Jumat Pekan Biasa XI, 22 Juni 2018

2Raj 11: 9-20 + Mzm 132 + Mat 6: 19-23

 

 

 

Lectio

Bersabdalah Yesus kepada para muridNya: 'janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.  Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.  Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.  Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu'.

 

Meditatio

'Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.  Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya'. Yesus menggunakan bahasa perumpamaan, agar para muridNya tetap menaruh perhatian kepada yang di atas, di mana Tuhan Allah bertakhta (Kol 3: 2).  'Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada'. Sebuah penyataan yang benar-benar meneguhkan. Kesadaran diri, bahwa kita mempunyai harta di surga, dan terlebih kita ingat sungguh, bahwa warisan kita yang terindah tersimpan di surga (Mzm 16: 5), akan mampu mengarahkan perhatian kita selalu kepadaNya. Ada yang terindah dan mulia yang tersimpan di surga. Dia terindah, karena memang Dia menyelamatkan kita seluruh umat manusia, dan hanya karena Dia beroleh keselamatan. Kiranya sungguh layak setiap orang menaruh perhatian kepada warisan abadi yang tersimpan di surga.

Keberanian kita berdoa, keberanian mendengarkan sabda Tuhan, dan juga tentunya melakukan kebajikan sebagaimana dikehendaki Tuhan Allah sendiri, tak ubahnya kita menaruh harta di surga. Mengapa? Karena semuanya itu kita lakukan dalam dan demi nama Tuhan, sang Empunya kehidupan. Perhatian kita akan aneka kegiatan ini memang memberi bekal secara istimewa kepada kita. Bukankah Yesus sendiri mengatakan, bahwa segala yang kita kerjakan dalam nama Tuhan itu berarti kita melakukan sesuatu yang tak akan diambil oleh siapapun, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Maria, saudari Marta, keluarga Betania? (Luk 10). Menaruh harta di surga memang benar-benar mengajak kita untuk tetap bekerja dan bekerja, bahkan untuk mendapatkan harta benda, tetapi tidak tenggelam dalam segala kesibukan diri, melainkan tetap menaruh perhatian kepada Dia yang selalu memperhatikan kita. Segalanya akan berlalu, tetapi sabdaNya tak akan berlalu, kiranya tetap menjadi konsep hidup kita.

'Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu'. Tak dapat disangkal memang mata menjadi saluran diri seseorang dengan dunia luar. Ini pandangan klasik, sebab dengan semua kemampuan inderawi dan akal budi, kita dapat berkomunikasi lebih akrab dengan dan bersama dunia. Ada mata membuat seseorang semakin mampu menikmati dunia apa adanya. Kejernihan mata memampukan seseorang melihat dunia apa adanya, bahkan terasa indah adanya. Sebaliknya, 'jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu'. Adanya baiknya kita melihat segala sesuatu baik adanya, dan hanya mata hati yang dapat melihatnya. Apalah artinya mata, kalau memang mata hati kita menutup diri akan keindahan yang berasal daripadaNya.

 

Oratio

Ya Yesus, mampukanlah kami melihat dengan mata hati yang jernih akan segalanya, bahwa yang terpenting dalam hidup kami adalah melakukan kehendakMu, menabung di surga sebagai bekal hidup kami. Amin

 

Contemplatio

Pertama, 'di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada'. Inilah kebenaran sosiologis, tapi juga kebenaran iman. Kalau Yesus menjadi andalan hidup, pasti kita akan selalu terarah kepadaNya.

Kedua, 'mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu'. Apalah artinya mata terbuka, kalau memang mata hati menutup diri. Mata hatilah yang adalah mata kehidupan yang sesungguhnya.

 








Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018