Minggu Pekan Biasa XXVII, 8 Oktober 2018

Kej 2: 18-24 + Ibr 2: 9-11 + Mrk 10: 2-12

 

 

Lectio

Pada waktu itu datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya: "Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?"  Tetapi jawab-Nya kepada mereka: "Apa perintah Musa kepada kamu?"  Jawab mereka: "Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai."  Lalu kata Yesus kepada mereka: "Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu.  Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.  Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya pula kepada Yesus tentang hal itu. Lalu kata-Nya kepada mereka: "Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu.  Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah."

 

Meditatio

Pada waktu itu datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya. Inilah kejahatan kita juga, yang sering berani mencobai sesama, bahkan Yesus Kristus sendiri menjadi sasaran orang-orang yang dikasihiNya. 'Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?'.  Sebuah pertanyaan yang menarik dilontarkan mereka. apakah mereka hendak mengerti tentang hukum Taurat dan kitab para nabi? Tidak. Mereka hanya mau mencobai, dan mencari kesalahan orang lain.  Jawab Yesus kepada mereka: 'apa perintah Musa kepada kamu?'. Mengapa Yesus langsung menghubungkan persoalan mereka dengan perintah Musa?  Mengapa tidak kepada nabi lain? Tidak kepada raja Daud? Musa menjadi referensi mereka, karena memang hukum Taurat menjadi pedoman hidup mereka. Musa dianggap sebagai penulis utama seluruh kitab Taurat. dialah seorang tokoh sejarah juga, yang membebaskan mereka dari kuasa perbudakan Mesir. 'Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai', sahut mereka. Kapan surat perijinan itu diturunkan, sepertinya tidak banyak orang tahu.

'Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu', tegas Yesus kepada mereka semua. Yesus, yang tahu segalanya, menjawab mereka dengan tegas. Mengapa Musa menuliskan perijinan itu, karena himpitan orang-orang Israel. Nabi pun sering dibuat tak berdaya oleh orang-orang, yang dikasihi sang Pencipta.  'Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.  Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia'. Yesus mengembalikan semua pada kehendak Allah. Perkawinan adalah luhur dan mulia. Perkawinan adalah kehendak Allah sendiri, di mana seorang laki-laki dan perempuan saling melengkapi dan menyempurnakan. Seorang perempuan di-berada-kan bagi seorang laki-laki, guna menolong dan menyempurnakannya. Kebersamaan seorang laki-laki dan seorang perempuan adalah keluarga mandiri, yang pada akhirnya lepas dari keluarga orangtua.  Mereka bukan lagi dua, melainkan satu.

Mungkinkah Yesus menjawab pertanyaan mereka dengan berkata:  kita harus berani memahami kelemahan sesama kita. Mari kita saling tahu sama tahulah? Kalau Yesus menjawab seperti itu, apakah reaksi kaum Farisi? Apakah mereka langsung angkat jempol dan mengangkat-angkat Yesus sebagai seorang pahlawan? Tidak! Mereka pasti akan langsung melempari Yesus dengan batu dan merajam Dia. 

Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya pula kepada Yesus tentang hal itu. Lalu kata-Nya kepada mereka: 'barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu; dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah'. Tidak ada perceraian dalam diri setiap orang yang percaya kepada Kristus Tuhan sang Empunya kehidupan. Perkawinan adalah kehendak dan kemauan Allah. Bukankah memang Allah menciptakan laki-laki dan perempuan sesuai dengan citraNya? Perkawinan dalam Gereja adalah sebuah sakramen, di mana setiap orang diminta menjadi alter-Kristus dalam menebarkan keselamatan. Cinta seorang suami terhadap isterinya hendaknya menjabarkan cinta Kristus kepada GerejaNya, dan sebaliknya cinta seorang isteri terhadap suami mewujudkan kerinduan Gereja akan Kristus, sang Mempelai Laki-laki. Keluarga kristiani adalah keluarga Nazaret yang kudus, yang memberi tempat pertama dan utama bagi Kristus di tengah-tengah mereka.

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, lindungi pasangan keluarga yang telah Kau persatukan, agar mereka selalu mengutamakan kasih dalam hidup perkawinannya. Semoga kesatuan hati mereka semakin tumbuh dan berkembang, sehingga saling menyempurnakan satu sama lain. Dampingilah mereka selalu, ya Yesus, agar terwujud GerejaMu yang kudus. Amin

 

Contemplatio

Pertama, 'sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan'. Keduanya mempunyai martabat yang sama.

Kedua, 'laki-laki ataupun perempuan akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isteri ataupun suaminya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu'. Perkawinan itu menyatukan, bahkan kedua orangtua pun harus berani melepas anak-anaknya bila memang sudah dewasa.

Ketiga, 'yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia'. Perceraian adalah perlawanan terhadap kehendak Allah.






Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Pesta Maria mengunjungi Elizabet

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis