Kamis Pekan Biasa XII, 28 Juni 2018

2Raj 24: 8-17 + Mzm 79 + Mat 7:  21-29

 

 

Lectio

Dalam pengajaranNya Yesus berkata: 'bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.  Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?  Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!

Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.  Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.  Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.  Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya'.

Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.

 

Meditatio

'Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga', tegas Yesus. Ada perbedaan jelas antara berseru-seru kepada Tuhan dan melakukan kehendakNya. Sepertinya ada orang suka berseru-seru kepada Tuhan, tetapi tidak melaksanakan kehendakNya. Melakukan kehendak Tuhan Bapa di surga memberi jaminan pasti untuk masuk dalam Kerajaan surga, tidaklah demikian kalau kita hanya berseru-seru namaNya. Yesus kemudian menambahkan: 'pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?  Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!'. Apakah mereka mengaku-ngaku melaksanakan kehendak Tuhan? Tak dapat disangkal, mereka mempunyai banyak anugerah ilahi; tetapi pelbagai anugerah yang diterima seseorang tidak menjadi jaminan dia menikmati Kerajaan Surga. Karena pelbagai anugerah dilimpahkan kepada setiap orang agar mampu memperbaharui diri, dan juga untuk pembangunan umat Allah. Bukankah Yesus juga menegaskan, bahwa Dia sang Empunya kehidupan itu menurunkan hujan bagi semua orang, baik yang benar atau pun yang jahat. Dengan pelbagai anugerahNya setiap orang seharusnya membawa kabar sukacita dan keselamatan bagi sesamanya, tetapi sepertinya tidak mereka lakukan sebagaimana mestinya. Terhadap mereka, Yesus menegur keras mereka dan mengusir dari realitas keselamatan.

'Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu'. Penegasan Yesus ini benar-benar menyatakan, bahwasannya sabda dan kehendakNya memang mengarahkan setiap orang untuk mendapatkan kemuliaan abadi, tetapi juga ternyata menjadi bekal dan perlindungan bagi mereka. Mereka bagaikan mendirikan rumah di atas batu. Kalaupun 'turun hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu'. Sebaliknya 'setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir, kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya', walau pun mereka mempunyai banyak anugerah-anugerahNya. Pengalaman raja Yoyakim (2Raj 24: 8-17) menjadi gambaran orang-orang yang mempunyai banyak anugerah Tuhan tetapi dibiarkan mengalami kekalahan dan kehancuran, karena memang mereka tidak mengamini kehendak Tuhan dan banyak melakukan kejahatan terhadap sesamanya.

Sabda Tuhan tidaklah hanya didengarkan, tetapi juga harus dihayati dalam hidup sehari-hari. Kita diminta tidak hanya menjadi pendengar, yang memang sering malah menipu diri, tetapi juga sebagai pelaksana-pelaksana sabda.  

Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka. Karena apa? Karena Yesus adalah Sabda Tuhan sendiri yang menjadi manusia dan tinggal di tengah-tengah umatNya (Yoh 1)

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, jadikanlah kami pelaku sabdaMu yang mampu mendatangkan  berkat bagi orang lain. Dan apa yang kami lakukan ini sungguh berkenan di hadapanMu serta menjadi bekal kami menuju kemuliaan kekal. Terima kasih ya Yesus untuk semua anugerahMu dalam hidup kami. Amin

 

Contemplatio

'Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu'. Sabda Tuhan membuat setiap orang hidup aman damai dan terlindungi dalam perjalanan hidupnya ini, sekaligus menjadi jaminan bagi mereka untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga, dan bukannya mereka yang hanya suka berseru: Tuhan, Tuhan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018