Pesta Rasul Matius, Penulis Injil, 21 September 2018

Ef 4: 1-7  +  Mzm 19  +  Mat 9:  9-13


Lectio

Suatu hari hari Yesus melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku." Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.

Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-muridNya.  Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: "Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?"  Yesus mendengarnya dan berkata: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.  Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."

 

Meditatio

Suatu hari hari Yesus melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: 'ikutlah Aku'. Apakah memang Yesus sudah tahu bahwa si pemungut cukai ini bernama Matius? Atau memang sebutan dari sang penulis Injil itu sendiri? Yesus pasti mengenal sungguh siapakah orang yang dipanggilNya itu. Dia memanggil Matius, dan bukannya yang lain.  Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia. Apakah Matius juga sudah mengenal Orang yang memanggil dirinya itu? Tidak sepertinya.  Namun itulah iman kepercayaan. Iman tidak menuntut Dia yang dipercayainya. Iman meminta keberanian seseorang untuk berserah kepadaNya sang Empunya kehidupan itu. Ketidakmampuan akal budi memahami Siapakah Dia, karena memang Dia itu Mahakuasa. Tuhan Allah di luar kekuasaan kita manusia. Kita bagaikan setetes air pada pinggir timba.

Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-muridNya. Kapan itu terjadi? Apakah sebelum pergi jauh mengikuti sang Guru, Matius mengajak dulu singgah di rumahnya? Atau memang di kemudian hari, karena memang Injil tidak menceritakan kronologis peristiwa demi peristiwa? Namun sungguh terjadi, Yesus makan bersama para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Matius memang seorang pemungut cukai. Dia bukanlah orang yang kebetulan duduk-duduk di kantor pemungut cukai, ketika dipanggil sang Guru.

Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: 'mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?'. Mengapa orang-orang Farisi tidak bertanya mengapa kalian makan bersama orang-orang berdosa? Apakah para murid tidak ikut makan bersama sang Guru? Pasti Yesus sendiri yang menjadi sasaran tembak mereka. Posisi para pemungut cukai dan orang-orang berdosa itu sama.  

Yesus mendengarnya dan berkata: 'bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit'. Benar memang. Orang-orang bodoh yang memerlukan guru. Hanya anak-anak yang memerlukan orangtua.  'Pergilah dan pelajarilah arti firman ini: yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa'. Belas kasihan lebih penting daripada persembahan. Persembahan memang penting dan perlu sebagai ungkapan rasa syukur, tetapi tentunya aneka persembahan tidak akan menggantikan belaskasih terhadap sesama. Benarkah kita mudah memberikan kolekte dan dana bansos, tetapi begitu keras terhadap para pembantu rumah tangga kita?  Sungguh beranikah kita berkata kepada kedua orangtua kita 'apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah?' (Mat 15: 5). Itulah memang yang dilakukan orang-orang Farisi yang 'membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi mengabaikan keadilan dan kasih Allah' (Luk 11: 42). Yesus yang datang hendak menyelamatkan umat manusia secara sengaja Dia memanggil dan merangkul orang-orang berdosa.

Kalau hari ini kita merayakan pesta santo Matius, karena kita kembali diingatkan oleh Gereja, bahwa kita adalah orang-orang yang telah dipilih Allah berkat pewartaan karya Allah yang disampaikan oleh para nabi dan rasul, termasuk santo Matius. Allah sendiri 'yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus, kita semua, bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus' (Ef 4: 11-13). Kita yang telah dipilih dan diselamatkan, baiklah kalau kita membagikannya kepada sesama kita, agar semua orang beroleh selamat. Caranya yang paling mendasar adalah 'selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar; menampakkan kasih itu dalam hal saling membantu; dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera' (Ef 4) dalam pergaulan sehari-hari. Pesta santo Matius mengajak kita untuk berani berbagi kasih kepada sesama.

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, seringkali kami begitu mengedepankan ilmu pengetahuan dan akal budi dalam perjalanan hidup kami, dan kami secara berani mengabaikan kuasaMu. Sadarkanlah kami, bahwasannya akal budi kami amat terbatas, dan tidak akan sampai kepadaMu, bila tanpa iman yang mendalam.

Yesus, bantulah kami agar dengan tulus hati kami siap berbagi sebagai ungkapan syukur atas kasihMu kepada kami. Santo Matius, doakanlah kami. Amin

 

Contemplatio

Pertama, 'yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa'. Mereka kaum pendosa tidak sempat membawa persembahan, tetapi kasih Allah mengatasi kelemahan mereka.

Kedua, Allah sendiri yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus, kita semua, bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus'.

Ketiga, cara sederhana dalam berbgai keselamatan adalah 'selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar; menampakkan kasih itu dalam hal saling membantu; dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera'.

 







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018