatNya. Perjamuan saat itu tentunya sebagai rasa terima kasih dan syukur keluarga atas perhatian dan kasih Allah kepada umatNya. Penginjil tidak menceritakan aneka masakan yang disediakan oleh mereka; bukankah yang masuk dalam diri manusia itu tidak menajiskan?
Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu. Maria sungguh-sungguh berani memberikan yang terbaik bagi sang Tamu Agung yang datang mengunjungi keluarganya. Apa yang dilakukan Maria sepertinya sebuah persembahan diri atas kasih yang diterima keluarga daripadaNya. Apakah yang dilakukan Maria ini sudah dibicarakan dengan kedua saudaranya, sehingga mereka yang lain tidak merasa dibiarkan sibuk?
Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata: 'mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?'. Baik kali hati si Yudas ini, tetapi sebenarnya hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya. Sungguh jelas apa yang ditulis penginjil kepada kita: siapakah Yudas Iskariot itu. Dia yang semenjak semula dipilih menjadi rasulNya yang kudus, tidak mengalami perkembangan dalam hidup rohani. Kecenderungan insani anak Iskariot ini amatlah kuat. Dia selalu mencari kepuasan diri. Dia selalu berkata-kata benar dan manis, tetapi hatinya penuh kejahatan. Yudas Iskariot adalah gambaran seseorang yang berwajah dua. Kejahatan Yudas ini apakah baru muncul setelah dia mengalami kenyamanan hidup bersama Yesus? Mengapa Yesus memilih dia dari semula? Pilihan Yesus tidak mempertimbangkan SDM seseorang; demikian juga anugerah-anugerahNya. Bukankah Dia juga memberikan hujan kepada orang yang baik dan jahat?
'Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku', sahut Yesus kepadanya. Sungguh benar, Yesus singgah di rumah Lazarus, karena memberi kesempatan kepada keluarga untuk melayani diriNya. Maria adalah perwakilan orang-orang yang terpinggirkan dan tersisihkan, yang tak mampu datang untuk menguburkan Yesus secara pantas. Mereka mau melayani sang Guru, tetapi tak berdaya karena kekerasan jiwa orang-orang yang ingin mencari menangnya sendiri. 'Orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu', tegas Yesus. Sebuah sindiran Yesus kepada orang-orang yang mempunyai aktif dalam karya sosial, tetapi tak mau menemukan Dia sang Empunya kehidupan yang hadir di dalam diri mereka yang mereka bantu. Kepedulian mereka terhadap sesama tidak sampai kepada menyentuh hati Dia yang mengulurkan tanganNya di kayu salib. Mereka tak sampai menemukan Tuhan Yesus, karena semuanya dilakukan sebatas kemampuan insaninya. Mereka tak mau melibatkan Allah yang rela membantunya. Aku mempunyai, dan aku dapat membantu sesama, mengapa aku harus melibatkan Tuhan? Ada banyak karya sosial yang bisa dilakukan tanpa melibatkan Tuhan sang Empunya kehidupan ini.
Sejumlah besar orang Yahudi mendengar, bahwa Yesus ada di sana, dan mereka datang bukan hanya karena Yesus, melainkan juga untuk melihat Lazarus, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati. Lalu imam-imam kepala bermupakat untuk membunuh Lazarus juga, sebab karena dia banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus. Kecemburuan hati karena hilangnya anggota komunitas menjadi alasan banyak orang untuk bertindak semena-mena, bahkan menghalalkan cara. Komunitas mereka dianggapnya satu-satunya wadah yang benar dan terindah; tak jarang ego sektoral juga masuk dalam lembaga-lembaga keagamaan; dan itulah yang dilakukan kaum Yahudi terhadap Yesus dan Lazarus. Apa yang diterima Lazarus adalah sebuah resiko karena keterpilihan dirinya oleh Tuhan Yesus. Dia memang membawa perbantahan bagi banyak orang (Luk 1).  
'Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa, untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara' (Yes 42: 6-7). Sabda Tuhan melalui nabi Yesaya kiranya tepat juga dikenakan pada Lazarus, yang memang sempat membuka mata banyak orang untuk berani mengenal Yesus, sang Kehidupan. Berkat iman Lazarus, banyak orang yang meninggalkan komunitas lama mereka, dan percaya kepada Yesus. Kita pun tanpa banyak bersuara juga harus mampu membawa banyak orang kepada sang Empunya kehidupan ini.

Oratio :
Ya Yesus, kiranya kamipun belajar dari Maria yang berani memberikan bagian yang terbaik, sebagai ungkapan atas kasihMu dan menemukan kehadiranMu dalam diri sesama di dalam pelayanan terhadap sesama kami. Amin

Contemplatio :
'Orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu'.










Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018

Selasa XXX, 26 Oktober 2010