Selasa Pekan Paskah V, 1 Mei 2018

Kis 14: 19-28  +  Mzm 145  +  Yoh 14: 27-31

 

 

 

Lectio

Suatu hari bersabdalah Yesus: 'damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.  Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku.  Dan sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi.  Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang dan ia tidak berkuasa sedikit pun atas diri-Ku. Tetapi supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku'.

 

Meditatio

'Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu'. Damai yang diberikan dunia pasti berbeda dengan damai yang diberikan Kristus Tuhan sendiri. Damai yang diberikan oleh Kristus minimal sesuai dengan kodrat Allah sendiri yang kekal adanya. Damai dunia amatlah temporal dan dimakan waktu, karena sesuai dengan kemauan manusia; tidaklah demikian dengan damai Allah itu, kekal abadi karena Allah sendiri yang menghendakinya.

Kiranya damai sejahtera yang diberikan Allah semakin kita pahami, bahwa kerinduan akan damaiNya adalah bukti nyata keterpautan diri kepada dan dalam Allah. Bisa saja rasa damai itu secara insani tidak menyenangkan mata dan perasaan, tetapi tidak disangkal sukacita dan damai ilahi tetap mengalir dalam diri kita. Damai Kristus bukanlah semata-mata rasa senang insani dan kepuasan jiwa, sebagaimana dibayangkan banyak orang. Damai illahi adalah sukacita jiwa dan ketenangan jiwa, walau mungkin harus memanggul salibNya yang berat. Paulus beserta para murid lain dalam pewartaannya di Ikonium juga mengingatkan hal ini. 'Mereka tak henti-hentinya menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman, dan mengatakan, bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara' (Kis 14: 22).

'Janganlah gelisah dan gentar hatimu', tegas Yesus. Gentar dan gelisah karena apa? Yesus mengetahui isi hati dan budi para muridNya.  'Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu'. Untuk apa Yesus datang kembali? Yesus menegaskan sebagaimana kita renungkan beberapa hari lalu, bahwa Dia akan datang untuk mengajak kita semua, agar di mana Dia berada kita pun ada bersamaNya. Allah menghendaki semua orang beroleh selamat. 'Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku', tambah Yesus. Yesus pergi bukan untuk meninggalkan umatNya, melainkan menyediakan tempat kekal bagi mereka, bagi kita semua. Bapa lebih besar daripadaNya, karena memang Dialah yang mengutus Anak Manusia. Dialah sang Empunya RumahNya yang kudus, yang mempunyai banyak tempat untuk orang-orang yang percaya kepadaNya.

'Sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi'. Semuanya dikatakan Yesus sekarang ini, karena semuanya itu terjadi tidak akan mengikuti alur pikiran dan konsep insani. Allah mempunyai program tersendiri yang sulit dimengerti umatNya.  'Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang dan ia tidak berkuasa sedikit pun atas diri-Ku'. Yang berkuasa atas diriNya hanya Bapa yang mengutusNya. Tidak ada kuasa manapun yang berkuasa atas diriNya, kalau itu tidak datang dari Atas (Yoh 19: 11a). Dunia memang tidak berkuasa atas Anak Manusia, tetapi Anak Manusia mau merundukkan diri dalam urutan waktu dan aturan tempat. Semuanya dilakukan secara sengaja, karena Dia semenjak semula ingin menjadi manusia dan tinggal di tengah-tengah umatNya. Kehadiran Tuhan Allah yang mengikuti aliran ruang dan waktu menandakan kerendahan hati seorang Allah yang mau menjadi manusia. Semuanya itu dilakukan, 'supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku'. Anak Manusia turun ke dunia hanya karena kemauan dan kehendak Allah.

Para murid dalam karya pewartaannya memberitakan benar-benar kasih Allah kepada umatNya. Dalam setiap pertemuan mereka 'menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka, dan bahwa Ia telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada iman' (Kis 14: 27).

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kami bersyukur di saat menghadapi berbagai hal dan tantangan dalam hidup, biarpun kadang berat tapi kami mampu mengatasinya dan tetap sukacita di dalamnya, karena Kau menyertai kami. Damai sejahtera yang Kau tinggalkan yang memampukan kami. Terima kasih ya Yesus. Amin

 

Contemplatio

Pertama, 'damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu'. Kehadiran Tuhan ditandai oleh damai sejahtera dan sukacita, yang tentunya berbeda dengan kemapanan sosio-politis, yang seringkali memadamkan sukacita dan kebahagiaan umat manusia yang sebenarnya.

Kedua, 'kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu'. Dia pergi karena hendak menyiapkan tempat bagi kita. Dia pergi karena memang Dia tidak selamanya mengikatkan diri dalam dunia. Dia akan datang kembali dengan membawa mahkota mulia demi umatNya.

 










Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Pesta Maria mengunjungi Elizabet