Sabtu Pekan Biasa VIII, 9 Juni 2018

2Tim 4: 1-18 + Mzm 71 + Mrk 12: 38-44

 

 

Lectio

Pada suatu kali dalam pengajaran-Nya Yesus berkata: "Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan, yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat."

Keesok harinya Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit.  Maka dipanggil-Nya murid-muridNya dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.  Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya."

 

Meditatio

Pada suatu kali dalam pengajaran-Nya Yesus berkata: 'hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan, yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang'. Yesus meminta para muridNya untuk berhati-hati dan waspada terhadap para ahli Taurat. Karena mereka sangat munafik. Mereka suka tebar-pesona di mana-mana, bahkan mengelabui umat yang seharusnya dituntun dan dibimbingnya. Mereka malah tak segan-segan memeras pada janda dengan mengambil paksa rumah-rumah orang-orang, yang seharusnya mendapatkan belas kasihan itu. Mereka seharusnya bersikap dan bertindak baik dan hormat. Bukankah mereka itu telah menduduki kursi Musa? Mereka itu kaum munafik. Sungguh, 'mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat'. Kemunafikan mendapatkan hukuman dari Tuhan Allah sang Empunya kehidupan, sebab mereka tidak menaruh hormat terhadap sesama, malah membinasakan sesama yang seharusnya mereka layani. Tidak dapat disangkal, pasti mereka pun juga mendapatkan upah dari orang-orang yang melihat dan terkesan pada mereka (bdk. Mat 6), tetapi cukupkah itu semua bagi mereka? Tidak adakah keinginan mereka mendapatkan upah dari Tuhan?

Keesok harinya Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Jam berapa Yesus sedang duduk di dalam bait Allah, tidak diceritakan memang. Demikian juga sudah berapa lama Dia duduk-duduk di situ. Dia mengamati dan mengamati segala tindak tanduk umatNya. Apakah tidak ada orang yang mengajakNya berbicara sehingga perhatiannya pada orang-orang yang memasukkan dana ke dalam kotak sumbangan? Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. Sungguh wajarlah yang terjadi, bahwasannya mereka yang mapan hidupnya memberikan lebih banyak sumbangan daripada mereka yang berkekurangan. Bukankah memang mereka yang berkecukupan harus banyak memberi daripada mereka yang melarat hidupnya? Layaklah kalau seorang janda miskin memberi dana sebesar satu duit. Barangsiapa banyak menerima kiranya banyak juga harus memberi, sebab bukankah memberi itu sebagai rasa syukur kita kepada Tuhan? Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil; terpujilah Dia.

Maka dipanggil-Nya murid-muridNya dan berkata kepada mereka: 'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.  Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya'. Penegasan Yesus benar-benar memberi pencerahan baru. Janda miskin itu memang memberi dari segala kekurangannya. Segala yang ada dalam hidupnya itulah yang diberikan. Sedangkan mereka yang kaya hanya memberi sebagian dari kelimpahannya. Hak milik yang dipunyainya masih utuh dan tidak tersentuh; tidaklah demikian dengan janda yang memberikan segala yang dimiliki.

Apa yang dimaksudkan oleh Yesus? Keberanian sang janda untuk memberi dan memberi itulah yang patut diacungi jempol. Dia tidak memikirkan apa yang hendak dimakannya besok. Dia merasa tidak terikat dengan sedikit yang dimilikinya. Sepertinya, dia mempuyai pengharapan yang tinggi akan belaskasih Allah kepada dirinya. Dalam kemiskinannya, dia masih ingat akan orang lain. Dalam perjalanan salibNya, Yesus pun masih sempat menghibur mereka, kaum perempuan Yerusalem yang menangis. Demikian juga Stefanus ketika mendapatkan lemparan batu yang merajamnya, dia masih sempat berdoa, agar dosa-dosa mereka tidak menjadi bahan pertimbangan Dia, Allah yang berbelaskasih, sebab mereka tidak tahu apa yang dilakukannya. Janda itu miskin dalam ekonominya, tetapi dia tetap mempunyai hati kepada orang lain. Dengan memberi dari kekurangannya, sepertinya dia masih meyakini, bahwa salib yang dipanggul Anak Manusia lebih banyak dipikul oleh saudara dan saudarinya yang berkekurangan daripada dirinya. Dia telah merasakan, bahwa apa yang dilakukannya sekarang ini, dilakukannya demi Kristus Anak Manusia yang ada di depannya. Dia tidak melihat secara kasat mata, tetapi dia merasakan sungguh, bahwa Anak Manusia hadir secara tersembunyi di hadapannya.

Apakah kita harus menjadi orang-orang miskin? Tentunya tidak juga. Bukankah kita mempunyai hati yang dapat kita persembahkan kepada Tuhan Allah sang empunya kehidupan? Bukankah sedekah kita juga mampu membangun kehidupan yang lebih sejahtera dalam masyarakat yang ada di sekitar kita? Bukankah uluran tangan kita mampu memberi semangat kepada mereka yang miskin dan menyembuhkan mereka yang sakit. Kita boleh menjadi orang-orang yang mapan hidup, dan bahkan harus mapan, dengan tetap mempunyai hati terhadap sesama. Bukankah Yesus sendiri pernah mengatakan kepada kita, bahwasannya segala yang kita lakukan untuk saudara-saudari yang hina itu berarti telah kita lakukan juga kepada Yesus Tuhan?

Hidup mereka yang berkekurangan secara kasat mata tentunya lebih berat dengan mereka yang sudah nyaman hidupnya. Kiranya Injil hari ini mengajak kita untuk berani menghadapi realitas kehidupan. Janda miskin itu merasakan adanya ajakan untuk berani berbagi dengan mereka semua yang berkekurangan. Dia ingat dan tahu akan keberadaan dirinya, tetapi dia tetap melihat, bahwa ajakan untuk berbagi itu sungguh indah dan mendatangkan berkat Tuhan. Janda satu ini tahu apa artinya hidup. Ajakan Paulus kepada Timotius ini baik adanya, yakni: 'kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu'. Timotius, dan kita tentunya diajak untuk setia dan setia dalam aneka tugas kehidupan ini. Berani kita merasakan ajakan ini indah adanya, sebagaimana diteladankan janda miskin tadi?  Kalau kita berani melakukannya, pantaslah kalau kita menyanyi lagi 'hidup ini adalah kesempatan', sembari merenungkan apa yang dikatakan Paulus dalam surat yang sama: 'aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya' (2Tim 4: 5-8).

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, beri kami hati yang penuh belaskasih dan mudah berbagi terhadap sesama, agar mereka yang berkekurangan juga dapat merasakan sukacita dan bersemangat dalam hidupnya. Kami percaya hati yang berbelaskasih itulah yang Kau kehendaki dari kami sebagai anak-anakMu.  Amin

 

Contemplatio

Pertama, 'mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya'. Ini cinta yang amat indah. Cinta yang menjabarkan cinta Kristus yang menjadi tebusan bagi seluruh umatNya.

Kedua, 'aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya'. Inilah sukacita orang yang beriman kepada Kristus, orang yang tidak kuatir akan apapun juga, karena mengandalkan hidup hanya kepada Tuhan.








Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018