Kamis Pekan Biasa XXVI, 4 Oktober 2018

Ayb 19: 21-27 + Mzm 27 + Luk 10: 1-12

 

 

Lectio

Pada waktu itu Tuhan Yesus Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu. Tetapi jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah: Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat. Aku berkata kepadamu: pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu."

 

Meditatio

Pada waktu itu Tuhan Yesus Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Mengapa hanya tujuhpuluh murid? Mengapa harus berdua-dua? Apakah kedatangan mereka dimaksudkan sebagai persiapan akan kedatangan sang Guru?

Ada banyak pesan yang disampaikanNya, sebelum keberangkatan mereka. Pertama, 'tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu'. Mengapa tidak Yesus sendiri yang meminta, mengapa para murid malah disuruhNya? Bukankah datangnya para banyak pekerja demi kepentingan sang empunya tuaian?

Kedua, 'pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala'. Perutusan Yesus bukanlah tugas yang ringan, melainkan penuh tantangan dan resiko. Keselamatan jiwa kiranya menjadi perhatian dari para murid.

Ketiga, 'janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan'. Mengapa tidak boleh membawa perbekalan? Mengapa juga tidak boleh menyapa orang lain dalam perjalanan? Merepotkankah semuanya itu?

Keempat, 'kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: damai sejahtera bagi rumah ini. Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu'. Sukacita secara istimewa akan dialami oleh para murid, jika mereka mendapatkan sambutan hangat; tidaklah demikian, bila mereka diabaikan. Sepi dan menyakitkan.

Kelima, 'tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah'. Yesus sepertinya memberikan jaminan, bahwa mereka akan banyak mendapatkan perhatian dari orang-orang yang didatangi mereka. Apakah karena hal ini, sehingga mereka tidak perlu membawa aneka perbekalan? Tidak perlu berpindah-pindah rumah apakah dimaksudkan, agar tidak merepotkan banyak orang?

Keenam, 'jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu'. Para murid memang harus membawa berkat bagi orang-orang yang dikunjunginya. Keberanian mereka menerima para murid akan mendapatkan kunjungan Yesus Kristus sendiri, sang Empunya Kerajaan Allah.

Ketujuh, 'jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah: juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat. Aku berkata kepadamu: pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu'. Apa pengkibasan debu sebagai tanda peringatan keras bagi orang-orang yang tidak mau menerima mereka? Apakah juga sebagai penegasan, bahwasaannya wajib hukumnya bagi setiap oranag untuk menerima karya pewartaan para murid? Penolakan mereka tidak mengubah kedatanagan Anak Manusia ke tengah-tengah umatNya; hanya saja penolakan mereka akan mendatangkan hukuman yang lebih berat daripada yang akan diberikan kepada Sodom.

Orang-orang yang menerima pewartaan murid, yakni orang-orang yang mau mendengarkan pewartaa sabda, bahwa Kerajaan Allah sudah dekat, akan menikmati sukacita, walau mengalami aneka tantangan, bahkan iman akan kehidupan kekal semakin tumbuh dan berkembang. Itulah yang dialami dan dirasakan Ayub dalam derita hidupnya. 'Ah, kiranya perkataanku ditulis, dicatat dalam kitab, terpahat dengan besi pengukir dan timah pada gunung batu untuk selama-lamanya! Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu. Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingku pun aku akan melihat Allah' (Ayb 19: 23-26)

 

Oratio

Ya Yesus, teguhkanlah hati dan budi kami, agar kami tetap setia mendengarkan sabdaMu yang menyelamatkan itu, sebab hanya daripadaMulah keselamatan hidup ini.

Santo Fransiskus, doakalah kami. Amin.

 

Contemplatio

Pertama, 'jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah: juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat. Aku berkata kepadamu: pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu'. Yesus menegaskan sungguh, agar setiap orang berani menerima pewartaan sabdaNya.

Kedua, 'ah, kiranya perkataanku ditulis, dicatat dalam kitab, terpahat dengan besi pengukir dan timah pada gunung batu untuk selama-lamanya! Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu. Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingku pun aku akan melihat Allah'. Inilah iman kepercayaan.

 






Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018