Selasa Pekan Biasa X, 12 Juni 2018

2Raj 17: 7-16 + Mzm 4 + Mat 5: 13-16

 

 

Lectio

Suatu hari Yesus berkata kepada para muridNya: 'kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.  Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.  Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga'.

 

Meditatio

'Kamu adalah garam dunia', tegas Yesus kepada para muridNya. Tentunya kita banyak tahu tentang kegunaan garam. Garam memberi rasa. Adanya garam, memberikan rasa dan bernilai dalam suatu masakan. Para murid adalah garam bagi dunia; maka mereka harus mampu memberi makna dalam hidup di tengah-tengah masyarakat.  'Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang'. Entah jenis garam apa yang bisa menjadi tawar? Namun tak dapat disangkal, ketidakmampuan orang dalam berperan bagi dunia sekitarnya akan membuat dia tersisih dan tidak mendapatkan perhatian dari sesamanya. Apakah berlaku prinsip utilianisme? Mereka, yang tidak merasakan makna kehadiran seseorang, menyisihkan dan mengabaikan orang itu. Demikian juga dengan ranting yang tidak berbuah, dia pun akan dipangkas dan dimasukkan dalam bara api yang menyala.

'Kamu adalah terang dunia'. Seperti garam, demikian terang akan menjadikan dunia semakin terasa indah dan menyenangkan. Kehadiran seorang kristiani hendaknya semakin menyemarakkan hidup bersama.  'Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi'. Mana mungkin sebuah kota tersembunyi, walau terletak di lereng gunung, tidaklah demikian dengan dusun yang masih jauh dari keramaian.  'Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu'.  Semua orang percaya akan keberadaan sesamanya. Semua orang akan memberi kepercayaan kepada setiap orang menurut perannya masing-masing, bahkan mereka akan menuntut seseorang, bila dia tidak mau berperan sebagaimana mestinya. Setiap orang tahu kegunaan pelita, dan di mana harus diletakkan. Ketidakmauan seseorang untuk berperan sebagaimana mestinya akan membuat dia terbuang dari masyarakat, bagaikan garam yang menjadi tawar, dia akan dibuang dan diinjak orang.

'Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga'. Penegasan Yesus meminta kita untuk selalu mampu berperan dan berbuat baik kepada sesama. Kehadiran seseorang harus memberi makna bagi setiap orang. Keberanian kita berperan dalam hidup bersama akan membuat orang saling mengenal satu sama lain, sesuai dengan peran yang kita miliki masing-masing; dan mengakui keberadaan dan kehebatan masing-masing, terlebih mampu membuat setiap orang berani bersyukur kepada Tuhan. Apakah keberhasilan atau kesejatian kita berbuat baik kepada sesama itu terukur dengan keberanian mereka mengucap syukur kepada Tuhan? Apakah perbuatan baik Elia bisa dikategorikan menjadi terang dan garam bagi janda Sarfat yang miskin itu (2Raj 17: 7-16), sebab perempuan itu hanya berdiam diri dan tidak berkata apa-apa?

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, teguhkanlah kami dengan belaskasihMu, sehingga kami mampu mendatangkan kebaikan dan sukacita bagi sesama yang ada di sekitar kami, sehingga mereka mampu bersyukur dan namaMu semakin dipermuliakan. Amin

 

Contemplatio

Pertama, 'kamu adalah garam dan terang dunia'. Kita para murid diminta menjadi orang-orang yang berguna bagi sesama. Orang harus menjadi berkat bagi sesamanya. Yesus amat mengharapkan semua itu dilakukan oleh para muridNya; bagaikan garam yang menjadi tawar, dia akan dibuang dan diinjak orang.

Kedua, 'hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga'. Kalaupun kita mampu bermakna bagi sesama, hendaknya kita hanya menjadi saluran berkat, sebab kebaikan kita hendaknya membuat setiap orang semakin percaya dan memuji Tuhan. Hendaknya kita tidak pamrih dalam berbuat baik.

 

 








Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Pesta Maria mengunjungi Elizabet

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis