Minggu Pekan Biasa X, 10 Juni 2018

Kej 3: 9-15 + 2Kor 4-18 + Mrk 3: 20-35

 

 

Lectio

Pada suatu kali Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makan pun mereka tidak dapat. Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi. Dan ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata: "Ia kerasukan Beelzebul," dan: "Dengan penghulu setan Ia mengusir setan." Yesus memanggil mereka, lalu berkata kepada mereka dalam perumpamaan: "Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis? Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan, dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan. Demikianlah juga kalau Iblis berontak melawan dirinya sendiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, melainkan sudahlah tiba kesudahannya. Tetapi tidak seorang pun dapat memasuki rumah seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu. Sesudah itu barulah dapat ia merampok rumah itu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semua dosa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni, ya, semua hujat yang mereka ucapkan. Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal." Ia berkata demikian karena mereka katakan bahwa Ia kerasukan roh jahat.

Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia. Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya: "Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar, dan berusaha menemui Engkau." Jawab Yesus kepada mereka: "Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?" Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata: "Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku."

 

Meditatio

Pada suatu kali Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makan pun mereka tidak dapat. Mereka sepertinya banyak yang datang dan pergi, dan semua ingin segera mendapatkan pelayanan. Mereka sepertinya tidak membiarkan Yesus untuk sejenak menarik nafas, beristirahat. Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi. Entah alasan apa mereka segera datang hendak menjumpai Yesus? Apakah mereka begitu percaya akan hoax yang berkembang pada waktu itu? Orang baik tidak selalu mendapatkan senyuman dan pujian, dan itulah yang dialami Yesus sendiri; tetapi tidak akan dialami oleh mereka yang selalu tebar pesona dan mencari pujian manusia. Tidak dapat disangkal, ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata: 'Ia kerasukan Beelzebul, dan dengan penghulu setan Ia mengusir setan'. Mereka tidak berkumpul dan mendengarkan Yesus setiap hari, malah berkata-kata seperti itu. Itulah yang seringkali terjadi memang: banyak orang tidak mengalami tetapi tidak berkata-kata tentang apa yang sesungguhnya. Kecenderungan insani yang jahat begitu menyelimuti banyak orang, terlebih mereka berseberangan pandangan. Itulah yang sering terjadi dalam dunia politik, yang hanya mengejar kekuasaan dengan politik populis.

Menanggapi celotehan semacam itu, Yesus memanggil mereka, lalu berkata kepada mereka dalam perumpamaan: 'bagaimana iblis dapat mengusir iblis? Masakan jeruk makan jeruk? Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan, dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan. Demikianlah juga kalau iblis berontak melawan dirinya sendiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, melainkan sudahlah tiba kesudahannya'. Yesus berbicara tentang realitas kehidupan, tentang nilai kebersamaan hidup. Egoisme diri merusak kebersamaan hidup. 'Tetapi tidak seorang pun dapat memasuki rumah seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu. Sesudah itu barulah dapat ia merampok rumah itu', tegas Yesus. Yesus tidak langsung melawan pendapat dan anggapan mereka. Apakah Yesus hendak mengatakan bahwasannya kalau diriNya dapat mengalahkan kuasa beezebul, maka diriNya lebih mampu dan berkuasa dari yang dikalahkanNya; anak manusia lebih berkuasa atas kuasa kegelapan yang dikalahkanNya itu?

'Aku berkata kepadamu: sesungguhnya semua dosa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni, ya, semua hujat yang mereka ucapkan. Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal'. Menyamakan diri dengan Allah berarti seseorang masih berkata-kata tentang dirinya, sebaiknya seseorang yang menolak Allah, yang adalah Roh yang kudus itu, menolak Yesus yang selalu hidup dalam Roh Bapa sendiri yang mengutusNya itu, yakni Roh Kudus, berarti menolak keselamatan, karena memana Allah itu sendiri adalah kasih dan keselamatan. Dengan berkata dan berpandangan, bahwa Ia kerasukan roh jahat berarti melawan dan meniadakan Allah, karena memang Yesus adalah Allah yang hidup. Dosa yang tak terampuni adalah dosa yang meniadakan Allah, menyebut Roh Kudus adalah roh jahat.

Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia, karena memang ada orang banyak duduk mengelilingi Dia. Bagaimana memang mereka akan makan, kalau mereka terus mengelilingiNya, dan orang yang datang dan pergi terus bergantian, bahkan bertambah satu demi satu? 'Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?'. Sebuah jawaban yang amat asing dan tidak mengenakkan mungkin bagi orang-orang yang mendengar saat itu, ketika disampaikan: 'lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar, dan berusaha menemui Engkau'. Apakah memang Yesus menolak mereka, keluargaNya? Apakah Yesus sudah lupa daratan? Sambil melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya, Yesus berkata: 'ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku'. Persaudaraan itu tidaklah dibatasi oleh keluarga atau pun wilayah di mana seseorang berada, melainkan seluruh umat adalah satu keluarga, Karena memang kita adalah satu Bapa yang esa (Mat 23: 9), dan Dialah yang ada di surge, sang Empunya kehidupan ini. Barangsiapa melakukan kehendak Tuhan Allah, maka tidak akan pernah saling berebut dan menghancurkan satu sama lain. Seseorang yang merasakan kasih Tuhan dan mentaati kemauan dan kehendak Tuhan pasti akan saling meneguhkan satu sama lain.

Kalau benar-benar sadar akan Bapa yang Esa adalah Empunya kehidupan, maka kita tidak akan risau dengan adanya aneka perbedaan antar saudara yang satu dengan lainnya; bahkan tidak ada lagi nafsu ingin memiliki dan menguasai milik orang lain, sebagaimana digambarkan dalam bacaan pertama hari ini (Kej 3: 9-15). Mengapa? Sebab kita milik Tuhan, dan kita menikmati belaskasihNya, dan itulah yang menyatukan kita. Segala anugerah Tuhan pun bersifat sementara, yang semuanya memang menjadi bekal dalam perziarahan hidup ini. 'Kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal' (2Kor 4: 18). Kita yakin bahwa Tuhan selalu memperhatikan kita umatNya, dan hanya pada Tuhanlah ada kasih setia, dan penebusan berlimpah.

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kiranya sabdaMu memperteguh semangat persaudaraan diantara kami, saling mengasihi satu sama lain dengan sesama di lingkungan dan sekitar kami sebagai satu saudara di dalam Engkau. Amin

 

Contemplatio

Pertama, 'ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku'. Persaudaraan itu tidaklah sebatas keluarga, karena memang kita mempunyai Bapa yang esa, Dialah sang Empunya kehidupan.

Kedua, 'kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal' (2Kor 4: 18). Persaudaraan keluarga pun sementara, sebaliknya persaudaraan dalam Tuhan kekal abadi, sebab baik hidup atau mati kita ini milik Tuhan.

 

 








Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Pesta Maria mengunjungi Elizabet

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis