Senin Pekan Biasa XIV, 9 Juli 2018

Hos 2: 13-19 + Mzm 145 + Mat 9: 18-26



Lectio

Pada waktu tertentu sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata: "Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup."  Lalu Yesus pun bangunlah dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-muridNya. 

Di tengah jalan ada seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya.  Karena katanya dalam hatinya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh."  Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau." Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu. 

Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, berkatalah Ia: "Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur." Tetapi mereka menertawakan Dia.  Setelah orang banyak itu diusir, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu.  Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu.


Meditatio

Pada waktu tertentu sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat. Siapakah orang itu dan siapakah namanya, tidaklah diketahui. Apakah dia sebelumnya sudah pernah berjumpa dengan Yesus, atau malah sudah pernah berkenalan dengan sang Guru, tidak diceritakan memang.  Lalu orang itu menyembah Dia dan berkata: 'anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup'. Hebat sekali orang itu. Darimana dia mengenal Yesus? Bagaimana dia tahu, bahwa Yesus bisa dan mampu membangkitkan orang mati? Apakah dia sudah mempelajari kristologi? Sekali lagi, bagaimana dia mengetahui Yesus itu sang Empunya kehidupan?  Bagaimana dia tahu, bahwa di hadapan Allah semua itu hidup?  Yesus pun tanpa banyak bertanya-tanya tentang orang itu bangun dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-muridNya.

Di tengah jalan ada seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya. Berani sungguh perempuan satu ini. Dia menerobos rombongan kaum laki-laki di tengah jaman yang amat menjunjung tinggi peran kaum laki-laki, sekaligus menomer-duakan kaum perempuan. Dia tidak memperhitungkan keadaan jaman waktu itu. Dia tidak mau tahu apa yang hendak dikatakan orang-orang.   Dalam hatinya dia percaya dan yakin: 'asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh'. Itulah keyakinan pribadi. Mengapa perempuan itu hanya meminta kesembuhan, dan bukannya keselamatan? Saya ingin sembuh hanya itulah yang ada dalam benaknya.

Yesus berpaling dan memandang dia. Darimana Yesus tahu ada orang yang menjamah diriNya. Bukankah banyak orang yang mengikuti Dia. Yesus sepertinya hendak menyapa banyak orang dengan peristiwa yang baru terjadi. Yesus berkata: 'teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau'. Tidak ada rencana Yesus untuk menyembuhkan perempuan itu. Iman perempuan itu mendatangkan berkat. Ia percaya, maka dia diselamatkan.  Sejak saat itu sembuhlah perempuan itu. Entah kemana perempuan itu selanjutnya. Apakah dia terus mengikutiNya, tidak diceritakan. Yesus pun tidak meminta perempuan itu pergi menunjukkan diri ke para imam dan membawa persembahan sebagai bentuk pengudusan diri, sebagaimana dianjurkan oleh Musa.

Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, berkatalah Ia: 'pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur'. Entah apa maksud Yesus berkata demikian? Apakah Dia sungguh-sungguh mengingatkan, bahwa 'di hadapan Dia semua orang hidup?' (Luk 20: 38). Penyataan Yesus tidak dimengerti banyak orang; maka mereka menertawakan Dia.  Kita pun tak jarang mentertawakan Yesus setiap kali Yesus berkata: jika kamu ditampar pipi kananmu, berikanlah yang kiri dan amatlah mudah seekor unta masuk lubang jarum daripada orang kaya masuk Kerajaan Surga, soal balok yang ada dalam mata kita, kepada kita. Setelah orang banyak itu diusir, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu. Yesuslah kebangkitan dan hidup. Barangsiapa percaya kepadaNya akan hidup selama-lamanya. Itulah yang terjadi secara nyata pada waktu itu. Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu.

Apakah harus sakit terlebih dahulu dan mengalami peristiwa kematian seseorang akan mengalami belaskasih Tuhan? Tentunya tidak. Bukankah orang-orang yang dikasihiNya selalu mendapatkan perhatianNya? Bukankah kasih Tuhan bagaikan kasih seorang suami terhadap isterinya, sebagaimana dilukiskan oleh nabi Hosea? (2: 13-19). Kita nikmati kasih Tuhan Yesus yang menyelamatkan itu.

 

Oratio

Ya Yesus, Engkau sumber kehidupan bagi umat manusia, perteguh iman kami kepadaMu, bahwa hanya di dalam Engkau ada kehidupan kekal. Puji dan syukur hanya kepadaMu ya Yesus. Amin

 

Contemplatio

Pertama, 'anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup' atau 'asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh'. Inilah kata-kata orang yang percaya kepada Kristus Tuhan. Mereka percaya, bahwa Yesus akan memberikan yang terbaik bagi hidupnya.

Kedua, 'teguhkanlah hatimu, imanmu telah menyelamatkan engkau'. Iman mendatangkan keselamatan. Kita harus semakin berani merasakan perhatianNya, karena kita adalah orang-orang yang dikasihiNya.

Ketiga, 'pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur', sebab di hadapanNya semua hidup.

 








Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018