Sabtu Pekan Biasa XIII, 7 Juli 2018

Am 9: 11-15 + Mzm 85 + Mat 9: 14-17



Lectio

Pada waktu datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?"  Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.  Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya.  Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya."


Meditatio

'Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?', tanya para murid Yohanes kepada Yesus. Mengapa mereka tidak bertanya antar murid saja terlebih dahulu? Bukankah ada dua murid Yesus yang dahulu adalah murid-murid Yohanes, yang tentunya mengandaikan adanya relasi yang hidup antar mereka? Atau mungkin mereka malahan akrab dengan para murid orang-orang Farisi, karena sama-sama mempunyai kebiasaan berpuasa? Apakah puasa bagi mereka itu suatu kebanggaan atau beban? Ada yang bangga pasti, ada juga yang dirasakan sebagai beban. Lepas dari semua itu, puasa adalah kewajiban agama yang harus ditaati setiap orang; yang sekaligus bentuk pengudusan diri.

Jawab Yesus kepada mereka: 'dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka?'.  Yesus dengan tegas membandingkan relasi diriNya dengan para muridNya. Dialah sang Mempelai dan para murid adalah sahabat-sahabatNya. Sungguh benar, bahwa mereka adalah sahabat-sahabat Yesus (Yoh 15), karena Yesus sendiri yang menyatakannya. Mereka para murid tidak perlu berpuasa karena bersama dengan diriNya. Mengapa juga kita harus berpuasa dan mengendalikan diri, bila memang kita bersama-sama dengan Yesus? Bukankah Yesus sendiri yang membimbing dan menuntun kita?  'Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa', sambung Yesus. Tidak bersama Yesus, orang harus berani mengendalikan dirinya dengan berpuasa dan berpantang.  

'Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya.  Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur, tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya'. Segala-galanya ada waktunya. Pada waktu Yesus di taman Getsemani, memang mereka diminta berjaga bersamaNya (Mat 26); walau tak dapat disangkal, banyak di antara murid yang melarikan diri dan tak mau berjaga bersamaNya sejenak. Semuanya lari, semuanya tak mampu mengendalikan diri supaya tetap mengikuti Dia sang Guru. Mereka semua lari dan tidak ada yang berpuasa. Berpuasa berarti berusaha untuk selalu bersama Yesus, dan memang berpuasa wajib dilakukan selama kita tidak bersama dengan Yesus sang Guru.

Berpuasa memang bukanlah soal makan dan minum, demikian juga berpantang dari segala kecenderungan insani yang mencari kepuasan diri. Berpuasa dan berpantang adalah segala cara agar kita tidak terfokus pada kenyamanan diri, sebaliknya bagaimana kita memberikan dan mempersembahkan hidup kita ini agar dikehendaki oleh Tuhan Yesus, sang Empunya kehidupan.

 

Oratio

Ya Yesus, beri kami kemampuan untuk mengendalikan diri dalam kecenderungan insani yang selalu mencari kepuasan, sebaliknya agar mampu mempersembahkan hidup ini sesuai dengan kehendakMu. Amin

 

Contemplatio

'Dapatkah sahabat-sahabat Mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka?'. Bersama sang Mempelai seseorang akan selalu dalam pengawasan sang Mempelai itu sendiri. Berpuasa berarti mengendalikan diri agar layak bersamaNya.

 








Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Pesta Maria mengunjungi Elizabet