Selasa Pekan Biasa XX, 21 Agustus 2018

Yeh 28: 1-8 + Mzm + Mat 19: 23-30



Lectio

Suatu hari Yesus berkata kepada murid-muridNya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga.  Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."  Ketika murid-murid mendengar itu, sangat gemparlah mereka dan berkata: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?"  Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin."  Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?"  Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.  Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu."

 

Meditatio

Lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Suatu penyataan yang amat sulit dimengerti. Bukankah setiap orang harus mempunyai bekal kehidupan untuk dimakan dan diminum untuk hari ini dan esok? Bukankah orang merasa nyaman, bila keperluan dasar terpenuhi?  Apakah kita semua harus menjadi orang miskin dan melarat? Bukankah kekayaan adalah anugerah Tuhan sendiri kepada kita umatNya? Jika orang tetap membutuhkan nafkah sehari-hari dan memerlukan kekayaan, 'siapakah yang dapat diselamatkan?'. Yesus tidak merasa digelisahkan dengan keluhan para murid, malah dengan tegas mengatakan: 'bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin'. Segala yang disabdakan itu bisa dan memang harus terjadi.

Penegasan Yesus ini seperti memberi keterangan tentang orang muda yang pergi dengan sedih, karena harta yang dimilikinya. Bagaimana mungkin dia memang menikmati keselamatan kekal kalau memang mampu melakukan segala perintah Allah hanya karena topangan harta benda? Tanpa kekayaan yang dimiliki, dia tidak mampu melakukan semua perintah Allah.

Kami ini yang telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?'. Apakah kami akan mendapatkan sesuatu? Itulah protes para murid? Sepertinya mereka telah merasa berjasa dan patut mendapatkan upah.

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel'. Suatu jaminan hidup yang diberikan Yesus kepada para muridNya. Mereka, yang selalu mengikutiNya, akan mendapatkan tempat yang nyaman dalam Kerajaan Surga. Tanpa diminta, sebagaimana yang pernah dikatakan oleh ibu Zebedeus bagi kedua anak-anaknya, Yesus memberikan terindah bagi mereka. Mereka malah mempunyai kuasa untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Indah kali jaminan keselamatan yang diterima oleh keduabelas muridNya.

Demikian juga setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal. Ternyata jaminan keselamatan dan sukacita juga diberikan kepada setiap orang yang berani meninggalkan segala-galanya demi Kristus Tuhan. Pada saat meninggalkan segala-galanya, mereka mendapatkan ganjaran yang berlipat ganda, seratus kali lipat, dari segala yang mereka tinggalkan; dan terlebih hidup kekal akan mereka nikmati kelak di akhir jaman. Itulah rahmat dan berkat bagi orang-orang yang memang berani meninggalkan segalanya.

Namun begitu, 'banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu'.  Artinya, orang tetap diajak untuk tidak terikat dengan segala peristiwa insani dan segala yang dimilikinya, setiap orang diajak untuk berani melepaskan diri dari segala kecenderungan insani. Kita manusia diminta mampu memberi, tanpa harus memaksa belaskasihNya. Kerelaanhati adalah bajuzirah dalam pemberian diri. Semuanya ini mengingatkan kita akan raja Tirus, yang memang lebih berhikmat dari Daniel dan mempunyai banyak kekayaan, tetapi semuanya itu membuat diri sombong dan menyamakan diri dengan Allah (Yeh 28: 1-10). Kesombongan menjadikan diri miskin dan binasa di akhir perjalanan hidupnya.

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kami bersyukur atas rahmat anugerahMu di dalam hidup kami; semoga kami dapat menikmati semuanya itu dengan penuh syukur dan terima kasih kepadaMu. Jikalau Engkau mau mengambil segala yang telah Engkau berikan kepada kami, hanya ucapan syukur dan terima kasih yang kami sampaikan, karena kami telah Engkau ijinkan mencicipinya barang sejenak.

Santo Pius, doakanlah kami selalu, amin.

 

Contemplatio

Pertama, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sungguh akan terjadi, sebab 'bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin', bila memang seseorang mengandalkan kekayaan dalam melakukan aneka kebaikan.

Kedua, 'setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal'. Barangsiapa berani memberi, dia malahan akan banyak menerima.

Ketiga, 'banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu'.  Kebaikan harus dilakukan tanpa pamrih, karena belaskasih Allah hanya ada pada pihakNya.

 







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018