Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2018

Sir 10: 1-8 + 1Pet 2: 13-17 + Mat 22: 15-21


Lectio

Suatu hari pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan.  Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka.  Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?"  Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?  Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu." Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya.  Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?"  Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."


Meditatio

'Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka'. Itulah kata-kata manis dan indah, yang diucapkan orang-orang Farisi dan kaum Herodian. Mereka memuji Yesus sang Guru, bukan dengan hati dan budi, melainkan hanya dengan bibir manis mereka. Mengapa? Karena memang mereka menjebak Yesus dengan kata-kata seperti itu.  'Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?'.  Sebuah jebakan kata-kata indah. Membayar pajak adalah kewajiban setiap orang kepada pemerintah, yang sekarang ini Israel dalam pengawasan kaisar Romawi. Perlukan membayar pajak kepada kaisar atau tidak?

'Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?', tegas Yesus kepada mereka, yang memang mengetahui kejahatan hati mereka.  Yesus tahu bahwa mereka datang hanya karena hendak mencobai diriNya.  'Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu', tambah Yesus. Apakah Yesus tidak tahu mata uang mereka? Yesus tentunya tahu apa yang hendak dilakukanNya.  Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya.  Mereka membawa uang yang beredar di tengah-tengah masyarakat.  Yesus bertanya kepada mereka: 'gambar dan tulisan siapakah ini?'. Yesus semakin mempertegas maksudNya.  Jawab mereka: 'gambar dan tulisan Kaisar'.  Semua orang harus tunduk pada kaisar. 'Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah'. Pajak haruslah tetap dibayar, walau yang menikmati sekarang ini adalah sang kaisar. Mengapa? Karena memang itulah realitas sosial yang terjadi pada saat itu. Bangsa Yahudi tidak mampu memimpin dirinya sendiri, dan sekarang kaisarlah yang berkuasa dan mereka berhak atas pajak.  Demikian juga tentunya pajak hidup haruslah kita berikan kepada Allah, karena memang Dialah sang Empunya dan Penguasa kehidupan ini. Apakah kita harus mengelak dari kenyataan ini? Bukankah memang kita ini mempunyai kepemimpinan dalam pemerintahan? Bukankah hidup ini juga adalah pemberian dari Tuhan Allah? Bukankah kita hidup atau mati milik Tuhan? (Rom 14); dan bukankah 'di dalam tangan Tuhan terletak kuasa atas bumi, dan pada waktunya Ia mengangkat orang yang serasi atasnya, dan di dalam tangan Tuhanlah terletak kemujuran seorang manusia?' (Sir 10: 4-5).

Bagaimana dengan kita? Kepada siapa kita harus membayar pajak? Sebagai anggota masyarakat, 'tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi' (1 Pet 2: 13-17), karena memang 'kepada para pejabat dikaruniakan oleh-Nya martabatnya' (Sir 10: 5). Sebagai umat beriman taatilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa (bdk Mat 23: 9-10). Mgr Soegipranoto dengan tegas mengatakan, hendaknya kita 100% katolik dan 100% Indonesia.

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, mampukan kami untuk menjadi warga negara yang baik, yang mampu melakukan tugas kewajiban dan tanggungjawab kami. Terutama bertanggungjawab terhadap Engkau, sebab Engkaulah yang empunya kehidupan.

Tuhan Bapa di surga, limpahkanlah rahmat dan berkatMu bagi bangsa dan negara bangsa kami, Indonesia. Amin

 

Contemplatio

Pertama, 'berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah'. bukankah kita ini memang warga negara yang beriman? Kita 100% katolik dan 100% Indonesia.

Kedua, kita hidup atau mati milik Tuhan. Inilah yang harus kita utamakan dalam hidup ini.






Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018