Jumat Pekan Paskah II, 13 April 2018

Kis 5: 34-42  +  Mzm 27  +  Yoh 6: 1-15

 

 

Lectio

Suatu hari Yesus berangkat ke seberang danau Galilea, yaitu danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mujizat-mujizat penyembuhan, yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Dan Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya.  Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat.  Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: "Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?"  Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya.  Jawab Filipus kepada-Nya: "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja."  Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya:  "Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?"  Kata Yesus: "Suruhlah orang-orang itu duduk." Adapun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya.

Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang."  Maka mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan.  Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: "Dia ini adalah benar-benar Nabi yang akan datang ke dalam dunia."

Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri.

 

Meditatio

Suatu hari Yesus berangkat ke seberang danau Galilea, yaitu danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mujizat-mujizat penyembuhan, yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit.  Mereka mengikuti Yesus ke mana Dia pergi. Apakah karena mereka tertarik kepadaNya? Tertarik oleh aneka mukjizat, atau karena oleh kehadiran Yesus sendiri? Namun tak dapat disangkal, kehadiran Allah selalu menarik perhatian banyak orang. Ramainya orang-orang mengikuti Yesus tentunya akan menimbulkan kegelisahan pada orang-orang Farisi dan para ahli Taurat, apalagi Yesus seringkali melakukan tindakan-tindakan yang kontroversial.  Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Para murid itu adalah mereka semua yang mengikuti dan mendengarkan sang Empunya kehidupan ini; dan mereka semua adalah orang-orang yang dikasihiNya. Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Entah kenapa pesta Paskah disebutkan secara khusus. Mengapa? Apakah karena semua itu dilakukan di hari mendekati Paskah, maka perikop ini ditempatkan pada hari ini yang masih berada di masa Paskah? Tentunya ada maksud kehusus.  

Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: 'di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?'. Yesus menyampaikan sebuah pertanyaan yang amat mengejutkan. Mereka diminta memberi makan semua orang yang datang berduyun-duyun kepadaNya. Mereka para murid, keduabelas Rasul, diajak unutk berani bertanggungjawab atas situasi yang ada.  'Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja', sahut Filipus. Entah mengapa Filipus menyebut sejumlah uang; apakah pada waktu itu dia sedang membawa uang sebanyak dua ratus dinar? Namun tak dapat disangkal, Filipus menanggapiNya dengan serius, padahal semua itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya. Yesus yang selalu membantu umatNya, yang selalu membuat segalanya menjadi baik adanya, seperti mengadakan aneka mukjizat, kini malah hendak mencobai Filipus. Mengapa Filipus yang menjadi sasaran tembak Yesus? Tuhan Allah memang tak jarang selalu bertanya, dan bahkan menantang kita untuk berani bertindak, walau Dia sudah tahu apa yang hendak kita lakukan. Tak jarang pula, Dia bersuara dalam hati umatNya untuk selalu berani memilih yang terbaik.

'Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?', kata Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya. Aneh juga pertanyaan Andreas ini. Roti seharga duaratus dinar saja tidak cukup, apalagi hanya lima roti. Apakah dia tidak mendengarkan komentar Filipus? Namun mengapa Andreas mengungkapkan hal itu? Kalau Yesus mencobai Filipus, apakah sekarang Andreas meminta belaskasihNya? Apakah dia tahu bahwa Yesus mampu membuat segala-galanya baik adanya? Andreas percaya kepada Yesus. Bukankah dia bersama para murid lainnya telah mengetahui beberapa kali Yesus mengadakan mukjizat? 'Suruhlah orang-orang itu duduk', sahut Yesus kepada para muridNya.  Adapun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Sekali lagi, kita bisa membayangkan jumlah orang sebanyak itu; dan itupun belum termasuk kaum ibu dan anak-anak, yang biasanya lebih banyak jumlahnya dari kaum bapak. Iman kepercayaan Andreas mendatangkan berkat.

Yesus lalu mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Mengambil roti, mengucap syukur lalu membagi-bagikannya sepertinya merupakan rumusan ekaristis yang selalu digunakan Yesus. Paskah adalah peristiwa ekaristis Yesus, karena Dialah sang Kurban Paskah, yang serentak dipersembahkan diriNya sendiri sebagai Imam, bukan di sana, melainkan di sini, di tubuhNya sendiri yang menjadi altar. Pergandaan roti adalah peristiwa antisipatif kurban Paskah Kristus.  Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: 'kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang'. Yesus adalah seorang pembuat mukjizat, tetapi Dia hemat dalam segala sesuatu. Hidup berkelimpahan akan semakin terasa indah bila seseorang bersikap murah hati terhadap sesama, sekaligus hemat dalam penggunaan segala sesuatu sebagaimana mestinya.  Maka mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Perjamuan Paskah yang dirayakan dalam ekaristi memang tidak membuat kita kenyang perut kita, tetapi kita mendapatkan jaminan untuk hidup kekal, karena kita menikmati roti dari surga, roti para malaikat, tubuh dan darah sang Penyelamat yang memberikan keselamatan.  

Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: 'Dia ini adalah benar-benar Nabi yang akan datang ke dalam dunia'. Yesus tidak mengatakan siapakah diriNya, tetapi orang dapat mengenal siapakah diriNya itu. Benarlah yang dikatakan Yesus sendiri 'jikalau kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa' (Yoh 10: 38). Yesus menyatakan diriNya bukan dengan menyebut namaNya, melainkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang dipercayakan Bapa kepadaNya.

Yesus yang tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, menyingkir pula ke gunung, seorang diri.  Bukanlah sulit mencari nama dan jabatan, tetapi semuanya itu tidak dilakukan Yesus. Semua dilakukan Yesus, karena Dia 'datang untuk menyelamatkan dunia' (Yoh 3: 17), dan tidak untuk yang lain.

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, Engkau tidak hanya mengajar tetapi melakukan. Bantu dan mampukan kami, agar kamipun dapat mewartakan sabdaMu lewat sikap dan perbuatan kami yang mencerminkan kasih Allah di dalamnya. Amin

 

Contemplatio :

Pertama, 'di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?'. Sebuah pertanyaan yang memancing tentunya, karena Yesus pasti tahu akan segala sesuatu; dan seperti itulah yang sering terjadi. Mengajak kita melakukan segala sesuatu dari setiap peristiwa kehidupan ini. Bagaimana bisa? Dia hadir dalam seluruh kenyataan hidup ini.

Kedua, 'kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang'. Hidup harus hemat. Membuang makanan tidak ubahnya kita mengambil makanan, yang sebenarnya menjadi jatah orang lain. Take what you eat, and eat what you take.

Ketiga, 'Dia ini adalah benar-benar Nabi yang akan datang ke dalam dunia'. Aneka peristiwa kehidupan seharusnya menjadi peringatan bagi kita, bahwa Tuhan itu hadir dalam setiap peristiwa kehidupan kita. Dia membuka mata dan telinga kita.

 

 







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018

Selasa XXX, 26 Oktober 2010