Senin Pekan Biasa IX, 4 Juni 2015

2Pet 1: 1-7 + Mzm 91 + Mrk 12: 1-12

 

Lectio

Suatu hari Yesus mulai berbicara kepada mereka dalam perumpamaan: "Adalah seorang membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain.  Dan ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun itu dari mereka.  Tetapi mereka menangkap hamba itu dan memukulnya, lalu menyuruhnya pergi dengan tangan hampa.  Kemudian ia menyuruh pula seorang hamba lain kepada mereka. Orang ini mereka pukul sampai luka kepalanya dan sangat mereka permalukan.  Lalu ia menyuruh seorang hamba lain lagi, dan orang ini mereka bunuh. Dan banyak lagi yang lain, ada yang mereka pukul dan ada yang mereka bunuh.  Sekarang tinggal hanya satu orang anaknya yang kekasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani.  Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita.  Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu.  Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain.

Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru:  hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita."  Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena mereka tahu, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Tetapi mereka takut kepada orang banyak, jadi mereka pergi dan membiarkan Dia.

 

Meditatio

Suatu hari Yesus mulai berbicara kepada mereka dalam perumpamaan: 'ada seorang membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain.  Dan ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun itu dari mereka.  Tetapi mereka menangkap hamba itu dan memukulnya, lalu menyuruhnya pergi dengan tangan hampa.  Kemudian ia menyuruh pula seorang hamba lain kepada mereka. Orang ini mereka pukul sampai luka kepalanya dan sangat mereka permalukan.  Lalu ia menyuruh seorang hamba lain lagi, dan orang ini mereka bunuh. Dan banyak lagi yang lain, ada yang mereka pukul dan ada yang mereka bunuh.  Sekarang tinggal hanya satu orang anaknya yang kekasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani.  Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita.  Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu.  Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain'.  Sebuah perumpamaan yang bagus.  Maksudnya amat jelas. Pemilik kebun anggur adalah seseorang yang baik; tetapi tidaklah demikian dengan para penggarap kebun anggur. Mereka adalah orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan tidak bertanggungjawab, bahkan mereka ingin menguasai dan memiliki kebun anggur yang dipercayakan kepada mereka. Tentu mereka akan mendapatkan hukuman berat.

'Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru:  hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita'. Batu mana yang dipakai oleh tukang bangunan, Sang tukang itulah yang menentukan. Tetapi tidaklah demikian dalam karya penyelamatan. Dia sang anak Manusia, yang tidak diperhatikan oleh umatNya, khususnya kaum Farisi, yang memang duduk di kursi Musa, juga demikian oleh mereka para ahli Taurat dan tua-tua bangsa Yahudi, telah menjadi Pribadi yang menyelamatkan seluruh umat manusia. Dia tidak menjadi pertimbangan dan tidak masuk hitungan, malah dibuang oleh mereka orang-orang yang berpengaruh dalam bangsa Israel, tetapi malah menjadi poin yang menentukan. Itulah anak Manusia. Itulah Yesus Kristus, yang tidak mendapatkan sambutan di umatNya, tetapi Dia dijadikan Allah Bapa sebagai Penyelamat seluruh umat manusia, yang sama sekali bukan bergantung pada jasa dan kebaikan umatNya, melainkan semata-mata kasih Allah.

Para tukang bangunan adalah para penggarap kebun anggur; merekalah yang seharusnya menentukan kebun anggur dengan indahnya, tetapi tidaklah demikian ternyata. Sang empunya kebun anggur, sang Empunya kehidupan akhirnya ambil bagian sepenuhnya dalam memperindah kebun anggur yang dimilikiNya. Intervensi Allah dalam menyelamatkan umatNya amatlah diperlukan, mengingat dalam realitas hidup ini roh itu penurut dan daging ini lemah (Mat 26: 41), dan keselamatan itu hanya hal milik Allah.  

Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena mereka tahu, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Pandai juga ternyata mereka, karena mereka menangkap maksud Yesus. Mereka sadar, bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak menghendaki Anak Manusia, sang Penyelamat itu datang menyapa mereka. Mereka sadar juga akan nasib mereka yang tidak beruntung, karena mereka tidak mendapatkan kepercayaan lagi untuk mengelola kebun anggur Tuhan. Mereka tidak mendapatkan keselamatan yang telah dipercayakan kepada mereka. Mereka marah, tetapi mereka takut kepada orang banyak, jadi mereka pergi dan membiarkan Dia.

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kami ini lemah, dampingi dan kuatkanlah kami agar tidak mudah tergoda dengan iri dan dengki yang membawa kami pada kebinasaan. Tetapi mampu memahami kehendakMu yang menyelamatkan. Amin

 

Contemplatio

Pertama, 'Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain'. mereka kehilangan pekerjaan, mereka kehilangan kepercayaan yang diberikan kepada mereka. Tindakan Allah yang seperti ini janganlah dilakukanNya terhadap kita. Kita nikmati tawaran keselamatan yang memang diberikan kepada kita.

Kedua, 'batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita'. Tuhan intervensi langsung dalam proses pembangunan rumah keselamatan. Kita nikmati saja intervensi Allah demi keselamatan kita itu. Ada baiknya kita menikmati kemauan dan kehendak Tuhan. Bagaimana caranya? Caranya dengan;

Ketiga, 'dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita' (2Pet 1: 5-8).

 

 








Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018

Selasa XXX, 26 Oktober 2010