Sabtu Pekan Biasa XII, 30 Juni 2018

Rat 2: 10-14 + Mzm 74 + Mat 8: 5-17

 

 

Lectio

Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya:  "Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita."  Yesus berkata kepadanya: "Aku akan datang menyembuhkannya."  Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.  Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi! maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang! maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini! maka ia mengerjakannya."  Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel.  Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi."  Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: "Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya." Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya. 

Setibanya di rumah Petrus, Yesus pun melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam.  Maka dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Ia pun bangunlah dan melayani Dia.  Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita."

 

Meditatio

Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya: 'Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita'. Dalam arti yang lurus memang tidak ada kata-kata permintaan dari sang perwira itu. Dia hanya menyatakan betapa sakit dan menderitanya hamba yang menolongnya. Seorang perwira menaruh perhatian kepada orang-orang yang membantunya. Bukankah dia seorang Romawi?  Yesus berkata kepadanya: 'Aku akan datang menyembuhkannya'. Yesus sangat peka terhadap orang-orang yang bermohon kepadaNya. Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: 'Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh'.  Sebuah ungkapan yang penuh kejujuran. Dia seorang perwira, tetapi mampu menempatkan diri. Dia begitu menghormati sang Guru dari Nazaret ini. Dia tidak merasa pantas menerima Yesus, tetapi dia percaya kemauan sang Guru dari Nazaret mempunyai kekuatan. Kalau Dia menghendaki sesuatu, pasti akan terjadi. Akhirnya perwira itu menambahkan: 'sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: pergi, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: datang, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: kerjakanlah ini, maka ia mengerjakannya'. Jujur sungguh orang satu ini. Apalah kekuasaan yang dimilkinya, kalau dibanding dengan Orang Nazaret satu ini.

Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: 'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel'.  Seharusnya iman seperti itu muncul di tengah-tengah bangsa Israel. Sebab bukankah mereka itu umat pilihan Allah? Bukankah mereka bangga dengan pengenalan akan Allah? tetapi belum pernah muncul selama ini, 'Engkau besar, ya Tuhan ALLAH, sebab tidak ada yang sama seperti Engkau dan tidak ada Allah selain Engkau' (2Sam 7: 22). Oleh karena itu, 'selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi' (Mzm 73: 25). Kata-kata inilah yang pernah diagung-agungkan. Israel sungguh bangga sebagai umat Allah, umat yang percaya kepada Allah. Namun ternyata iman mereka dangkal, bahkan kabur dan tak pernah terlihat dan terucapkan, tidak seperti iman kepercayaan seorang perwira.

Melihat kenyataan semacam itu, Yesus menegaskan: 'Aku berkata kepadamu: banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi'. Orang terpilih tidak mendapatkan keselamatan. Orang diselamatkan, bukannya karena keterpilihan, melainkan karena percaya kepada Tuhan Allah sang Empunya kehidupan ini. Itulah yang pernah disampaikan Yesus dalam perumpamaan tentang para penggarap kebun anggur, yang tidak tahu berterimakasih dan bertanggungjawab. Itulah yang dialami juga oleh kaum Yehuda dan putri-putri Yerusalem (Rat 2: 10-19). Tuhan Allah tak segan-segan menghancurkan orang-orang yang dikasihiNya. Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: 'pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya'. Kepercayaan sang perwira akan kata-kataNya membuat keinginan dirinya menjadi kenyataan. Iman kepercayaan membuat segalanya tidak ada yang mustahil. Segalanya terjadi dengan indahnya, karena kepercayaan kepada Tuhan Yesus.  Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.  

Setibanya di rumah Petrus, Yesus pun melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam.  Maka dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya.  Mengapa Yesus memegang tangan ibu mertua Petrus? Mengapa tidak meletakkan tanganNya di kepala, sebagaimana kebanyakan dilakukan orang. Bukankah pernah ada seorang kepala rumah ibadat meminta: 'anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup?' (Mrk 5: 23). Mengapa Yesus tidak berkata sembuhlah engkau sebagaimana yang baru saja dikerjakan terhadap hamba perwira Roma? Ia pun bangunlah dan melayani Dia.

Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit. Siapakah yang memberitahu, bahwa Yesus ada di rumah Petrus? Darimana mereka mengetahui keberadaan Yesus? Bukankah masih belum ada telepon genggam saat itu? Apakah cukup dari mulut ke mulut? Keberadaan Yesus memang menarik perhatian umatNya. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: 'Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita'.  Yesus memang menjadi kurban tebusan bagi seluruh umat manusia.

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, kami bersyukur atas rahmatMu, Kau hadir dalam rupa komuni Kudus yang memberi kekuatan dan membebaskan kami. Bersabdalah saja ya Yesus, maka aku akan sembuh. Puji dan syukur hanya kepadaMu, ya Yesus. Amin

 

Contemplatio

Pertama, 'Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh'. Sebuah iman kepercayaan yang begitu agung dan luhur. Dia yakin akan kata-kata Yesus. Sejauhmana kita percaya akan sabda dan kehendakNya?

Kedua, 'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel'.  Adakah iman yang dimaksudkan itu ada di antara kita? Kita adalah orang-orang yang dikasihiNya. mari kita nikmati kasihNya yang menyelamatkn itu. Jangalah kita, anak-anak Kerajaan malah dicampakkan ke dalam kegelapan?

Ketiga, 'pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya'. Keinginan kita yang jujur dan sesuai dengan kehendakNya, seringkali membuka jalan Tuhan Yesus datang mengunjungi kita.

 









Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Pesta Maria mengunjungi Elizabet