Peringatan Maria Berdukacita, 15 September 2018

Ibr 5: 7-9  +  Mzm 31  +  Luk 2:  33-35


 

Lectio

Pada waktu itu bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia.  Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."

 

Meditatio

Pada waktu itu bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia, bahwasannya Simeon begitu bergantung hidupnya pada kedatangan sang Bayi kecil ini. Sebab dengan jujur Simeon berkata: 'sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu,  yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa,  yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel'. Anak ini benar-benar menentukan hidup Simeon, dan itulah yang memang diharapkannya. Namun kedua orangtua sang Bayi itu tidak banyak berkata-kata, dan bertanya tentang ucapan sang imam itu. Yosef dan Maria pasti tidak mengerti apa yang dimaksudkan Simeon

Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: 'sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan'.  Kehadiran Yesus memang benar-benar membawa pedang, dan bukannya membawa damai. Pedang dibawaNya karena kedatanganNya membawa gertakan yang mengagetkan banyak orang. Ada yang dijatuhkan, ada juga yang dibangkitkan. Banyak orang akan berselisih pendapat tentang kehadiranNya. Ada yang menyukai, ada juga yang melawanNya.  'Dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang', tegas Simeon kepada Maria. Mengapa Maria harus mengalami hal seperti itu, apakah salah dan kekurangan Maria? Apakah memang semuanya itu adalah resiko dari seseorang yang berani menerima kehadiran sang Bayi? Atau karena memang Maria telah mengamini sabda dan kehendak Tuhan?  

Nubuat Simeon adalah pernyataan dukacita Maria menerima Yesus. Dukacita Maria bukanlah rintihan seseorang yang sakit berkepanjangan dan banyaknya derita yang diterimanya. Dukacita Maria adalah sebuah pemurnian kesetiaan dari seseorang yang percaya akan kehendak dan sabda Tuhan; walau jalan salib kehidupan yang harus dilaluinya. Dia tetap berjalan dan berjalan mengikuti sang Putera. Maria tahu memilih yang terbaik bagi hidupnya. Dia tahu, bahwa akan tetap mendapatkan penghiburan dari sang Putera. Peristiwa Kana kiranya meneguhkan sikap hidupnya, bahwa di tengah-tengah jalan salib dia masih didengarkan oleh sang Puteranya yang kudus, yang adalah Tuhan Allah sendiri. Kesetiaan Maria sampai di bawah kayu salib, juga mendapatkan peneguhan, bahwa dirinya tetap dipercaya oleh sang Putera untuk mendampingi para muridNya. Dukacita Maria adalah keberanian memanggul salib kehidupan; walau tidak mengenakkan dan bahkan terasa pahit dan menyakitkan, Maria tetap berani memanggulnya dengan penuh kepercayaan dan harapan. Dukacita Maria bukanlah penderitaan insani.

'Sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya' (Ibr 5: 8-9). Apakah Maria sudah membaca renungan surat Ibrani ini? Tentunya belum. Namun seperti surat inilah yang dihayati oleh Maria, sang Bunda. Kalau Yesus saja mau taat dari segala yang dideritanya, Maria pun sepertinya yakin bahwa dirinya juga mampu melaksanakan semuanya itu, karena sang Putera selalu bersama dengan dirinya.

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, lewat salib kehidupan kami masing-masing, kiranya kami semakin dimurnikan dalam mengikuti dan mengamini sabdaMu. Ada salib dalam diri kami menyadarkan diri akan adanya keselamatan dalam diri kami.

Bunda Maria, doakanlah kami. Amin

 

Contemplatio

'Suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang'. Maria diingatkan akan resiko menerima Yesus, yang tidak lain dan tidak bukan, menerima salib kehidupan itu sendiri.

 

 







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Pesta Maria mengunjungi Elizabet