Selasa Pekan Biasa XXX, 30 Oktober 2018

Ef 5: 21-33 + Mzm 128 + Luk 13: 18-21

 

 

Lectio

Pada suatu kali Yesus berkata kepada orang-orang yang mendengarkan pengajaranNya: 'seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya?  Ia seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya."  Dan Ia berkata lagi: "Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah?  Ia seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya."

 

Meditatio

'Seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya?', tegas Yesus dan pengajaranNya agar mudah dimengerti oleh mereka yang mendengarkanNya. Kerajaan Allah itu 'seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya'. Biji sesawi itu biji yang paling kecil dibandingkan dengan aneka biji lain, tetapi jika tumbuh dia menjadi seperti pohon besar yang rimbun; banyak burung bersarang pada cabang-cabangnya. Kerajaan Allah itu kurang mendapat perhatian banyak orang, bukan tanaman favorit. Apakah kita juga kurang menaruh perhatian terhadap keberadaan Kerajaan Allah?

'Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah?', tambah Yesus. Mengapa Yesus bertanya seperti itu. Apakah Yesus kehabisan akal untuk mencari perumpamaan yang benar-benar mudah dimengerti umatNya.

Kerajaan Allah itu 'seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya'. Ragi itu memang mempunyai kekuatan yang luar biasa. Sepotong kecil ragi dicampurkan dalam tepung terigu dan menjadikannya adonan. Kecil menghasilkan yang luar biasa. Demikianlah Kerajaan Allah sepertinya perkara kecil dan sederhana, tetapi jika kita berani menggelutinya dengan hati dan menikmatiNya, maka hidup akan terasa semakin indah dan penuh sukacita.

Kerajaan Allah memang bukanlah soal makan dan minum, sehingga wajar kalau kita mengalami kesulitan dalam memikir dan merenungkannya. 'Kerajaan Allah adalah soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus' (Rom 14: 17). Kerajaan menuntut kesetiaan dalam berproses, sebagaimana biji sesawi dan ragi. Kerajaan Allah juga akan terasa dalam keluarga, kalau memang ada kesetiaan antara suami istri dalam proses kehidupan sehari-hari.

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kami sering kurang memperhatikan kehadiranMu dalam aneka peristiwa hidup kami. Kami malah suka akan aneka hal yang instant dan tidak membutuhkan aneka permenungan. Semoga kami menjadi orangorang yang setia dalam aneka proses kehidupan. Amin.

 

Contemplatio

Pertama, 'Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya'. Kerajaan Allah menjadi harapan dan kerinduan banyak orang.

Kedua, 'Kerajaan Allah itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya'. Kerajaan Allah tidak jatuh dari atas, melainkan bergerak dalam proses kehidupan. Keluarga menjadi persemaian pertama tumbuhnya Kerajaan Allah.

 

 

 







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Pesta Maria mengunjungi Elizabet