Kamis Pekan Biasa IX, 7 Juni 2018

2Tim 2: 8-15 + Mzm 25 + Mrk 12: 28-34

 

 

Lectio

Suatu hari seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: "Hukum manakah yang paling utama?"  Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.  Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.  Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini."  Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: "Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia.  Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan."  Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" Dan seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.

 

Meditatio

Suatu hari seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya.  Entah apa maksud orang itu datang kepada Yesus. Apa juga hendak menjerat sang Guru? Bukankah mereka merasa sepaham dengan Yesus dengan mengakui adanya kebangkitan? Dia bukan orang yang bodoh. Dia seorang ahli Taurat. Dia bertanya kepada Yesus: 'hukum manakah yang paling utama?'.  Apakah dia tidak tahu hukum utama sehingga bertanya demikian? Bukankah dia seorang ahli kitab suci?  Jawab Yesus tanpa membalik pertanyaan itu sama sekali kepada orang itu: 'hukum yang terutama ialah: dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu'. Mencintai Tuhan Allah adalah sebuah kewajiban bagi setiap orang. Kiranya seluruh perhatian hidup ini kita arahkan kepada Tuhan Allah, sang Empunya kehidupan. Dia itu Esa, sebagaimana disabdakanNya sendiri, 'bahwa tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain' (Yes 45: 6). Mengasihi Tuhan bukanlah sekedar tambahan atau selingan di tengah-tengah kesibukan kita sehari-hari, malahan sebaliknya hendaknya menjadi perhatian pertama dan utama. Barangsiapa mengasihi orangtua, anak-anak dan segala harta bendanya lebih daripadaKu, dia tidak layak menjadi muridKu. Yesus Tuhan meminta dengan tegas, agar kita menaruh perhatian utama kita hanya kepada Tuhan Allah sang Empunya kehidupan.  

'Hukum yang kedua ialah: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri'. Kita diajak mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Sebab memang tidak ada orang yang membenci dirinya sendiri, kecuali diri seseorang yang sedang terganggu kesehatannya. Setiap orang ingin selalu sehat. Setiap orang ingin selalu berada dalam posisi mandiri. Dia tidak berkekurangan, malahan dapat melakukan segala sesuatu dengan baik adanya. Perhatian penuh terhadap diri sendiri itulah yang hendaknya kita lakukan juga terhadap setiap orang, terlebih yang ada di sekitar kita. Sesama seharusnya menjadi bagian hidup kita.

'Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini', tegas Yesus. Hukum cinta kepada Tuhan dan sesama adalah kewajiban bagi setiap orang. Kedua hukum ini amat mendasar dalam hidup setiap orang. Mungkin kita dapat melakukan segala sesuatu, tetapi bila tidak didasari oleh cinta kasih sepertinya semuanya itu adalah kebohongan. Seandainya aku dapat mengurbankan diriku untuk dibakar, dan dapat berkata-kata seperti malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, semuanya itu bagaikan gong yang berkumandang (1Kor 13:1). Semuanya sia-sia belaka. Segala sesuatu yang kita lakukan tanpa cinta kasih, berarti kita lakukan semuanya itu di luar nama Allah, yang adalah Kasih.

'Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan', sahut orang itu. Dia ternyata tahu apa yang menjadi hukum pertama dan utama dalam hidup ini. Apakah pertanyaan orang Farisi ini sebenarnya hendak meminta peneguhan dari sang Ahli kehidupan? Apakah dengan jawaban itu dia benar-benar mengamini dengan hatinya apa yang dikatakan Yesus. Itu semua perkiraan kita. Namun Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: 'engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!'. Yesus yang tahu isi hati dan budi umatNya memuji bahagia orang itu. Dia menjawab dengan jujur apa yang disabdakan Yesus kepadanya. Dia mengamini dengan hati, walau mungkin dia belum bisa melakukan semuanya secara sempurna. Yesus tidak memperhitungkan kelemahan dan keterbatasan umat. Yesus amat terbuka menerima setiap orang yang bertobat dan mau mendekatkan diri kepadaNya.

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, bantulah kami agar mampu mengasihi sesama dengan tulus hati, tanpa memandang siapakah mereka seperti yang Engkau ajarkan kepada kami. Agar kamipun dapat masuk dalam kerajaan Allah. Amin

 

Contemplatio

Pertama, 'kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu'. Kita diminta menaruh hati sepenuhnya kepada Tuhan Allah, karena memang Dialah sang Empunya kehidupan, dan hanya dalam Dia ada keselamatan. Dia akan selalu menyertai umatNya, terlebih yang mengandalkan kekuatan daripadaNya.

Kedua, 'kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri'. Kita pasti mengasihi diri sendiri, demikian juga kasih kita terhadap orang lain. Kalau kita tidak mau disakiti oleh siapapun, demikian juga hendaknya kita juga tidak menyakiti sesama.

Ketiga, 'engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah'. Betapa indahnya kata-kata itu. Betapa bahagianya kalau kata-kata itu disampaikan kepada kita. Mari kita amini sabda dan kehendak Tuhan Yesus.

 








Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018

Selasa XXX, 26 Oktober 2010