Minggu Pekan Biasa XXVIII, 14 Oktober 2018

Keb 7: 7-11 + Ibr 4: 12-13 + Mrk 10: 17-27

 

 

Lectio

Suatu hari pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"  Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain dari pada Allah saja.  Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!"  Lalu kata orang itu kepada-Nya: "Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku."  Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."  Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.  Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah."  Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: "Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah.  Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."  Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?"  Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah."

 

Meditatio

'Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah', tegas Yesus. Segala sesuatu pasti bisa terjadi, bila Allah menghendaki; termasuk 'seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah'. Dengan berkata demikian, apakah Yesus mempersalahkan kekayaan dan memuji kemiskinan? Bukankah beberapa perempuan malah menggunakan kekayaan untuk melayani Yesus bersama para muridNya? Bukankah Yesus juga sengaja berkunjung ke rumah Zakheus, orang kaya itu? Bukankah Paulus mengingatkan pula, agar setiap orang rajin bekerja?

Kalau Yesus berkata: 'hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku', semata-mata, pertama, hanya karena menaruh kasih kepada sesorang yang ingin masuk Kerajaan Surga dan beroleh hidup kekal. Yesus selalu memberi contoh praktis dalam menikmati keselamatan.

Kedua, Yesus mengingatkan, bahwa roh pengertian dan roh kebijaksanaan, sebagaimana pernah diminta Salomo, adalah karunia terindah dalam hidup ini. Roh kebijaksanaan 'lebih kuutamakan daripada tongkat kerajaan dan takhta, dan dibandingkan dengannya kekayaan kuanggap bukan apa-apa.  Permata yang tak terhingga nilainya tidak kusamakan dengan dia, sebab segala emas di bumi hanya pasir saja di hadapannya dan perak dianggap lumpur belaka di sampingnya.  Ia kukasihi lebih dari kesehatan dan keelokan rupa, dan aku lebih suka memiliki dia dari pada cahaya, sebab kilau dari padanya tidak kunjung hentinya' (Keb 7). Adakah kita juga berani memohonnya?

Apakah Yesus melarang kita mempunya kekayaan? Tidak. Namun kiranya menjadi permenungan kita bersama: apakah kita dapat melakukan segala sesuatu yang indah hanya karena ada kekayaan pada diri kita? Sepertinya segala perintah Allah seperti:  jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu telah dituruti orang itu sejak masa muda, hanya karena dia mepunyai harta. Tinggal satu kekurangannya, tetapi itulah yang dipelihara dan disimpannya. Ternyata dia lebih berat kehilangan hartanya daripada menikmati hidup kekal, sebagaimana diminta Yesus sendiri. Orang satu ini ingin masuk surga dengan cara dan kemauannya sendiri, dan bukan sebagaimana Tuhan kehendaki.

Tuhan Allah tidak pernah menjerumuskan kita umatNya. Dia menaruh belaskasihan terhadap setiap orang, tanpa memandang muka. Kiranya kasih Tuhan yang tidak memperhitungkan kelemahan kita itu, menjadi peluang bagi kita untuk mempertangungjawabkan hidup kepadaNya. Bukankah 'tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab?' (Ibr 4).

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, ajarilah kami untuk berani menyerahkan hidup kami seutuhnya dalam mengikuti Engkau, serta tidak menomersatukan segala harta dan predikat keduniawian.  Teguhkanlah kami dalam beriman kepadaMu selalu. Amin

 

Contemplatio

Pertama, 'jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu'.  Mari kita amini perintah Tuhan Allah ini.

Kedua, 'pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku'. Apakah hanya Ayub yang dapat melakukan perintah ini?

Ketiga, Roh kebijaksanaan 'lebih kuutamakan daripada tongkat kerajaan dan takhta, dan dibandingkan dengannya kekayaan kuanggap bukan apa-apa. Ia kukasihi lebih dari kesehatan dan keelokan rupa'. Hanya Salomo yang mampu berkata-kata demikian. Bukankah kita ini anak-anak Allah?

 







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Pesta Maria mengunjungi Elizabet

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis