Selasa Pekan Biasa XIX, 14 Agustus 2018

Yeh 2: 8-20 + Mzm 119 + Mat 18: 1-5.10.12-14


Lectio

Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?"  Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.  Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.  Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga. Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu?  Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang."


Meditatio

'Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?', tanya para murid kepada Yesus. Mengapa mereka bertanya demikian? Adakah kepastian bahwa mereka dapat masuk surga? Mengapa mereka tidak bertanya dulu siapakah yang dapat masuk surga? Entah kenapa mereka tiba-tiba bertanya demikian. Mendengar pertanyaan itu, Yesus berkata kepada mereka: pertama, sambil memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka 'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga'. Mereka yang masuk surga adalah orang-orang yang selalu berani bertobat dan bertobat. Bertobat berarti ada kepatuhan diri kepada sabda dan kehendak Tuhan. Bertobat berarti orang membiasakan diri untuk tidak terbawa oleh kecenderungan insani. Ketaatan dan kepatuhan kepada Tuhan Allah tentunya seperti ketaatan dan keberundukan seorang anak kecil terhadap orangtuanya. Mereka taat kepada orangtua mengingat keterbatasan dan kelemahan diri. Bersama orangtua, seorang anak merasakan sukacita dan senang, demikian kita bersama Tuhan sang Empunya kehidupan.

Kedua, 'sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga'. Kesadaran diri untuk terus berani belajar dan belajar seperti anak kecil itulah sikap yang berkenan kepada Tuhan. Kesadaran diri sebagai orang yang tidak tahu banyak persoalan hidup membuat dia berani belajar dan bertanya kepada sesamanya bagaimana belajar tentang kehidupan ini, terlebih merundukkan diri di hadapan Tuhan. Aku adalah hamba yang tak berguna, aku hanya melakukan segala yang menjadi kewajibanku.  Inilah kata-kata dan sikap seseorang yang rendah hati, yang hendak menjadi orang terbesar dalam Kerajaan Surga.

Ketiga, 'barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku'. Kehadiran Yesus dalam diri orang-orang kecil, hina dan lemah ditampakkan juga dalam diri anak-anak kecil. Berjumpa dengan anak kecil konkritnya kita tidak mendapatkan apa-apa, sebaliknya kita harus memberi dan memberi kepada mereka. Itulah perhatian Imani. Kita harus keluar dari dalam diri dan menaruh hati kepada mereka. Sambutan yang disertai kesetiaan hati memang tak dapat disangkal adalah perhatian terhadap Tuhan Allah sendiri.  'Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini, karena malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga'. Tuhan Allah selalu menaruh perhatian terhadap orang-orang yang membutuhkan pertolonganNya.

Yesus lalu menambahkan: 'bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu?  Dan Aku berkata kepadamu: sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat'. Perumpamaan yang amat sederhana dan mudah dimengerti. Sebagaimana seorang gembala yang tidak mau kehilangan satu dari kawanan dombanya, 'demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang'. Pertobatan diri mengingatkan kita semua, bahwa sepertinya Allah telah terlebih dahulu mencari dan mencari kita umatNya. Allah mencari, karena amat menghendaki kita selalu dalam keadaan selamat dan bahagia. Siapakah yang dapat masuk Kerajaan Surga kiranya itulah yang perlu diperjuangkan daripada bertanya siapakah yang terbesar.

Kalau Allah selalu mencari dan mencari kita tentunya kemauanNya inilah yang harus kita utamakan, dan bukan semata-mata kita mengandalkan kekuatan diri untuk mendapatkan belaskasihanNya. Kehendak Tuhan harus lebih kita utamakan daripada usaha baik diri. Kehendak Tuhan sebagaimana tersurat dalam kitab sucinya hendaknya menjadi makanan hidup keseharian kita (bdk Yeh 2: 8-20).

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, berilah kami kerendahan hati untuk berani terus belajar dan bergantung kepadaMu, agar kamipun kelak boleh menjadi yang terbesar dan menikmati kebahagiaan surgawi di dalam kerajaanMu.

Santo Maksimilianus Kolbe, doakanlah kami. Amin.

 

Contemplatio

Pertama, 'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga'. Selalu membutuhkan Tuhan, sebagaimana anak kecil yang membutuhkan pendampingan orangtua, adalah pertobatan sejati; dan pertobatan inilah yang membuat kita masuk dalam Kerajaan Surga.

Kedua, kita diminta selalu mencari Dia, karena 'Bapa yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang'. Allah amat possesif dalam perihal keselamatan.

Ketiga, kehendak Tuhan kiranya kita utamakan daripada usaha baik diri. Kehendak Tuhan sebagaimana tersurat dalam kitab suci hendaknya menjadi makanan hidup keseharian kita. MakananKu adalah melakukan kehendak Bapa yang mengutus Aku.

 






Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018