Rabu Pekan Biasa XXIII, 12 September 2018

1Kor 7: 25-31 + Mzm 45 + Luk 6: 20-26


Lectio

Pada waktu Yesus memandang murid-muridNya dan berkata: "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa. Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi. Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu. Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis. Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu."

 

Meditatio

Pada waktu Yesus memandang murid-muridNya dan berkata: 'berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah'. Siapakah orang miskin itu? Apakah mereka yang melarat dan tidak mempunyai apa-apa?

'Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan'. Bagaimana orang lapar bisa berbahagia? Bukankah makan dan minum adalah kebutuhan dasar setiap orang?

'Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa'. Kapan dia bisa tertawa dan bersukacita?

'Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi'. Mengikuti Yesus, Anak manusia akan mendapatkan banyak tantangan dan rintangan, bahkan kematian pun harus dihadapinya.

Berbahagialah memang orang orang yang miskin, menangis, lapar dan dikucilkan. Yesus memuji mereka, karena ada janji yang menggembirakan. Segala kepahitan yang mereka alami itu tidak akan terus berlanjut. Segala-galanya ada waktunya. Setiap orang hendaknya mempunyai pengharapan, bahwa habis gelap terbitlah terang. Setiap orang hendaknya mempunyai pengharapan, bahwa Tuhan Allah itu baik dan penuh kasih. Kesetiaan seseorang berkanjang dan setia dalam anekea tantangan memang akan menghasilkan sukacita yang luar biasa. 'Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya' (Mzm 126: 5-6).

'Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu'. Tidakkah boleh menikmati kekayaan itu dengan penuh sukacita? Bukankah semuanya itu juga karunia dan kasihNya?

'Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar'. Bukankan semuanya itu amat temporal?

'Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis'. Janganlah masukan kami ke dalam pencobaan.

'Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu'. Bukankah mereka layak mendapatkan hukuman?

Semunya ini memang mengingatkan kita, agar kita tidak tenggelam dalam kenyaman diri, bahkan lupa daratan dalam hidup bersama. Segala yang insani ini benar-benar amat temporal dan tidak kan berkepanjangan. Hendaknya kita tidak tenggelam dalam segala kenyamanan insani. Secara tajam Paulus menasehatkan: hendaknya 'orang-orang yang beristeri harus berlaku seolah-olah mereka tidak beristeri; dan orang-orang yang menangis seolah-olah tidak menangis; dan orang-orang yang bergembira seolah-olah tidak bergembira; dan orang-orang yang membeli seolah-olah tidak memiliki apa yang mereka beli; pendeknya orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya. Sebab dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu' (1Kor 7: 29-30). Kalua orang hanya berpikiran tentang diri sendiri, dia tidak akan mendapatkan sesuatu yang indah, ataupun kalua seseorang diseret oleh kekuatiran diri Aku ingin, supaya kamu hidup tanpa kekuatiran. Setiap orang hendaknya memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan.

 

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, semoga kami dapat menikmati hidup ini dengan indahnya, sekaligus menerima aneka kenyataan hidup ini apa adanya. Semoga kami dapat menikmati sukacita yang berkepanjangan yang berasal daripadaMu. Amin.

 

Contemplatio

Pertama, adakah kita banyak mendapatkan kecaman atau ucapan bahagia daipadaNya. Mengapa kita menerimanya seperti itu?

Kedua, setiap orang hendaknya memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, karena memang kita amat memerlukan pertolongan daripadaNya.







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Pesta Maria mengunjungi Elizabet