Sabtu Pekan Biasa X, 16 Juni 2018

1Raj 19: 19-21 + Mzm 16 + Mat 5: 33-37

 

 

Lectio

Bersabdalah Yesus kepada para muridNya: 'kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan.  Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kakiNya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun.  Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat'.

 

Meditatio

'Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan, tetapi Aku berkata kepadamu: janganlah sekali-kali bersumpah', tegas Yesus. Untuk apalah sedikit-sedikit bersumpah? Apalagi kalau hal itu kita ucapkan di hadapan Tuhan, sang Empunya kehidupan ini.  'Janganlah sekali-kali bersumpah baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kakiNya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar'.  Hendaknya kita tidak mudah bersumpah demi ini dan itu, karena memang kita tidak mempunyai hak atas semuanya itu. Apa yang dapat kita berikan untuk langit, bumi atau Yerusalem, jikalau kita gagal atas sumpah yang kita ucapkan? Apa pertaruhan kita untuk membayar atau menebus kegagalan kita? 'Janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun'. Kita tidak berkuasa penuh atas hidup kita ini. Kita memang harus mempertanggungjawabkan hidup yang dipercayakan Tuhan Allah sendiri kepada kita. Kita tidak mampu menjadikan hidup kita sebagai taruhan atas sesuatu yang hendak kita lakukan.

'Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak', tegas Yesus. Yesus menegaskan demikian, karena sepertinya Yesus percaya sungguh anugerah kodrati yang diberikanNya kepada kita, yakni akal budi dan kehendak bebas, kita nikmati dengan penuh syukur, apalagi mengingat keberanian kita yang dibimbing oleh RohNya yang kudus.  'Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat'. Apa itu? Yesus tidak menyebutkannya. Minimal bila kita mau mencari kepuasan diri dan menangnya sendiri dalam pekerjaan dan pelayanan itulah datangnya dari si jahat, karena memang pada dasarnya kita manusia diciptakan baik adanya. Kejahatan itu adalah segala kecenderungan manusiawi yang ingin mencari kepuasan diri, yang tentunya akan selalu bertentangan dengan panggilan setiap orang, yang telah diangkat sebagai anak-anak Allah oleh Kristus sendiri.

Tak dapat disangkal memang setiap orang akan dengan mudah jatuh dalam dosa oleh karena gangguan si jahat yang benar-benar menarik perhatian setiap orang. Kecenderungan insani amatlah kuat dalam diri setiap orang. Roh itu penurut dan daging kita ini lemah. Kenekatan seseorang bersumpah adalah untuk menunjukkan kesediaan diri mentaati apa yang telah dijanjikannya sendiri, sekaligus menunjukkan adanya benih-benih ketidakpercayaan dalam hidup bersama. Elisa tidak bersumpah untuk mengikuti Elia, tetapi dia hanya memohon waktu untuk pamit kepada kedua orangtuanya (1Raj 19). Itulah kemauan diri, walau oleh Yesus dilihatNya sebagai orang yang masih berani menoleh ke belakang di waktu membajak (Luk 9: 32).

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kami ini adalah ciptaanMu yang baik, bimbing kami agar berani berkata jujur dan benar dalam hidup kami. Hidup dalam bimbingan RohMu dan menjauhkan diri dari egoisme diri yang membinasakan. Amin

 

Contemplatio

'Janganlah engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun'. Kita tidak mempunyai hak sepenuhnya atas hidup ini; malah kita harus menjaga, memeliharanya dan kita pertanggungjawabkan kepada sang Empunya kehidupan. 'Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya; jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak'. Inilah kejujuran hidup, yang dihargai oleh Allah. Allah akan menyertai orang yang berpegang teguh padaNya.

 

 








Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018