Kamis Pekan Biasa XXXII, 15 November 2018

Flm 7-20 + Mzm 146 + Luk 17: 20-25

 

 

Lectio

Pada suatu hari atas pertanyaan orang-orang Farisi kapan Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: "Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu." Dan Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari pada hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya.  Dan orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut.  Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya.  Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini".

 

Meditatio

Kapan Kerajaan Allah itu datang? Atas pertanyaan itu, Yesus berkata: 'Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu'. Kerajaan Allah sudah dating, bahkan sudah ada di tengah-tengah kita. Kristus, sang Penguasa Kerajaan, telah datang dan tinggal di tengah-tengah kita. Keberanian membiarkan Kristus merajai diri kita, membuat Kerajaan Allah benar-benar ada di antara kita, dan kita rasakan kehadiranNya. Kerajaan Allah bukanlah soal makan dan minum, bukan pula soal keramaian, menggemparkan dan mengejutkan, melainkan soal kedamaian, kebenaran dan keadilan dalam Allah.

'Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari pada hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya', tambah Yesus kepada para muridNya. Ada keinginan untuk melihatNya, tetapi mereka terhalang. Kenapa? Yesus tidak menjelaskannya, malah Dia menambahkan: 'orang akan berkata kepadamu: lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut'. Kehadiran Anak Manusia tidaklah sesuai dengan gambaran manusia. Ada orang-orang yang beranggapan, bahwa seorang Mesias itu akan mengikuti keinginan umatNya, yang ingin selamat. Menyelamatkan manusia berarti mengikuti keinginan umatNya. Itulah yang dikerjakan Mesias: memuaskan keinginan umatNya.  'Sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya', tegas Yesus. Anak Manusia berada di luar konsep manusia. Anak Manusia tidak berada dalam kendali orang-orang yang dikasihiNya. Malah, kenyataannya: 'Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini'.

Mengikuti Yesus dan menjadi muridNya berarti menerima kenyataan bahwa Anak Manusia itu Manusia yang menderita.  Bukankah Yesus mengundang setiap orang untuk berani menyangkal diri, memanggul salib dan mengikutiNya? Ketidakmauan seseorang untuk memanggul salib tak ubahnya seperti sikap Simon Petrus, yang hanya memikirkan diri sendiri (Mat 16). Pikiran iblis!

Injil hari ini mengajak kita untuk semakin mengikuti alur pemikiran Allah, dan bukan berputar pada pikiran diri sendiri. Memahami pikiran Allah berarti berusaha berpikir seperti Allah. Berpikir seperti Allah berarti menjadi orang bijak milik Allah, dan bukan bijak milik diri sendiri. Sebab kebijaksanaan sejati adalah 'pernafasan kekuatan Allah, dan pancaran murni dari kemuliaan Yang Mahakuasa. Karena itu tidak ada sesuatupun yang bernoda masuk ke dalamnya.  Karena kebijaksanaan merupakan pantulan cahaya kekal, dan cermin tak bernoda dari kegiatan Allah, dan gambar kebaikan-Nya'.

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, dampingi dan mampukan kami, agar dapat membuka hati membiarkan Engkau tinggal dan meraja. Semoga kami berani menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Engkau. Semakin peka terhadap orang lain dan mau berkorban demi kemuliaan namaMu. Amin

 

Contemplatio

Pertama, 'Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu'. Allah mendahului dan meraja dalam diri kita. Maukah kita merasakanNya?

Kedua, 'Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini'. Menerima Kerajaan Allah berarti siap menerima kenyataan hidup, yang tidak sesuai dengan kemauan diri sendiri.

 

 







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Pesta Maria mengunjungi Elizabet

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis