Hari Minggu Biasa XXXII, 11 November 2018

1Raj 17: 10-16 + Ibr 9: 24-28 + Mrk 12: 41-44

 

 

Suatu hari Yesus duduk menghadapi kotak persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam kotak itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit.  Maka dipanggil-Nya murid-muridNya dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.  Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya."

 

Meditatio

 Suatu hari Yesus duduk menghadapi kotak persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam kotak itu. Berapa lama Yesus duduk-duduk di situ. Dia mengamati dan mengamati segala tindak tanduk umatNya. Apakah tidak ada orang yang mengajakNya berbicara sehingga perhatiannya pada orang-orang yang memasukkan dana ke dalam kotak sumbangan? Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. Sungguh wajarlah yang terjadi, bahwasannya mereka yang mapan hidupnya memberikan lebih banyak sumbangan daripada mereka yang berkekurangan. Layaklah kalau seorang janda miskin memberi dana sebesar satu duit. Barangsiapa banyak menerima, banyak juga memberi. Bukankah memberi itu rasa syukur kepada Tuhan? Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil; terpujilah Dia.

Maka dipanggil-Nya murid-muridNya dan berkata kepada mereka: 'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.  Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya'. Penegasan Yesus benar-benar memberi pencerahan baru. Janda miskin itu memang memberi dari segala kekurangannya. Segala yang ada dalam hidupnya itulah yang diberikan. Sedangkan mereka yang kaya hanya memberi sebagian dari kelimpahannya. Hak milik masih utuh dan tidak tersentuh.

Apa yang dimaksudkan oleh Yesus? Keberanian sang janda memberi dan memberi itulah yang patut diacungi jempol. Dia tidak memikirkan apa yang hendak dimakannya besok. Dia merasa tidak terikat dengan sedikit yang dimilikinya. Sepertinya, dia mempuyai pengharapan yang tinggi akan belaskasih Allah kepada dirinya. Dalam kemiskinannya, dia masih ingat akan orang lain. Dalam perjalanan salibNya, Yesus pun masih sempat menghibur mereka, kaum perempuan Yerusalem yang menangis. Stefanus, ketika mendapatkan lemparan batu yang merajamnya, masih sempat berdoa, agar dosa-dosa mereka tidak menjadi pertimbanganNya, Allah yang berbelaskasih. Mengapa? Sebab mereka tidak tahu apa yang dilakukannya. Janda itu tetap mempunyai hati kepada orang lain. Dia masih meyakini, bahwa salib Anak Manusia masih lebih banyak dipikul oleh saudara dan saudarinya daripada dirinya.  

Apakah janda tadi tidak mengalami pergualatan dalam memberikan dua peser uangnya? Dia berani memberikan dari segala kekurangannya adalah hasil pergulatan jiwanya. Dia pasti berkata-kata juga seperti perempuan janda di Sarfat: 'sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikit pun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati' (1Raj 17). Namun kini telah mengambil sebuah keputusan berani, hanya karena iman.

Apakah kita harus menjadi orang-orang miskin? Tentunya tidak juga.  Yesus meminta kita para muridNya, agar berani berkurban, tidak memikirkan keuntungan yang akan didapat. Kita hendak membantu, tetapi memberi persyaratan.

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, beri kami hati yang penuh belaskasih dan mudah berbagi terhadap sesama, agar mereka yang berkekurangan juga dapat merasakan sukacita dan bersemangat dalam hidupnya. Kami percaya hati yang berbelaskasih itulah yang Kau kehendaki dari kami sebagai anak-anakMu.  Amin

 

Contemplatio

Pertama, 'mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya'. Ini cinta yang amat indah. Cinta yang berani berkurban.

Kedua, iman tanpa perbuatan adalah sia-sia.

 







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Pesta Maria mengunjungi Elizabet