Senin Pekan Biasa VII, 21 Mei 2018

Yak 3: 13-18 + Mzm 19 + Mrk 9: 14-29

 

 

Lectio

Suatu hari ketika Yesus, Petrus, Yakobus dan Yohanes kembali pada murid-murid lain, mereka melihat orang banyak mengerumuni murid-murid itu, dan beberapa ahli Taurat sedang mempersoalkan sesuatu dengan mereka.  Pada waktu orang banyak itu melihat Yesus, tercenganglah mereka semua dan bergegas menyambut Dia.  Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Apa yang kamu persoalkan dengan mereka?"  Kata seorang dari orang banyak itu: "Guru, anakku ini kubawa kepada-Mu, karena ia kerasukan roh yang membisukan dia.  Dan setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah; lalu mulutnya berbusa, giginya bekertakan dan tubuhnya menjadi kejang. Aku sudah meminta kepada murid-murid-Mu, supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat."

Maka kata Yesus kepada mereka: "Hai kamu angkatan yang tidak percaya, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!"  Lalu mereka membawanya kepada-Nya. Waktu roh itu melihat Yesus, anak itu segera digoncang-goncangnya, dan anak itu terpelanting ke tanah dan terguling-guling, sedang mulutnya berbusa.  Lalu Yesus bertanya kepada ayah anak itu: "Sudah berapa lama ia mengalami ini?" Jawabnya: "Sejak masa kecilnya.  Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api ataupun ke dalam air untuk membinasakannya. Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami." Jawab Yesus: "Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!"  Segera ayah anak itu berteriak: "Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!"  Ketika Yesus melihat orang banyak makin datang berkerumun, Ia menegor roh jahat itu dengan keras, kata-Nya: "Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau, keluarlah dari pada anak ini dan jangan memasukinya lagi!"  Lalu keluarlah roh itu sambil berteriak dan menggoncang-goncang anak itu dengan hebatnya. Anak itu kelihatannya seperti orang mati, sehingga banyak orang yang berkata: "Ia sudah mati."  Tetapi Yesus memegang tangan anak itu dan membangunkannya, lalu ia bangkit sendiri.

Ketika Yesus sudah di rumah, dan murid-murid-Nya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka: "Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?"  Jawab-Nya kepada mereka: "Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa."

 

Meditatio

Suatu hari ketika Yesus, Petrus, Yakobus dan Yohanes kembali pada murid-murid lain, mereka melihat orang banyak mengerumuni murid-murid itu, dan beberapa ahli Taurat sedang mempersoalkan sesuatu dengan mereka.  Pada waktu orang banyak itu melihat Yesus, tercenganglah mereka semua dan bergegas menyambut Dia. Sepertinya kedatangan Yesus begitu mendadak, dan tanpa pemberitahuan sebelumnya.  Lalu Yesus bertanya kepada mereka: 'apa yang kamu persoalkan dengan mereka?'.  Kata seorang dari orang banyak itu: 'Guru, anakku ini kubawa kepada-Mu, karena ia kerasukan roh yang membisukan dia.  Dan setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah; lalu mulutnya berbusa, giginya bekertakan dan tubuhnya menjadi kejang. Aku sudah meminta kepada murid-murid-Mu, supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat'.

Maka kata Yesus kepada mereka: 'hai kamu angkatan yang tidak percaya, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!'. Yesus menyinggung ketidakpercayaan mereka. Ketidakpercayaan yang bagaimana yang dimaksudkan Yesus? Bukankah mereka percaya kepadaNya, dan berhubung tidak menjumpaiNya, maka mereka meminta para muridNya?  Lalu mereka membawanya kepada-Nya.

Waktu roh itu melihat Yesus, anak itu segera digoncang-goncangnya, dan anak itu terpelanting ke tanah dan terguling-guling, sedang mulutnya berbusa. Kuasa kegelapan tidak bertahan menghadapi sang Cahaya abadi. Lalu Yesus bertanya kepada ayah anak itu: 'sudah berapa lama ia mengalami ini?'. Jawabnya: 'sejak masa kecilnya.  Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api ataupun ke dalam air untuk membinasakannya'. Mengapa Yesus banyak bertanya sebelum menyembuhkan dia? Bukankah biasanya tanpa banyak komentar, langsung menyembuhkan seseorang yang meminta bantuanNya?

'Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami'. Jawab Yesus: 'katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!'.  Segera ayah anak itu berteriak: 'aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!'. Ternyata kepercayaan orangtua anak inilah yang mengganggu segala yang baik akan terjadi pada anak itu. Dia bukan saja tidak percaya kepada para murid, ternyata juga kepada Yesus sendiri. Dia ingin mendapatkan sesuatu yang indah, tetapi tidak mempercayai bahwa segalanya bisa terjadi dalam nama Yesus Tuhan. Dia tidak mengenal Tuhan sang Empunya kehidupan. Kepercayaan membuat hidup ini lebih indah dan menyenangkan.  Ketika Yesus melihat orang banyak makin datang berkerumun, Ia menegor roh jahat itu dengan keras, kata-Nya: 'hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau, keluarlah dari pada anak ini dan jangan memasukinya lagi!'. Yesus berkuasa atas seluruh kehidupan ini.  Lalu keluarlah roh itu sambil berteriak dan menggoncang-goncang anak itu dengan hebatnya. Anak itu kelihatannya seperti orang mati, sehingga banyak orang yang berkata: 'ia sudah mati'.  Tetapi Yesus memegang tangan anak itu dan membangunkannya, lalu ia bangkit sendiri.

Ketika Yesus sudah di rumah, dan murid-muridNya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka: 'mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?'.  Jawab-Nya kepada mereka: 'jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa'. Sebuah teguran halus, tetapi begitu telak menampar para muridNya, yang kurang berdoa. Doa dan kepercayaan memang tidak bisa dipisahkan. Tanpa kepercayaan, doa-doa kita juga akan menjadi sia-sia, bahkan doa akan melambung ke atas entah ke mana. Demikian pula sebaliknya, kepercayaan sejati terungkap selalu dalam kesetiaan seseorang berkanjang dalam doa. Kepercayaan yang mengalir dalam doa-doa tentunya akan mendatangkan rahmat dan berkat dari Tuhan, yang perlu dibagikan kepada sesama, orang-orang yang ada di sekitar kita dalam sikap 'pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik' (Yak 3: 17)

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, ajarilah kami untuk selalu berdoa dan percaya kepadaMu, bahwa hanya dalam namaMu segalanya dapat terjadi dan ada keselamatan. Ampuni kami ya Yesus, yang kadang tidak mengandalkan Engkau. Amin

 

Contemplatio

Pertama, 'jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami'. Sikap mendua dari seorang pribadi. Jika kita percaya kepada Tuhan Yesus, kita pasti akan mengandalkan Dia dalam segala sesuatu. Dalam Dia, segalanya bisa terjadi.

Kedua, 'jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa'. Hendaknya kita rajin berdoa dan berdoa. Mari kita selalu berkanjang dalam doa. Doa berarti selalu menyapa Tuhan, dan kita sekaligus mendengarkan sapaanNya.

 

 








Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018

Selasa XXX, 26 Oktober 2010