Senin Pekan Biasa XVII, 30 Juli 2018

Yer 13: 1-11 + Mzm + Mat 13: 31-35



Lectio

Pada suatu hari Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kataNya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya.  Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya." Dan Ia menceriterakan perumpamaan ini juga kepada mereka: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya."

Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatu pun tidak disampaikan-Nya kepada mereka, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi: "Aku mau membuka mulut-Ku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan."


Meditatio

'Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya.  Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya'. Penegasan Yesus ini sungguh-sungguh menyatakan, bahwa Kerajaan Surga itu dapat dirasakan, dan bahkan tampak dalam aneka hal yang sederhana dan kecil. Mungkin malah kurang mendapat perhatian dari banyak orang, seperti tumbuhnya biji sesawi. Namun bila benih itu akan tumbuh dan berkembang, dia menjadi paling besar dari antara banyak tanaman lainnya, bahkan menjadi tempat bersarangnya banyak burung. Kehadiran Kerajaan Surga itu menjadi sukacita dan kebutuhan bagi banyak orang.

'Hal Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya'. Ragi juga bukanlah barang yang diagung-agungkan oleh banyak orang; bukan pula harta benda seseorang. Ragi itu bukan benda yang amat berharga. Ragi itu kecil, tetapi mampu mengubah dan menjadi baru. Itulah juga Kerajaan Surga. Allah melelalui Yeremia juga membandingkan orang-orang yang dikasihiNya itu bagaikan ikat pinggang yang lapuk dan kini tidak dipakaiNya lagi. Mengapa? Sebab mereka telah bertindak semaunya sendiri dan bahkan mengabdi kepada allah-allah lain, yang tidak mendatangkan keselamatan. Ikat pinggang adalah kesenangan Allah, yang selalu terikat dipinggangNya dan menjadi kebanggannNya, tetapi sekarang tidaklah lagi (Yer 13: 1-13)

Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatu pun tidak disampaikan-Nya kepada mereka, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi: 'Aku mau membuka mulut-Ku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan'. Bahasa manusia memang amatlah terbatas. Kemampuan seseorang untuk berkata-kata cukuplah sebatas kemampuan inderawinya. Tidak ada orang yang mampu berkata-kata di luar kemampuan dirinya, sebaliknya misteri kemurahan hati dan kasih Tuhan mengatasi bumi dan langit, mengatasi daya nalar insani. Perumpamaan adalah sarana Alllah berkata-kata kehadiranNya. Cara kehadiran Allah yang mengatasi kemampuan nalar manusia dibahasakan secara sederhana oleh Kristus Yesus sendiri, dan dipermudah oleh mereka yang merindukannya.

 

Oratio

Yesus Kristus, kami ini bukan siapa-siapa, tetapi berkat kasihMu mampu melakukan banyak hal yang mendatangkan kebaikan dan sukacita bagi banyak orang. Terima kasih ya Yesus atas anugerahMu ini. Amin

 

Contemplatio

Pertama, 'hal Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya'. Keberanian menerima kehadiran Allah membuat hidup lebih indah.

Kedua, 'Aku mau membuka mulut-Ku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan'. Bahasa manusia sendiri yang mampu membuat misteri Allah, karena itu inkarnasi Allah adalah wujud nyata kasihNya itu.

 








Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018