Senin Pekan Biasa XXII, 3 September 2018

1Kor 2: 1-5 + Mzm 119 + Luk 4:  16-30


Lectio

Pada suatu kali Yesus datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.  Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis:  "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang."  Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. 

Lalu Ia memulai mengajar mereka, kataNya: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya."  Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: "Bukankah Ia ini anak Yusuf?"  Maka berkatalah Ia kepada mereka: "Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!"  Dan kataNya lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.  Dan Aku berkata kepadamu, dan kataKu ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri.  Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon.  Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu."

Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu.  Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.

 

Meditatio

Pada suatu kali Yesus datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. Apakah Yesus singgah terlebih dahulu ke rumahNya? Apakah Dia bersilahturahmi terlebih dahulu dengan sanak kerabat dan tetangga kanan-kiriNya?  Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: 'Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang'.  Hanya karena kesengajaan Allah, Dia menemukan teks itu.   Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. Mengapa Yesus langsung mengembalikan kitab itu kepada petugas? Mengapa tidak langsung menerangkan, bukankah pewartaan harus berdasarkan Kitab Suci?

Lalu Ia memulai mengajar mereka, kataNya: 'pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya'.  Mengapa tergenapi teks Kitab Suci itu?   'Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku'. Roh Kudus sendiri menyatakan bahwa Dialah Yesus, Anak Allah yang hidup, dan hanya kepadaNyalah Bapa berkenan. Dia datang bukan untuk berkata-kata dari diriNya sendiri, melainkan segala yang didengarkanNya dari Bapa itulah yang disampaikanNya. Dia diutus untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, sebab memang hanya merekalah orang-orang yang membutuhkan pertolongan dan bantuanNya. Dia diutus untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan dan penglihatan bagi orang-orang buta, yakni mereka yang tertawan oleh kuasa kegelapan yang membinasakan; kuasa itulah yang membuat mereka tidak mampu lagi melihat kenyataan apa adanya. Mereka melihat segala sesuatu menurut keinginan pikiran diri. Yesus Anak Manusia diutus untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, sebab Dia ingin membebaskan dan memberi kemerdekaan kepada setiap orang sebagai anak-anak Allah. Anak-anak Allah adalah mereka yang mempunyai hak untuk menikmati keselamatan hidup. Semuanya harus diwartakan sekarang ini juga, karena memang tahun rahmat Tuhan telah datang; yakni hari ini, sekarang, ketika kita mendengarkan sapaan Tuhan yang menghidupkan itu. Tuhan selalu datang dan menyapa umatNya.

Paulus sebagai seorang pewarta sabda juga menyadari sungguh, bahwa Roh Allah yang menggerakkan dirinya itu. Bukan aku lagi yang hidup dalam diriku, melainkan Kristuslah yang hidup dalam aku. Semangat inilah yang disadari Paulus, dan dengan jujur dia menyampaikannya kepada orang lain, bahwasannya 'baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah' (1Kor 2: 4-5). Hanya dalam RohNya yang kudus, segalanya dapat terjadi dengan indahnya.

Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: 'bukankah Ia ini anak Yusuf?'. Bagaimana Dia bisa berkata-kata demikian? Yesus yang tahu si hati dan budi umatNya berkata kepada mereka: 'tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!'. Yesus tahu bahwa mereka akan menuntut segala yang pernah dilakukanNya di daerah lain. Mereka tidak percaya dan meragukan kemampuan Orang Nazaret ini, tetapi mereka ingin juga membuktikan kehebatanNya. 'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.  Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri.  Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon.  Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu'. Yesus sepertinya menegaskan, bahwa segala sesuatu banyak tidak dilakukan di daerahNya sendiri mengingat ketidakpercayaan mereka akan datangNya Yang indah dari Nazaret. Bukan saja orang-orang sejamanNya, malah telah lama terjadi di jaman Perjanjian Lama, yang mana Allah telah mengalihkan perhatian kasihNya kepada orang-orang yang bukan dari kalangan bangsa terpilih.

Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu.  Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi. Yesus dengan tegas melawan mereka, karena memang Dia tidak mau mati dengan sia-sia. Kematian yang disadariNya adalah kematian yang memberi nyawa menjadi tebusan bagi seluruh umat manusia.  

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, jadikan hati kami hati yang selalu bersyukur serta dapat menghargai dan menerima sesama, terutama mereka yang dianggap lemah dan kecil, agar namaMu semakin dipermuliakan.  Semoga kami juga semakin menyadari peran RohMu sendiri dalam diri kami; Roh yang menyemamgati, Roh yang menghidupkan itu.

Santo Gregorius Agung, doakanlah kami. Amin

 

Contemplatio

Pertama, 'Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang'. Kesadaran inilah yang hendaknya menjadi semangat hidup ini. Kita hidup hanya karena digerakkan oleh Roh Allah sendiri.

Kedua, 'sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya'. Hal ini disampaikan Yesus, karena seringkali kita tidak ikut bangga kalau ada seseorang yang ada di sekitar kita ini mempunyai kehebatan lebih dari kita.

Ketiga, mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi. Siapakah mampu membinasakan sang Empunya kehidupan? Dia mati disalibkan, karena memang kemauanNya sendiri, dan bukan karena dikalahkan oleh musuh.

 







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Pesta Maria mengunjungi Elizabet