Jumat Pekan Biasa XV, 20 Juli 2018

Yes 38: 1-6 + Mzm 38 + Mat 12: 1-8



Lectio

Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-muridNya memetik bulir gandum dan memakannya.  Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya: "Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat."  Tetapi jawab Yesus kepada mereka: "Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam?  Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah?  Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah.  Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat."


Meditatio

Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-muridNya memetik bulir gandum dan memakannya.  Apakah mereka tidak mampu bertahan sejenak untuk tidak memetik bulir-bulir gandum? Atau tidak bisakah mereka memetiknya secara sembunyi-sembunyi, sehingga tidak terlihat dan menjadi batu sandungan bagi orang lain? Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya: 'lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat'. Sebuah pertanyaan yang wajar dan normal. Mengapa mereka para murid memetik bulir-bulir gandum, dan mengapa sang Guru berdiam diri?  Mendengar komentar mereka, Yesus menjawab: 'tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam?  Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah?'. Sebuah jawaban yang penuh kebijaksanaan.  Yesus tidak mau ditenggelamkan oleh aneka aturan hari Sabat. Yesus lebih mengutamakan keberadaan umatNya yang berada dalam kelemahan dan keterbatasan. Nilai kemanusiaan hendaknya menjadi perhatian dari setiap peraturan yang dibuat dan disusun oleh lembaga apapun. Kalau tindakan para pengikut Daud dan para imam di bait Allah saja bisa dipahami, apalagi kalau itu suatu tindakan terjadi di luar rumah ibadat. Tidak dimaksudkan juga, Yesus hendak membela yang salah.  'Aku berkata kepadamu: di sini ada yang melebihi bait Allah', tegas Yesus. 'Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat'. Mungkinkah Yesus membiarkan para muridNya jatuh dalam dosa? Kaum Farisi belum mengenal siapakah Orang yang ada di depan mereka itu. Atau memang mereka semata-mata hendak mencari kesalahan komunitas baru ini?   

'Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah'. Pembiaran Yesus terhadap yang dilakukan para muridNya adalah wujud konkrit belaskasih Allah kepada umatNya. Yesus tidak menunggu para muridNya berbuat baik terlebih dahulu, sebaliknya Dia malah mendahuluinya. Kalau belaskasih menjadi konsep hidup tentunya orang-orang Farisi mengerti akan perbuatan para muridNya; tidaklah demikian bagi mereka kaum ritualis. Belaskasih Allah itu jugalah yang pernah dialami oleh Hizkia, yang diperkenankan hidup limabelas tahun lagi (Yes 38: 5), sebagaimana diceritakan dalam bacaan pertama hari ini. Belaskasih Allah semakin dirasakan oleh orang-orang yang mau berserah dan berpasrah kepadaNya. Inilah yang dikehendaki Yesus dengan penyataanNya tadi.

Kiranya juga menjadi permenungan kita bersama, bahwasannya penyataan Yesus akan belaskasih juga sebagai tanggapan nyata terhadap kaum utilian, yakni mereka yang memandang pribadi sebatas kepemilikan potensi yang dimilikinya. Seorang pribadi haruslah berguna dan berjasa bagi orang lain; itu benar. Namun bila seoranga pribadi lemah dan tak berdaya, dia tidak mempunyai martabat dalam kebersamaan hidup. Seorang pribadi dilihat sejauh berdayaguna terhadap sesamanya. Bagaimana dengan mereka yang berusia? Bagaimana dengan anak-anak kita yang kecil dan manis itu? Bagaimana dengan mereka yang sakit dan tak berdaya? Bukankah dalam salibnya mereka malah mampu menemukan sukacita? Kaum utilian adalah mereka yang tidak menerima keberadaan salib dalam hidup, dan inilah yang kiranya bertentangan dengan spirituaitas kristiani, yang memandang salib sebagai jalan menuju kemuliaan.

 

Oratio

Ya Yesus, mampukan kami untuk mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan di atas aturan dan hukum yang mengikat dan kaku, agar nilai kasih menjadi yang utama dalam tindakan kami terhadap mereka yang lemah dan membutuhkan uluran tangan kami. Amin

 

Contemplatio

Pertama, 'Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat'. Keberpihakan kita kepadaNya akan membuat kita selalu memilih yang terbaik di mana dan kapan pun juga.

Kedua, 'yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan'.  Sikap belaskasih terhadap sesama menyempurnakan segala upaya hidup rohani kita.

 








Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Pesta Maria mengunjungi Elizabet

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis