Selasa Pekan Biasa XI, 19 Juni 2018

1Raj 21: 17-29 + Mzm 51 + Mat 5: 43-48

 

 

Lectio

Kepada para muridNya, Yesus berkata: 'kamu telah mendengar firman: kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna'.

 

Meditatio

'Kamu telah mendengar firman: kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu', tegas Yesus dalam pengajaranNya kepada murid-muridNya. Perintah kasihilah sesamamu, dipahami bangsa Israel sebagai perintah yang harus mereka terapkan pada bangsa Yahudi dan bukan bangsa asing. Bukankah Israel adalah bangsa terpilih, tentunya segala sesuatu harus dibedakan dengan bangsa yang bukan bangsa terpilih. Perintah bencilah musuhmu itu apa memang tersurat dalam Kitab Suci? Tidak jelas, yang ada kewajiban membalas gigi ganti gigi terhadap musuh. Siapakah musuh itu bagi orang Israel? Tentunya mereka, orang-orang yang dianggap kafir yang menyembah berhala dan dianggap bisa berbahaya bagi mereka sebagai bangsa terpilih, yang menolak kehadiran dan belaskasih Yahwe. Hukum di atas adalah adil dan seimbang. 'Tetapi Aku berkata kepadamu, lanjut Yesus, 'kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu'. Sepertinya itu adalah perbuatan yang sangat konyol dengan mengasihi musuh. Namun mulai saat itulah Yesus mengajarkan sikap bijaksana dan tepat untuk mengalahkan musuh, yakni dengan mengasihi dan berdoa kepada mereka. Kebencian membuat orang terperangkap masuk dalam lumpur dosa. Seseorang tidak mungkin berdoa dengan hati yang terselimuti kebencian; doa hanya bisa dilambungkan dengan indahnya, bila lahir dari hati yang penuh kasih. Kasih menutupi segala sesuatu, termasuk mereka yang memusuhi kita.

'Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga'; yang berarti menjadi serupa dengan Bapa, meniru sikap dan perilaku Bapa 'yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar'. Bapa, Tuhan Allah kita itu penuh kasih, tidak pilih kasih terhadap anak-anakNya. Demikian juga kalau kita menjadi sama seperti Bapa berarti kita tidak mendiskriminasikan orang lain di dalam keseharian hidup. Kita tinggal dalam kasih, dan Allah itu sendiri adalah kasih.

'Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?' Apakah Yesus mau mempertanyakan imbalan dalam hal ini? Sekali-kali tidak, Yesus mau membuat pembedaan, kalau pemungut cukai yang dianggap berdosa saja bisa mengasihi sesamanya, lalu apa kehebatan para pengikut Yesus, bila hanya sebatas melakukan yang diperbuat para pemungut cukai?  Demikian juga, 'apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?'.  Seorang yang mengakui berimankan kepada Kristus Tuhan harus mampu melakukan aneka kebajikan. Bukankah Yesus juga pernah meminta agar hidup keagamaan para murid melebihi para ahli Taurat dan orang-orang Farisi?  

'Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna'.  Pengikut Yesus harus tampil beda! Kasih tidak hanya ditujukan pada mereka yang mengasihi kita, tetapi lebih luas lagi, yakni kepada mereka yang membenci atau memusuhi kita. Kiranya semuanya itu, diawali dengan berani mengampuni setiap orang yang bersalah dan memusuhi kita. Kasih Tuhan kepada Ahab yang bertobat (1Raj 21: 17-26) kiranya menjadi kasih kita terhadap sesama.  

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kami bersyukur, terpilih menjadi anak-anakMu, kiranya kamipun semakin menampilkan wajahMu dalam sikap hidup kami. Penuh belas kasih dan membawa damai sukacita bagi sesama di sekeliling kami. Amin

 

Contemplatio

Pertama, 'kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu, karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga'. Ini berarti kita akan sama dengan Anak Bapa, yakni Yesus Kristus, yang penuh kasih dan cinta. Dia yang menjadi tebusan bagi umat manusia, tentunya bagi kita saudara dan saudariNya.

Kedua, 'apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?'. Apa kehebatan seorang Kristiani? Bukankah iman harus ditampakkan dalam aneka perbuatan hidup kita? Menjadi pengikut Kristus berarti 'sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna'.  

 








Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018