Selasa Pekan Biasa IX, 5 Juni 2018

2Pet 3: 12-18 + Mzm 90 + Mrk 12: 13-17

 

Lectio

Suatu hari, setelah gagal menangkap Yesus karena takut kepada banyak orang, disuruhlah beberapa orang Farisi dan Herodian kepada Yesus untuk menjerat Dia dengan suatu pertanyaan.  Orang-orang itu datang dan berkata kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar jalan Allah dengan segala kejujuran. Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?"  Tetapi Yesus mengetahui kemunafikan mereka, lalu berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mencobai Aku? Bawalah ke mari suatu dinar supaya Kulihat!"  Lalu mereka bawa. Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?" Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar."  Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!" Mereka sangat heran mendengar Dia.

 

 

 

Meditatio

Tanpa adanya pertobatan kejahatan yang satu akan melahirkan kejahatan lainnya. Itulah yang dilakukan oleh mereka orang-orang yang mempunyai kebencian dan irihati terhadap Yesus. Gagal menangkap Yesus karena takut kepada banyak orang, disuruhlah beberapa orang Farisi dan Herodian kepada Yesus untuk menjerat Dia dengan suatu pertanyaan.  Mereka mencoba menggabungkan kekuatan agama dan politik untuk menghadapi Yesus. Kaum Herodian adalah mereka pendukung kuat raja Herodes. Mereka orang-orang kerajaan, mereka kaum politisi. Mereka datang kepadaNya hanya untuk mencari kesalahan Orang Nazaret yang satu itu. Orang-orang itu datang dan berkata kepada-Nya: 'Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar jalan Allah dengan segala kejujuran'. Indah kali bahasa mereka; hanya sayang saja keindahan yang mereka miliki penuh dengan kelicikan dan kejahatan. Manis di bibir. Mereka memuji Yesus sebagai seorang yang jujur, berkebalikan dengan diri mereka yang licik dan jahat; menyatakan Yesus sebagai orang tidak takut kepada siapa pun juga, sebaliknya mereka takut dengan banyak orang, karena kemunafikan dan kejahatan yang mereka lakukan. Mereka ingin menyembunyikan diri. Mereka memuji Yesus yang tidak mencari muka, sebaliknya mereka adalah orang-orang munafik, yang hanya ingin mendapatkan pujian orang dengan menipu diri dan sesama. Yesus dipuji sebagai Orang yang dengan jujur mengajar jalan Allah, sebaliknya mereka menghalang-halangi untuk masuk dalam Kerajaan Allah. Penampilan mereka indah adanya hanya untuk dilihat. Bahasa mereka hanya nyaman untuk didengar. Titik, tidak ada yang lain.

'Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?'.  Itulah pertanyaan yang dilontarkan mereka orang-orang Farisi dan kaum Herodian. Mereka adalah koalisi orang-orang agamis dan politik, bukan yang suci hatinya, tetapi jahat hati dan budinya; walau tak dapat disangkal, banyak juga dari mereka adalah orang-orang yang baik.  Yesus mengetahui kemunafikan mereka; Yesus yang tahu isi hati dan budi umatNya, lalu berkata kepada mereka: 'mengapa kamu mencobai Aku? Bawalah ke mari suatu dinar supaya Kulihat!'. Yesus menentang mereka. Yesus meminta mereka membawa suatu dinar, bukannya karena Dia tidak pernah lihat mata uang dinar, melainkan Dia mempunyai maksud tertentu.  Lalu mereka bawa, dan memberikannya kepada Yesus. Apakah mereka juga sadar, bahwa jawaban sang Guru satu ini kemungkinan besar akan melabrak merek sendiri?

'Gambar dan tulisan siapakah ini?', tanya Yesus kepada mereka. Jawab mereka: 'gambar dan tulisan Kaisar'.  Tak berbeda jauh dengan uang sekarang ini. Ada gambar para pahlawan, hanya tidak ada tulisan tangan mereka.  Lalu kata Yesus kepada mereka: 'berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!'.  Sebagai anggota masyarakat, yang mempunyai hak politik, memang setiap orang wajib taat kepada sang pemimpin negara dan bangsa. Kaisarlah pada waktu itu, sebagai seorang penguasa atas Israel. Mereka harus taat kepada kaisar, dan tentunya mereka harus membayar pajak. Demikian juga, sebagai anggota umat Allah, tentunya segala hal yang menjadi kehendakNya haruslah mendapatkan perhatian dan ditaati, karena hanya dalam Dialah ada keselamatan. Setiap pribadi harus menghormati pemimpin bangsa dan negara, dan taat kepada Tuhan sang Empunya kehidupan ini.  Kaum Herodian dibuatNya tak berdaya, karena mereka mendapatkan keuntungan dari wajib pajak yang harus ditaati masyarakat.

Mereka sangat heran mendengar Dia.

Apakah kita mempersolkakan ketaatan kepada Tuhan dan kepada pemerintah? Orang yang beriman pasti akan menjadi warga negara yang baik; dia akan menjadi seseorang yang taat wajib pajak. Malah ketaatan kepada Tuhan Allah sang Empunya kehidupan inilah yang harus kita tumbuhkembangkan, karena memang iman menjadi semangat hidup bagia setiap orang. Petrus menasehati: 'kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia. Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, dan bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus' (2Pet 3: 14-17).

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kami bersyukur kepadaMu, karena Engkau menyatukan kami sebagai umatMu, baik sebagai Gereja atau pun bangsa dan negara Indonesia. Bantulah kami dengan terang RohMu, agar kami menjadi sesame bagi sesame anak bangsa yang Engkau cintai ini.

Santo Bonifasius,  doakanlah bangsa dan negara kami. Amin.

 

Contemplatio

Pertama, 'berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!'. Kalua kita beriman sungguh, kita juga akan mentaati segala peraturan bangsa dan negara. Bukankah ketaatan kita kepada negara dan bangsda adalah wujud nyata dari cinta kasih terhadap sesma?

Kedua, 'kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia. Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, dan bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus'. Orang bercacat adalah mereka yang tidak layak di hadapan Tuhan, dan bukan mereka yang ada kekurangan dalam fisiknya. Kita akan menjadi orang yang layak di hadapanNya, kalau memang selalu berani ambil bagian dalam pengudusan diri di dalam kesempatan kesabaranNya.








Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018