Senin Pekan Biasa XV, 16 Juli 2018

Yes 1: 11-17 + Mzm 50 + Mat 10:34 – 11:1



Lectio

Suatu hari berkata kepada orang-orang yang mendengarkan sabdaNya: 'jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia muridKu, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya'.

Setelah Yesus selesai berpesan kepada kedua belas muridNya, pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka.

 
Meditatio

Suatu hari berkata kepada orang-orang yang mendengarkan sabdaNya. Pertama, 'jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang'. Lalu bagaimana dengan nyanyian para malaikat, ketika dunia merayakan kehadiranNya. Damai, damai, damailah senantiasa, bagi umat pilihan. Dia datang membawa pedang, 'sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya'. Pemisahan memang bisa terjadi karena warta keselamatan. Ada orang-orang yang menginginkannya, dan ada yang tidak menghendakinya. Keinginan inilah yang akhirnya memisahkan anggota keluarga satu dengan lainnya. Dia benar-benar datang dan menjadi bahan perbantahan bagi banyak orang, sebagaimana dikatakan oleh Simeon yang memberkatiNya pada waktu masih bayi.

Keinginan itu menjadi bahan perbantahan, karena mempunyai resiko yang begitu hebat. Keinginan akan warta keselamatan itu berarti mengamini isi pewartaan itu. 'Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku'. Inilah salah satu isi pewartaan itu, di mana Yesus harus menjadi perhatian utama dari pada perhatian terhadap keluarga. Kalau keluarga saja harus dinomerduakan, bagaimana para karmelit dalam menikmati kebersamaan dan Ordo? Pasti tidak ada perbedaan keinginan akan warta keselamatan dalam hidup bersama, tetapi adakah penghargaan dan kesatuan yang membangun dalam menikmati pelbagai karunia yang dianugerahkan Tuhan kepada setiap anggota Ordo?

Kedua, 'barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya'. Setiap orang harus berani memanggul salib kehidupan. Adakah dari antara para karmelit yang beranggapan, bahwa konkritasi kaul ketaatan itu adalah suatu beban hidup? Ada banyakkah dari antara kita, di tengah-tengah aneka tantangan dan rintangan tetap mampu berkata: 'aku tetap sangat terhibur dan sukacitaku melimpah-limpah?' (2Kor 7, 4). Terpujilah Tuhan.

Ketiga, 'barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar'. Permintaan ini menegaskan minimal hendaknya kita ramah terhadap setiap orang. Kehadiran setiap orang di hadapan kita benar-benar membawa makna. Siapa yang kita jumpai, dialah yang membawa berkat bagi kita. Bahkan 'barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia muridKu, Aku berkata kepadamu: sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya'. Betapa sederhananya memberi minum kepada seorang anak kecil, tetapi benar-benar akan mendatangkan berkat, kalau kita melakukannya dengan setulus hati, terlebih bila kita melakukannya dalam kasih Kristus. Sejauhmana karya pelayanan kita sehari-hari terhadap sesama? Sadarkah kalau semuanya itu kita lakukan dalam kasih Kristus akan mendatangkan rahmat dan berkat, tidaklah demikian kalau kita lakukan di luar kasihNya? Sebab sekalipun kita melakukan aneka kebaikan tetapi serentak juga berbuat jahat, semuanya itu tidak akan mendatangkan berkatNya (bdk. Mat 7: 22-23 dan Yes 1: 11-17)

Setelah Yesus selesai berpesan kepada kedua belas muridNya, pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka.

 

Oratio

Ya Yesus, mampukan kami dalam berbagi kasih terhadap sesama agar sungguh-sungguh dilakukan dengan tulus hati, terutama terhadap mereka yang kecil dan tersisih. Agar merekapun ikut merasakan kasihMu lewat karya pelayanan kami. Amin

 

Contemplatio

Pertama, 'Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang'. Tak jarang kita pun takut membawa konflik dalam pergaulan. Kita ingin rukun dan memendam konflik.

Kedua, 'barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku'. Inilah berpantang, siap melakukan segala sesuatu yang tidak kita senangi.

Ketiga, 'barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia muridKu, Aku berkata kepadamu: sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya'. Sesederhana apapun suatu pekerjaan kasih haruslah kita lakukan, bahkan dengan setulus hati.

 

 








Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018