Jumat Pekan Biasa XVII, 3 Agustus 2018


Yer 26: 1-9 + Mzm 69 + Mat 13: 54-58



Lectio

Pada suatu hari setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: "Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu?  Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas?  Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: "Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya." Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ.


Meditatio

Pada suatu hari setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Tempat asal yang dimaksudkan dalam Injil hari ini tentunya adalah Nazaret, karena memang Dia dibesarkan di kota itu (Mat 2: 23), dan bukannya orang Betlehem. Seusai pengajaran, takjublah mereka.  Mereka takjub tentunya setelah membanding-bandingkan dengan beberapa ahli Taurat yang pernah mengajar mereka. Dia Yesus ini lain daripada yang lain, 'dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu?'.  Dia ini pernah mengikuti perguruan apa?  IlmuNya hebat dan pengajaranNya pun penuh kuasa dan wibawa. Dia ini sungguh-sungguh seorang yang kharismatis. Namun, bukankah Ia ini Anak tukang kayu? Nama bapaknya adalah Yusuf, tetapi tidak disebutkan mereka. Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas?  Mereka ini kemungkinan besar adalah saudara sepupu, sebab bukankah Dia itu Anak tunggal?  Apalagi kalau disebutkan juga: bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi, kalau saudara dan saudariNya saja ada di tengah-tengah kita, dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?  Melihat asal usulNya, sungguh aneh, bila mempunyai sesuatu yang sungguh hebat dan luar biasa ini. Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.  Ketidakmau-tahuan orang-orang Nazaret tentang kehebatan Yesus, yang adalah Orang sekampungnya, membuat mereka kecewa dan menolakNya. Iri hati dan cemburukah mereka itu?  Mengapa mereka tidak mampu memandang seseorang yang mempunyai kepandaian dan kuasa yang melebihi diri mereka?  Seharusnya mereka bangga atas Orang sekampungnya. Apakah penolakan mereka ini hanya sebatas ketidakmampuan mereka memandang Yesus Anak Yusuf dan Maria, atau karena memang tidak mampu menikmati kehadiran Allah di tengah-tengah umatNya? Orang-orang Nazaret menolakNya, seperti orang-orang Gadara, tetapi sepertinya tidak berteriak-teriak: 'Engkau harus mati! Mengapa engkau bernubuat demi nama TUHAN', sebagaimana diteriakkan para imam, para nabi dan seluruh rakyat Yehuda kepada Yeremia (Yer 26:1-9).

'Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya', tegas Yesus kepada mereka semua yang mendengarkan pengajaranNya. Di mana Yesus sebagai seorang Nabi yang diterima dengan baik? Mungkin hanya di rumah Martha dan Maria, atau di rumah ibu mertua Petrus. Di Kepernaum, Khorazim dan Betzaida, di mana Yesus banyak membuat mukjizat, tidak mendapatkan sambutan positif. Yesus juga tidak membandingkan diriNya dengan Elia yang pergi ke janda Sarfat, atau Elisa yang menyembuhkan Naaman orang Siria.

Karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ.

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, berilah kami kerendahan hati untuk mampu menerima kelebihan orang lain sebagai suatu hal yang menyemangati kami, agar kamipun dapat melakukan hal yang mendatangkan kebaikan bagi orang lain. Amin

 

Contemplatio

Pertama, karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ. Kepercayaan kepada Tuhan memang selalu mendatangkan rahmat dan berkat.

Kedua, 'seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya'. Tindakan seperti inilah yang kita peroleh kalau kita berani berbagi kasih terhadap orang-orang sekitar kita. Siapa takut?

 







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018