Senin Pekan Biasa XXIV, 17 September 2018

1Kor 11: 17-26 + Mzm 40 + Luk 7: 1-10


 

Lectio

Suatu hari setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati. Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya. Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya: "Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami." Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: "Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi! maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang! maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini! maka ia mengerjakannya." Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!" Dan setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, didapatinyalah hamba itu telah sehat kembali.

 

Meditatio

Suatu hari setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati. Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya. Seorang perwira menaruh perhatian kepada hambanya. Ia menaruh perhatian terhadap orang kecil dan sederhana. Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya: 'Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami'. Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: 'Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: pergi! maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: datang! maka ia datang, ataupun kepada hambaku: kerjakanlah ini! maka ia mengerjakannya'. Bukankah dia yang meminta Yesus dating, mengepa sekarang merasa diri tidak pantas menereimaNya? Namun dia memang orang yang rendah hati dalam hidup kesehariannya. Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: 'Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!'. Yesus pun dibuatnya terkagum-kagum atas dirinya. Israel, sebagai bangsa terpilih, belum pernah melontarkan kata-kata iman seperti itu, walau mereka menerima banyak anugerah dan berkatNya. Dan setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, didapatinyalah hamba itu telah sehat kembali.

'Ia meninggikan orang-orang yang rendah' (Luk 1). Iman kepercayaan Maria benar-benar terbukti, yakni segala yang dilakukan Yesus sang Putera. Yesus memperhatikan orang-orang yang rendah hati dalam hidupnya. 'Barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan' (Luk 14), dan Yesus telah melakukan semuanya itu.

Teguran Paulus kepada orang-orang Korintus yang menyantap makanan sendiri dan melupakan kaum miskin dalam sebuah pertemuan (1Kor 11: 17-22) menunjukkan bahwa kerendahanhati perlu diungkapkan dalam kehidupan bersama, terlebih dalam saat seseorang mempunyai kepentingan.

 

Oratio

Ya Tuhan Allah kami, kami begitu mudah menyombongkan diri dalam pergaulan sehari-hari. Buatlah kami untuk selalu merendahkan diri dalam karya pelayanan hidup sehari-hari, sehingga kami dapat setia sampai akhir hidup.

Santo Albertus, doakanlah kami. Amin.

 

Contemplatio

Pertama, katakan saja sepatah kata, maka aku akan sembuh. Inilah iman kepercayaan, dan inilah yang selalu kita ucapkan dalam setiap perayaan ekaristi.

Kedua, 'Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!'. Kita tunjukkan, bahwa kita sekarang ini sudah mempunyai iman.







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018