Sabtu Pekan Biasa XIV, 14 Juli 2018

Yes 6: 1-8 + Mzm 93 + Mat 10: 24-33



Lectio

Yesus memanggil kedua belas muridNya dan berkata: 'seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya.  Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.  Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.  Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah.  Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.  Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu.  Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya.  Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.  Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga.  Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga'.

 

Meditatio

'Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya', tegas Yesus. Benarlah yang dikatakan Yesus ini. Namun tak dapat disangkal, sekarang ini banyak murid akan menjadi pandai dan melebihi gurunya. Apakah tidak diprediksi oleh Yesus? Apakah Yesus hanya membatasi persoalan itu berkenaan dengan diriNya? Bukankah Yesus juga pernah menyatakan: 'barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu?' (Yoh 14: 12). Kepercayaan kepadaNya membuat seseorang melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan Yesus. Benarlah juga ungkapan ini, maaf, guru kencing berdiri, murid kencing berlari; maka 'jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya'.

Penyataan Yesus ini, bukanlah dimaksudkan untuk menakut-nakuti para muridNya, malah sebaliknya menantang mereka untuk semakin berani menjalani tugas perutusan yang dipercayakan itu. Pertama, 'janganlah kamu takut terhadap mereka', tegas Yesus, 'karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah'. Semua rahasia Allah haruslah disampaikan kepada setiap orang, karena memang Allah menghendaki semua orang beroleh selamat. Segala sesuatu yang selama ini disampaikanNya secara tersembunyi, haruslah diwartakan juga kepada semua orang, dan itulah memang tugas para murid. Para murid harus berani mewartakan dan mewartakan, terlebih dalam menghadapi rintangan yang bagaikan serigala itu. 'Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka'. Hanya kepada sang Empunya kehidupanlah para murid harus merundukkan diri, karena memang Dialah Allah yang berkuasa atas orang hidup dan mati (bdk. Rom 14).  'Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu, dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya'. Kita antar sesama manusia ini tidak ada yang berhak dan kuasa atas hidup orang lain. Hanya kepada Tuhan Allah hidup ini harus kita pertanggungjawabkan. Kematian badani dalam aneka peristiwa kehidupan, hendaknya tidak menjadi hal yang menakutkan, tetapi sebaliknya, bila Tuhan meminta agar kita berani menyerahkan nyawa, sebagaimana dilakukan Yesus di kayu salib, kita malah haus siap sedia.

Kedua, 'setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga.  Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga'. Inilah kiranya yang hendaknya menjadi modal dasar setiap orang yang ambil bagian dalam tugas perutusan. Kepercayaan diri membuat seseorang semakin siap melangkahkan diri maju ke depan. Berkaitan dengan penyataan Yesus ini, dapat juga kita renungkan: di manakah kasih Tuhan? Apakah Allah itu begitu pamrih, sehingga bila ada orang tidak menyebut namaNya, tidak akan diakuiNya sebagai umat? Tuhan itu ada, maka ketidak-beranian mengakui keberadaanNya itu berarti meniadakan Tuhan, meniadakan kehidupan, meniadakan keselamatan.

Kita adalah orang-orang yang menikmati rahmat dan berkatNya, teristimewa rahmat penebusan. Apakah kita siap sedia untuk bersaksi? Apakah siap sedia diutus ke tengah-tengah serigala? Inilah aku, utuslah aku (Yes 6), kata-kata bacaan hari ini hendaknya menjadi kesiapasiagaan kita mendengar permintaan Tuhan.

 

Oratio

Ya Yesus, mampukan kami untuk berani mengatakan; ya Tuhan 'inilah aku, utuslah aku'. Siap menghadapi segala tantangan yang akan dihadapi karena percaya Engkau sendiri yang mengutus dan mendampingi kami. Amin

 

Contemplatio

Pertama, 'apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah'. Inilah tugas perutusan untuk mewartakan misteri penyelamatan Allah.

Kedua, 'janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka'. Hendaknya kita tidak takut menanggung resiko, bahkan berhadapan dengan kematian. Tuhan Yesus sang Empunya kehidupan adalah jaminan hidup kita.

Ketiga, 'setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga.  Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga'. Kesaksian dan pewartaan adalah wajib hukumnya bagi setiap orang yang percaya kepada Kristus.

Keempat, 'inilah aku, utuslah aku'. Kata-kata orang beriman.

 








Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018