Kamis Pekan Biasa XXIX, 25 Oktober 2018

Ef 3: 14-21 + Mzm 33 + Luk 12: 49-53

 

 

Lectio

Suatu hari bersabdalah Yesus: 'Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!  Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung!  Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.  Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga.  Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya."

 

Meditatio

'Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!', tegas Yesus. Yesus sepertinya ingin mendobrak kemapanan dan kenyamanan.  'Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan'. Sebuah konsep hidup yang dikumandangkan Yesus bagi setiap orang yang hendak mengikutiNya. Mengikuti Kristus Tuhan berarti siap sedia menerima kenyataan 'akan adanya pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga.  Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya'. Kita bukan saja sebagai penonton, malah terlibat di dalamnya. Mengapa harus terjadi semuanya itu? Bukankah keselamatan itu adalah kedamaian dan sukacita?

Benar memang keselamatan itu penuh sukacita, kebahagiaan dan damai. Namun tak dapat disangkal, semuanya itu tidak jatuh dari atas. Allah memang melimpahkan semuanya itu tanpa bayar, tetapi dituntut keberanian untuk menerimanya. Menerima keselamatan berarti menolak kebinasaan, menyangkal diri dan memanggul salib. Menerima Yesus berarti menomersatukan sang keselamatan itu. Menerima Yesus adalah sebuah pilihan hidup yang menomersatukanNya. Saat itulah terjadi pertentangan antar yang menolak dan menerima sang Keselamatan; bisa saja terjadi antara anak dan orang tua, antara orang-orang yang ada dalam satu rumah. Akal budi dan kehendak bebas ikiut mengkondisikan setiap orang berbeda satu dengan lainnya.

Kalau Yesus menegaskan: 'Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung!', semua itu mengena pada salib yang hendak dipanggulNya. Bagi Yesus sendiri, sudah mantablah hati dan budiNya:  Aku datang untuk melakukan kehendakMu. Tidaklah demikian dengan banyak orang yang mengikutiNya. Namun semuanya tetap harus dilakukan oleh setiap orang yang percaya kepadaNya. Itulah salib. Itulah kehidupan. Aku berdoa semoga kalian dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah (Ef 3: 19), tegas Paulus. Kita tidak sendirian dalam memanggul salib kehidupan. Seluruh umat Kristus akan saling meneguhkan satu sama lain.

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kami bersyukur atas rahmat dan berkatMu. Kami memang tidak mengalami pertentangan dalam keluarga untuk mengikuti Engkau, malah kami mengalami perlawanan dalam diri kami sendiri, yang sering mencari kepuasan diri. Kami cenderung meninggalkan Engkau, karena Engkau tidak langsung menjawab doa-doa kami.

Yesus, teguhkanlah iman kepercayaan kami. Amin.

 

Contemplatio

'Aku datang bukan untuk membawa damai di atas bumi. Aku datang membawa pertentangan'. Yesus meminta agar kita berani memilih yang terbaik dan mendatangkan keselamatan, walau harus berhadapan dengan arus kehidupan sehari-hari.







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Pesta Maria mengunjungi Elizabet