Kamis Pekan Biasa X, 14 Juni 2018

1Raj 18: 41-46 + Mzm 65 + Mat 5: 20-26

 

 

Lectio

Suatu hari Yesus berkata kepada para muridNya: 'Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas'.

 

Meditatio

'Aku berkata kepadamu', tegas Yesus kepada para muridNya, pertama 'jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga'. Sebuah permintaan yang relatif tinggi dan berat. Para ahli Taurat dan kaum Farisi, orang-orang terkemuka dan ditokohkan itu, malah menjadi ukuran minimal dalam mengejar kekudusan hidup. Memang Yesus pernah mengingatkan para muridNya, agar mereka mentaati segala yang diajarkan para ahli Taurat, tetapi hendaknya tidak mengikuti perbuatan mereka. Mereka amat munafik dan banyak melakukan kejahatan. Melebihi mereka berarti sebuah ajakan agar para murid tidak bersikap munafik dalam keseharian mereka, malah terus-menerus berbuat baik bagi sesamanya.

Kedua, 'kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum, tetapi Aku berkata kepadamu: setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: kafir, harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: jahil, harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala'. Mengapa? Karena kemarahan yang berkepanjangan, bahkan menenggelamkan orang di dalamnya, akan membangkitkan dosa yang lebih besar lagi. Orang marah pun harus dihukum, agar emosi jiwa itu tidak berkelanjutan. Demikian juga kebiasaan menuduh orang lain bersalah dengan mengatakan jahil dana kafir, haruslah mendapatkan hukuman, agar kita berani memandang sesama kita itu baik adanya, positif thinking, yang memang sama-sama citra Allah; lagipula kebiasaan berkata-kata kasar sarkastis merusak relasi antar sesama. Keberanian mengamini kehendakNya ini berarti kita ambil bagian dalam menyempurnakan kitab-kitab para nabi dan hukum Taurat.

Ketiga, 'jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas'. Benarlah apa yang pernah dikatakan oleh seorang pemazmur: 'ya Tuhan, Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya. Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah' (Mzm 51: 18-19). Persembahan kepada Tuhan memang tidaklah ditentukan oleh bentuk dan besar persembahan, melainkan kemauan tobat seseorang. Mengapa kita mempersembahkan hasil bumi dan ternak, bukankah seluruh ciptaan adalah milik Allah? Hati yang damai akan semakin membuat persembahan yang kita hunjukkan itu melambung tinggi ke hadapan takhtaNya yang kudus.

 

Oratio

Ya Yesus, Engkau mengajarkan kasih kepada kami, kiranya kamipun mampu berbagi kasih terhadap sesama di sekeliling kami, tanpa membedakan mereka, dan berani memaafkan sesama yang bersalah terhadap kami. Sehingga sukacita bertahta dalam hati kami dan hidup ini menjadi penuh berkat bagi sesama. Amin

 

Contemplatio

Pertama, 'jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga'. Semakin mapan hidup seseorang seharusnya semakin bertanggungjawab hidupnya dan selalu penuh syukur, tetapi sepertinya tidaklah demikian dengan kaum Farisi dan para ahli Taurat. Yesus meminta para murid, kita semua, benar-benar menjadi sesama bagi orang lain.

Kedua, 'kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum, tetapi Aku berkata kepadamu: setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum'. Marah adalah akar atau bibit dosa, maka semenjak awal setiap orang harus berani mencabut akar-akar dosa atau bibit-bibit dosa itu dari hidupnya.

Ketiga, 'jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu'. Persembahan kepada Allah adalah jiwa yang menyesal dan penuh tobat; bila semua itu dilakukan, maka pulanglah dia dalam damai Tuhan.








Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018

Selasa XXX, 26 Oktober 2010