Jumat Pekan Paskah III, 20 April 2018

Kis 9: 1-20  +  Mzm 117  +  Yoh 6: 52-59

 

 

Lectio

Mendengar pengajaran Yesus orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: "Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan."  Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.  Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.  Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.  Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.  Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.  Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya."  Semuanya ini dikatakan Yesus di Kapernaum ketika Ia mengajar di rumah ibadat.

 

Meditatio

'Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan'. Itulah komentar orang-orang yang mendengarkan pengajaran sang Guru, bahwa Dia akan memberi Roti hidup, yang tak lain dan tak bukan, adalah DagingNya sendiri. Gemparlah memang mereka; dan memang amatlah bisa dimengerti kegaduhan mereka mendengar pengajaran itu. Namun Yesus tidak berhenti, karena penolakan umatNya. Semakin beroleh perlawanan, Yesus semakin menyatakan diriNya, bukan karena ingin mendapatkan pengakuan, melainkan karena kehendak Allah yang menyelamatkan umat manusia.  Kata Yesus kepada mereka: 'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu'. Menerima dengan makan daging dan minum darahNya adalah kewajiban bagi setiap orang yang ingin menikmati hidup yang sesungguhnya.   'Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman'.  Hidup yang sesungguhnya itu adalah hidup yang kekal, dan yang tidak dimakan oleh kematian. Hidup kekal adalah hidup yang sesungguhnya, karena memang setiap orang dikembalikan kepada kodratinya yang serupa dengan gambar Allah. Hidup kekal adalah hidup yang tidak dikuasai oleh dosa yang mengakibatkan kematian. Hidup kekal adalah hidup awali manusia yang bersama Allah di taman Eden, sebagaimana digambarkan dalam Kitab Kejadian. Urip ing donyo iki mung mampir ngombe (Jawa) mungkin ungkapan Jawa dapat menambahi betapa pentingnya kita ini mengharapkan hidup yang sesungguhnya.

'Daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman'.  Bagaimana kita memahami penyataan Yesus ini? Apakah kita juga makan daging dan minum darahNya?  'Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia'.  Hidup kekal benar-benar dapat dinikmati seseorang yang menikmati daging dan darahNya, karena memang Kristus sendirilah yang hidup dan bergerak dalam diri orang-orang yang menikmatiNya, sebagaimana yang dirasakan Paulus sendiri bahwa Kristuslah yang hidup dan bergerak dalam dirinya (Gal 2: 20).  'Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku', tegas Yesus.  Menikmati daging dan darah Kristus, bukan hanya menjadi jaminan kehidupan kelak, tetapi membuat hidup kita sekarang ini dan di sini semakin terasa indah dan membahagiakan. Semuanya terjadi karena hanya ada Kristus, tinggal bersama Kristus sendiri. 'Akulah Roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya'. Roti manna yang diterima bangsa Israel dalam perjalanan menuju tanah terjanji memang benar-benar roti tetapi sebatas anugerah Allah, dan tentunya berbeda denga Roti Hidup yang turun dari Surga, yakni Anak Manusia, Kristus Tuhan, yang diberikan kepada setiap orang guna mendapatkan Tanah Terjanji, yakni Surga Mulia.

Yesus sendiri pun akhirnya menyamakan diriNya dengan orang-orang yang selalu menikmati Roti yang diberikanNya; itulah yang didengar Paulus ketika dia mengejar-ngejar para pengikut Kristus di Damsyik, Akulah Yesus yang engkau aniaya (Kis 9: 1-20).

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, Engkaulah Roti yang turun dari Surga, yang memberi kehidupan kekal bagi setiap orang. Ajarilah kami selalu untuk siap sedia menikmati santapan surgawi itu. Amin.

 

Contemplatio :

'Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia'. Kesetiaan kita menikmati tubuh dan darahNya membuat kita satu dengan Dia, maka benarlah kalau kita menyebutNya menerima Komuni Kudus, kita bersatu dengan Kristus yang kudus. Itulah yang didengar dengan telinga sendiri oleh Paulus.  Namun sebaliknya, 'jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu'.

 










Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018