Kamis Pekan Biasa XVIII, 9 Agustus 2018

Yer 31: 31-34 + Mzm 51 + Mat 16: 13-23


Lectio

Suatu hari Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?" Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi." Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga." Lalu Yesus melarang murid-muridNya supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun bahwa Ia Mesias.

Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-muridNya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau." Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."


Meditatio

'Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?', tanya Yesus kepada para muridNya. Namun mengapa baru ditanyakan kepada mereka, ketika tiba di daerah Kaisarea Filipi? Adakah maksud tertentu? Mengapa tidak waktu mereka berada di Kapernaum atau di Nazaret? 'Ada yang mengatakan', sahut mereka. 'Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan Elia, dan ada pula yang mengatakan Yeremia, atau salah seorang dari para nabi'. Yesus disejajarkan dengan para nabi besar. Mengapa tidak ada yang menyejajarkan Yesus dengan Musa? Apakah mereka sudah memahami bahwa sang Guru bukanlah Mesias bangsa Israel semata?  Lalu Yesus bertanya kepada mereka: 'tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?' Bukankah kalian berkumpul denganKu setiap hari? Bukankah kalian mengenal Aku?

'Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!', sahut Simon Petrus. Mengapa Yohanes tidak secepat Petrus dalam menjawab pertanyaanNya? Bukankah dia adalah murid yang dikasihiNya? Simon yakin bahwa Yesus adalah Allah sendiri. Kata Yesus kepadanya: 'berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga'. Simon berkata demikian, ternyata bukan karena semata-mata pengenalan pribadi, melainkan karena kasih karunia Allah yang selalu campurtangan dalam pengenalan akan diriNya. Allah membuka diriNya melalui bahasa dan keberadaan umatNya. Iman adalah anugerah Allah kepada umatNya.

'Dan Aku pun berkata kepadamu', tambah Yesus, pertama 'engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya'. Komunitas yang didirikanNya bersifat abadi, sebagaimana ditegaskan bahwa barangsiapa percaya kepadaNya tidak akan mati selama-lamanya (lih. Yoh 11). Apalagi iman kepercayaan, sebagaimana dinikmati Petrus, selalu berada dalam kasih karuniaNya. Kedua, 'kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga'. Besar sekali kepercayaan yang diberikan kepada Petrus. Sebaiknya bagi orang-orang yang percaya kepadaNya akan mendapatkan kepercayaan daripadaNya. Sebagaimana seindah iman kepercayaan Petrus, demikianlah orang-orang yang percaya kepadaNya, akan mendapatkan kepercayaan daripadaNya. Tepatlah apa yang dikatkan Yesus dalam suatu kesempatan, agar kita, para muridNya, saling mengasihi dan mengampuni sampai tujuhpuluh kali tujuh kali. Kalau seluruh umatNya mendapatkan tugas dan kepercayaan sebesar itu, apalagi tentunya mereka yang ambil bagian dalam karya pastoral, sebagaimana dilakukan oleh Simon Petrus bersama para rasul lainnya. Lalu Yesus melarang murid-muridNya supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun bahwa Ia Mesias. Mengapa misteri Kerajaan ini tidak dibuka mulai saat itu juga? Sepertinya memang misteri sang Empunya Kerajaan ini disampaikan dalam pekerjaan-pekerjaan yang dilakukanNya (lih. Yohanes), dan bukan sebutan, panggilan ataupun gelar, sebagaimana dikatakan orang.

Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-muridNya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Inilah misteri penyelamatan yang hendak dikerjakan Yesus sebagaimana permintaan Bapa sendiri. Perlawanan terjadi di kota kudus, dan dilakukan oleh orang-orng yang ada di sekitarNya. Bukankah keselamatan datang dari bangsa Yahudi? (Yoh 4). Apakah semuanya itu harus terjadi? Bukankah Mesias itu penuh kuasa dan selalu ada bersama Bapa? Semuanya itu tidak boleh terjadi, maka segera Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: 'Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau'. Kemauan Yesus ditentangnya, karena tidak sesuai denga pikiran sehat. Bagaimana mungkin seorang Mesias harus menderita dan wafat? 'Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia'. Yesus tahu dan mengerti isi pikiran Petrus mengapa dia bertindak demikian, tetapi itulah kuasa kegelapan yang memang hendak menenggelamkan setiap orang dalam kecenderungan insani, dan menghalang-halangi setiap orang yang hendak menikmati keselamatan. Kuasa itu seolah-olah mengunggulkan dan membela kemampuan insani, tetapi sebenarnya mereka malah membinasakan setiap orang, yang memang pada dasarnya selalu terhubung dan terarah kepada sang Empunya kehidupan, sebab bukankah Alah sendiri telah bersabda: 'Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku?' (Yer 31: 31).

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kami seringkali melawan Engkau, karena kami ingin mencari kepuasan diri, kami tidak ingin aneka hal yang tidak menyenangkan diri. Ajari kami untuk setia berjuang, dan siap belajar tentang kehidupan yang mengarahkan diri ini kepada keselamatan. Amin.

 

Contemplatio

Pertama, 'Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!'.  Inilah iman kepercayaan kita. Malah semuanya itu telah tersurat dalam diri kita, sebagaimana dikatakan Tuhan sendiri: 'Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku'.

Kedua, keterbukaan diri akan sabdaNya akan membuat kita semakin mengenal Allah. Kata-kata: 'berbahagialah engkau, sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga', kalau memang kita selalu mengamini sabdaNya.

Ketiga, 'enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia'. Janganlah hal ini sampai dikatakan Yesus kepada kita, karena kita degil hati, dan mau mencari menangnya sendiri dalam hidup ini.







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Pesta Maria mengunjungi Elizabet

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis