Pesta Santa Teresia Kanak-kanak Yesus 1 Oktober 2018
Ayb 6: 1-22 + Mzm 17 + Luk 9: 46-50


Lectio
Pada suatu kali timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya, dan berkata kepada mereka: "Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar."
Yohanes berkata: "Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita." Yesus berkata kepadanya: "Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu."

Meditatio
Pada suatu kali timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka.​ ​Kira-kira siapa yang terbesar? Apakah yang paling keras suaranya? Apakah Petrus yang merasa pernah mengakui Yesus sebagai Mesias? Apakah Matius, karena dipanggil langsung oleh Yesus, dan bahkan pernah mengundang Yesus
ke rumahnya untuk makan bersama? Apakah Yohanes, karena merasa disayangi oleh Yesus? Atau Yakobus, karena siap meminum cawan yang hendak diberikan kepada Yesus? Atau siapa? Yudas Iskariot? Simon Zelot, karena memang dia seorang pejuang nasional?
Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu mengambil seorang anak kecil danmenempatkannyadisamping-Nya.A​ nakkecilitutidaktakut kepada Yesus. Apakah dia sempat menangis dan sedikit takut-takut kepada sang Guru?​ ​Lalu Yesus berkata kepada mereka: 'barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku'. Orang terbesar adalah dia yang sungguh-sungguh berani melayani. Melayani tanpa pamrih dan memperhitungkan resikonya. Apalah artinya menyambut, menyapa dan membantu anak kecil? Apa yang akan kita dapatkan dalam pelayanan terhadap mereka? Malahan pelayanan sebatas kekuatan diri, tanpa penyertaanNya, tidak akan mendatangkan rahmat dan berkat.
'​Yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar'. ​Menjadi pelayan sepertinya pekerjaan yang remeh dan rendah. Yang melayani adalah orang nomer dua, dan dia yang dilayani nomer satu. Mungkin benar. Namun tak jarang, mereka yang melayani adalah orang-orang yang ahli dalam bidangnya. Yesus sendiri mengubah image selama ini, Dia sendiri mengawali kemegahan diriNya, bukan dengan mengumbar pesona, melainkan menyatakan diri dengan kelemahan dan keterbatasanNya sebagai manusia. Dia, yang agung menyatakan diri dalam kemanusiaan. Karya penebusanNya pun, bukan tampil sebagai seorang pahlawan yang gagah perkasa, melainkan dalam diri orang yang lemah dan papa. Dia adalah Mesias di kayu salib hina.
Mengapa kita perlu melayani, dan menjadi sesame bagi orang lain? Karena segala yang kita miliki adalah pemberian Tuhan. Kalau Tuhan

mengambilnya kembali, ​terpujilah Dia. I​ tu yang harus kita katakan seperti Ayub (1: 21), dan kalau Dia meminta kita membaginya, mari kita berani berbagi (Mat 19: 21). Orang yang berani melayani sesamanya adalah mereka yang tahu berterima kasih.
'​Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita', ​tegas Yohanes. Mengapa dia sampai bertindak demikian? Apakah orang di luar komunitas kita tidak kita ijinkan berbuat baik? Apakah hak kita? Bukankah Tuhan melimpahkan anugerahNya kepada setiap orang? Yohanes tidak mampu menerima keberadaan orang lain, karena mereka tidak satu seragam, tidak satu warna, tidak satu Bahasa dengannya.​ '​Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu', d​ an dia ada bersama dengan Aku, tegas Yesus.
Mengenang karya perutusan kita tentunya teringat kepada santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus. Dia adalah seorang karmelitas kontemplatif, tetapi hati dan budinya mengatasi batasan-batasan tembok biara yang membatasi seseorang berkomunikasi dengan dunia luar. Doa-doanya yang tertata rapi dalam sebuah biara, dan dikumandangkan dengan hati yang tulus menemani para misionaris dalam karya pengembangan Kerajaan Allah. Teresia tinggal dalam biara, tetapi dia menemani para misionaris dalam karya pewartaan, agar Allah semakin meraja di dunia dan Kristus sendiri semakin dikenal oleh umatNya.
Kelemahan badani seorang Teresia memang sama sekali tidak menuntut dia supaya mendapatkan pelayanan istimewa dari komunitas di mana dia tinggal. Teresia menerima apa adanya. Sakit dan derita yang dialaminya malah dipersembahkannya kepada Yesus yang tersalib, sebagaimana dikatakannya sendiri dalam doanya: ​'Y​ esus di kayu salib

yang haus, saya akan memberikan air kepadaMu. Saya bersedia
menderita sedapat mungkin, agar banyak orang berdosa bertobat'.
Semuanya itu dilakukan, karena Teresia juga ingat bahwa segala sesuatu yang terjadi pada dirinya, hanya karena Yesus Kristus sendiri yang telah mengubah hidupnya. Teresia sadar akan keterbatasan dirinya. Semuanya terjadi seindahnya hanya karena Yesus Kristus.

Oratio
Ya Yesus Kristus, begitu banyak hambatan dan tantangan dalam tugas perutusan yang harus kami hadapi, dampingi dan kuatkanlah kami selalu, agar dapat menjadi saksi-saksiMu yang setia, bukan ketika kami pergi jauh, tetapi di mana kami tinggal dan ikut dalam aneka kegiatan keseharian kami.
Santa Teresia, doakanlah kami. Amin

Contemplatio
Pertama, ​'​Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita'. ​Hendaknya kita berani menerima keberadaan orang lain dengan lapang dada.
Kedua, ​'barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku'. M​enjadi sesama bagi orang lain mendatangkan berkat ilahi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018