Senin Pekan Biasa XXIII, 10 September 2018

1Kor 5: 1-8 + Mzm 5 + Luk 6: 6-11


Lectio

Pada suatu kali di hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya.  Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka dapat alasan untuk mempersalahkan Dia.  Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu: "Bangunlah dan berdirilah di tengah!" Maka bangunlah orang itu dan berdiri.  Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?"  Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya.  Maka meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus.

 

Meditatio

Pada suatu kali di hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya.  Apa yang dikerjakan orang itu? Apakah dia memang hanya sebagai pendengar, dan tidak meminta sesuatu daripadaNya? Yesus pasti sudah melihat orang itu, dan tahu siapakah dia.  Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka dapat alasan untuk mempersalahkan Dia. Inilah kejahatan mereka. Mereka sebenarnya tahu apa yang harus mereka lakukan, tetapi mereka berdiam diri, dan malah ingin membinasakan sesamanya. Mereka tahu yang hendak mereka lakukan sendiri terhadp orang itu, dan terhadap Yesus. Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu: 'bangunlah dan berdirilah di tengah!'.  Yesus mempunyai acara tersendiri untuk menantang mereka sepertinya, tetapi mereka tidak mengertinya.  Maka bangunlah orang itu dan berdiri.  

 'Aku bertanya kepada kamu: manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?', kata Yesus kepadamereka semua. Sebuah pertanyaan yang amat menantang memang. Apakah sulit pertanyaan itu? Berbuat baik berarti menyembuhkan orang itu; itu berarti mengijinkan Yesus untuk melakukan sebuah tindakan karya, yang bertentangan dengan hari Sabat. Berbuat jahat atau membinasakan tentunya pasti berlawanan dengan hukum Tuhan, sebagaimana disuratkan dalam kitab Ulangan. Yesus tahu bahwa mereka pasti bisa menjawab. Pikiran jernih pasti dengan mudah memberikan jawaban.

Berbuat baik atau berbuat jahat? Sebuah pertanyaan yang menantan untuk berani memilih salah satu. Hanya saja konsekuensinya dengan berbuat baik, seseorang harus berani menderita dan tidak popoler. Sebagai orang yang telah menikmati roti tak beragi, yakni kemurnian dan kebenaran (1Kor 5: 8), kita akan berani memilih yang terbaik dan benar bagi kehidupan ini, Apalah artinya pujian dari manusia yang bersifat temporal itu; ada baiknya kita memilih pujian dari Allah sendiri. Mereka semu berdiam diri, karena memang mreka tidak mua tahu terhadap orang lain. Mereka hanya memikirkan diri sendiri, dan mereka hanya ingin mempersalahkan Yesus.

Sesudah itu Yesus memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: 'ulurkanlah tanganmu!'.  Yesus tidak memakai aneka rumusan dan ritual, sebagaimana kita renungkan dalam Injil Minggu kemarin. Yesus cukup berkata ulurkanlah tanganmu, karena memang sabdaNya memberi kehidupan dan keselamatam. Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya.   Ia menjadikan segala-galanya baik adanya: orang yang mati tangannya sebelah dapat menggerak-gerakan tangannya dengan baik. 

Maka meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus. Orang yang tahu akan kesalahan dan kelemahan diri sebenarnya segera menyelesaikan persoalan, tetapi tidaklah demikian bagi orang-orang yang egois dan mau menyenangnya sendiri. Itulah yang dilakukan orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Benarlah apa yang pernah dikatakan Yesus: bukan saja orang yang membunuh, yang harus dihukum, mereka yang marah saja harus juga dihukum. Dosa besar berasal dari dosa kecil yang dijual-belikan.

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, jadikan hati kami hati yang selalu bersyukur, dan dapat menghargai dan menerima orang lain apa adanya, dan mengawalinya dengan berani memilih yang terbaik bagi hidup dan mendatangkan keselamatan, entah bagi diri sendiri ataupun orang lain. amin.

 

Contemplatio

Pertama, 'Aku bertanya kepada kamu: manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?'. Sabda ini selalu disampaikan Yesus kepada kita dalam setiap peristiwa kehidupan ini.

Kedua, sebagai orang yang telah menikmati roti tak beragi, yakni kemurnian dan kebenaran, pemberian Yesus sendiri, kita akan berani memilih yang terbaik dan benar bagi kehidupan.

 







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018