Selasa Pekan Biasa XXI, 28 Agustus 2018

2Tes 2: 13-17 + Mzm 96 + Mat 23: 23-26

 

Lectio

Suatu hari Yesus berkata: 'celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.  Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan.  Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih'.

 

Meditatio

Suatu hari Yesus mengecam banyak orang Farisi. Tentunya Yesus berkata demikian kepada mereka dengan aneka bukti yang dimilikiNya, terlebih kemahakuasaanNya yang dapat melihat hati dan budi umatNya.  'Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan'. Apalah artinya membayar persepuluhan selasih, adas manis dan jintan bagi mereka yang memang mampu? Bukankah memang persepuluhan hanya diberikan oleh mereka yang mampu? Namun keadilan, belaskasih dan kesetiaan malah mereka abaikan. Mereka berarti bertindak semaunya sendiri, tidak ada hati yang penuh belaskasih terhadap sesamanya. Kesetiaan terhadap orang-orang yang lemah mereka abaikan, karena kaum lemah tidak mendatangkan keuntungan. Terhadap sesama saja mereka tidak setia, apalagi terhadap Tuhan, yang tidak tampak oleh mata manusia?  Mereka yang tidak mau tahu terhadap keadilan, belaskasih dan kesetiaan adalah orang-orang celaka.

'Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan'. Inilah sikap munafik, yang memang hanya mencari muka. Maksudnya hanya satu, yakni mendapatkan pujian dari orang-orang yang melihatnya. Inilah kemunafikan yang dimaksudkan Yesus dengan kata-kataNya tadi. 'Nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan'. Bukankah ini adalah sebuah kobodohan yang luar biasa? Mereka berpura-pura menjaga kebersihan yang higienis, tetapi malahan sebaliknya.  'Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih'. Sebab apalah yang kamu dapat dengan kemunafikan itu. Pujian dari sesama manusia hanya bersifat temporal, tidaklah demikian pujian dari Tuhan sang Empunya kehidupan ini.

Apakah kecaman Yesus ini membenarkan apa yang disampaikan oleh para pemazmur, bahwasannya Tuhan akan datang menghakimi dunia dengan adil? (Mzm 96). Ya benar, karena memang Dialah sang Nabi. Dialah Mesias. Malah dalam pengajaranNya, Yesus juga mengajak para muridNya untuk berani mengingatkan dan menegur orang lain yang jatuh dalam dosa. Santo Agustinus, yang kepandaiannya melebihi kaum Farisi dan para ahli Taurat, tidak mencari muka dalam pengajarannya bagi Gereja. Agustinus malah menyerahkan segala kemampuannya untuk kehidupan Gereja dan pengembangan umat Allah.

'Kami tidak pernah bermulut manis; kami juga tidak pernah mencari pujian dari manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus', tegas Paulus dalam pengajarannya kepada umat di Tesalonika (1Tes 2: 4-7). Paulus tidak mau dituduh orang munafik. Sebaliknya dia berkata-kata dengan jujur segala yang terjadi pada dirinya. Apakah kita harus bermulut manis dalam pewartaan sabda Tuhan? Bukankah perkataan-perkataanNya itu keras, maka kita perlu menghaluskannya? Paulus menegaskan: 'karena Allah telah menganggap kami layak untuk mempercayakan Injil kepada kami, karena itulah kami berbicara, bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji hati kita'. Paulus tidak mampu berkata-kata dan bersikap munafik. Paulus hanya ingin menyampaikan segala sabda dan kehendak Allah yang mengutusnya.

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, beri kami kemampuan untuk berbuat kasih dengan tulus hati daripada berkata-kata indah terhadap orang lain, yang hanya mendatangkan pujian semata. Tetapi bagaimana kami dapat menyukakan hatiMu dengan melakukan perintahMu, bukan menjadi orang munafik di hadapan sesama kami.

Santo Agustinus, doakanlah kami. Amin.

  

Contemplatio

Pertama, 'celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan'. Janganlah kecaman itu diarahkan Yesus kepada kita. Hendaknya kita jujur dan tidak mencari muka dalam karya pelayanan dan sikap baik terhadap sesama.

Kedua, 'kami tidak pernah bermulut manis; kami juga tidak pernah mencari pujian dari manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus'. Kata-kata Paulus yang tidak mau mencari muka dan tebar pesona ini, hendaknya juga menjadi spiritualitas hidup kita.

 







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Pesta Maria mengunjungi Elizabet