Selasa Pekan Paskah III, 17 April 2018

Kis 7: 51-60  +  Mzm 31  +  Yoh 6: 30-35

 

 

Lectio

Suatu hari orang banyak masih terus bertanya dan bertanya. Kata mereka: 'tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan?  Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga."  Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga.  Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia."  Maka kata mereka kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa."  Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.

 

Meditatio

'Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan?  Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: mereka diberi-Nya makan roti dari sorga', tanya mereka. Mereka meragukan kehebatan sang Guru dari Nazaret. Mereka malah membalik penyataan Yesus. Yesus memang meminta agar mereka percaya kepadaNya, tetapi mereka malah meminta tanda dari Yesus. Sepertinya tanda-tanda yang telah dilakukan Yesus selama ini belum mampu memberi kepuasan kepada mereka. Bagaimana harus percaya Anak Manusia, kalau kehebatan Allah dalam Perjanjian Lama, sebagaimana dialami nenek moyang, tidak ada menandinginya?

'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga.  Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia', sahut Yesus kepada mereka. Namun mengapa Yesus tiba-tiba menyebut-nyebut nama Musa? Padahal mereka semua pun tidak menyebut namanya. Bukankah mereka mengatakan nenek moyang kami diberi-Nya makan roti dari sorga? Bukankah mereka menyebut bahwa yang memberi nenek moyang mereka makanan adalah Allah sendiri? Yesus menegaskan, bahwa Bapalah yang memberikan roti itu.  'Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa', sahut mereka yang juga menginginkan roti yang dikatakan Yesus. Apakah dengan permintaan ini mereka mengakui Tuhan Allah sebagai Bapa dari Anak Manusia yang berada di depan mereka itu? Mereka menginginkan roti yang dikatakan oleh Yesus, karena roti itu bersal dari surga.

'Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi'. Sebuah jawaban yang menegaskan mereka Siapakah Dia yang ada di depan mereka, dan berbicara kepada mereka. Dialah sang Roti yang turun dari surga. Mereka harus tetap bekerja, yakni mereka harus tetap percaya kepada Anak Manusia, bukan hanya dengan mulut tetapi dengan sikap dan tindakan hidup, yakni datang dan mengikuti Dia. Datang dan tinggal bersama sang Empunya kehidupan pasti akan membuat hidup semakin terasa hidup, dan menghantar mereka kepada kehidupan kekal. Dia adalah Roti yang berasal dari surga, karena menjadi kebutuhan yang harus dipernuhi setiap orang untuk menikmati hidup ini. Yesus adalah kebutuhan hidup setiap orang.

Stefanus adalah seorang yang telah menikmati Roti Hidup, maka dengan berani dia menghadapi semua orang yang melawan dirinya. Dengan keyakinan teguh dia sempat berkata: 'sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah' (Kis 7: 56) di hadapan orang-orang yang menghasut dan memfitnah dirinya. Stefanus adalah juga seseorang yang melakukan pekerjaan yang dilakukan Yesus.

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, Engkau sendiri Roti Hidup dari surga yang mengenyangkan dan memberi hidup kekal pada kami. Kiranya kami semakin diteguhkan dalam iman, mengikuti Engkau bukan hanya dengan kata-kata tapi melalui sikap dan perbuatan yang mencerminkan kehadiranMu di dalamnya. Amin

 

Contemplatio :

Pertama, 'Akulah Roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi'. Yesus benar-benar memberi jaminan kepada setiap orang. Dia tidak mengatakan tentang orang lain, atau pun tentang Allah, melainkan Dia berkata-kata tentang diriNya sendiri. Dialah kebutuhan hidup setiap orang. 'Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa'. Apakah kerinduan seperti ini selalu berkumandang dalam hidup kita?

Kedua, ada banyak karunia yang telah kita terima dari Tuhan, tetapi di tengah-tengah kesulitan diri masihkah kita berani-beraninya berkata 'tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu?'.

 

 










Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018

Selasa XXX, 26 Oktober 2010