Selasa Pekan Biasa VII, 22 Mei 2018

Yak 4: 1-10 + Mzm 55+ Mrk 9: 30-37

 

 

Lectio

Suatu hari Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang; sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit."  Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya.

Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?"  Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka.  Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya."  Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka:  "Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku."

 

Meditatio

'Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit'. Inilah spiritualitas hidup Yesus. Yesus tahu benar akan segala yang terjadi pada diriNya, karena memang Dia menjalankan tugas perutusan yang diemban dari Bapa di surga, yang mengutusNya. Aku datang hanya untuk melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku. Yesus menyampaikan semuanya ini, agar para murid mengerti dan paham akan segala yang hendak terjadi pada diriNya. Yesus akan menderita, mati dan bangkit; tetapi bagaimana semuanya itu harus terjadi, dan mengapa harus terjadi. Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya. Selain apa itu kebangkitan, yang diperkirakan akan terjadi pada akhir jaman, tentu mereka sulit memahami mengapa tidak dihindari semuanya akan terjadi, entah derita atau kematian, kalau memang sudah diketahui jauh-jauh sebelumnya.

Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: 'apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?', tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka. Yesus bertanya hanya sekedar memancing reaksi mereka, karena memang Dia sudah tahu segala isi hati umatNya. Namun tak jujur juga mereka ini; atau karena malu mereka ini? Bukankah baru saja berbicara tentang penderitaan dan kematian, malah mereka berbicara tentang kedudukan dan kuasa?

Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: 'jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya'. Orang yang terdahulu adalah dia yang dihormati dan menjadi contoh bagi yang lain, tetapi bagaimana orang dapat menghormati dia, kalau dia tidak pernah menampilkan dirinya dalam kebaikan dan tidak menyenangkan hati orang lain? Menjadi yang terdahulu, bukanlah soal urutan, melainkan seseorang yang siap menjadi sesama bagi orang lain, melayani mereka semua.

'Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku', kata Yesus sambil memeluk anak kecil, 'ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku'. Kebanggaan melayani seseorang, bukan berdasarkan jabatan seseorang yang kita layani, malahan seseorang yang kecil, sederhana dalam tidak berdaya, yang memang memerlukan uluran tangan kita, mereka itulah yang menjadi kebanggaan kita dapat melayani. Mereka yang memerlukan uluran tangan kita itulah yang harus kita utamakan dalam karya pelayanan kita ini. Dengan mau melayani mereka itu berarti kita mengamini sabda dan kehendak Tuhan, kita merendahkan diri di hadapanNya, yang tak jarang hadir dalam diri sesama kita. Namun barangsiapa merendahkan diri di hadapan Tuhan, akan ditinggikan (Yak 4: 10).

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, beri kami keberanian untuk melayani sesama, terutama mereka yang kecil dan lemah yang mencerminkan kehadiranMu di dalamnya. Serta kamipun dapat menikmatinya dengan penuh sukacita. Amin

 

Contemplatio

Pertama, ''Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit'. Inilah spiritualitas hidup Yesus. Mengikuti Yesus berarti taat kepada kehendak Tuhan sebagaimana yang dihayati oleh Yesus.

Kedua, 'jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya'. Orang yang terdahulu dan terkemuka, dan patut kita teladani adalah mereka yang berani melayani sesamanya. Merekalah orang-orang yang terpandang dan perlu kita hormati.

Ketiga, 'barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku'. Melayani orang yang kecil dan tak berdaya adalah melayani Kristus Tuhan sendiri, sejauh kita lakukan demi Kristus tentunya. Kita nikmati kehadiranNya dalam diri sesama kita.

 

 








Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018