Rabu Pekan Biasa XXXI, 7 November 2018

Fil 2: 12-18 + Mzm 27 + Luk 14: 25-33

 

 

Lectio

Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka:  "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.  Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.  Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?  Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.  Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian.  Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku".

 

Meditatio

Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.  Berapa jumlah mereka yang mengikutiNya? Ada banyak perempuan juga yang mengikutiNya? 'Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku'. Sebuah persyaratan yang amat berat. Semua harus dinomerduakan; hanya Yesus sang Guru yang harus diutamakan dari diri sendiri dan keluarga. Cinta kepada Yesus harus menjadikan Dia satu-satu milik dalam hidup ini. Apakah tidak perlu berkeluarga, dan menghayati selibat?

'Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku'.  Seorang murid Yesus harus berani bersengsara. Memanggul salib itu tidak mengenakkan. Memanggul salib itu, bukan bertepuk tangan dan bersorak-sorai, dan beriang ria. Tidak bolehkah hidup nyaman sebagai seorang Katolik? Mengikuti Yesus itu mengamini segala ajaran dan sabdaNya.

'Siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?  Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.  Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian'. Menjadi murid Kristus tidak mengabaikan kemampuan akal budi. Mengikuti Kristus tidak boleh mengandalkan diri, sebaliknya harus berani meminta bantuan Dia yang kita ikuti.  

'Tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku'. Bukan saja keluarga yang harus dinomerduakan, harta benda yang kita miliki pun kiranya tidak bisa kita kedepankan dalam aneka kegiatan hidup ini. Bukankah orang muda kaya telah mendapatkan teguran keras daripadaNya, karena tidak mau meninggalkan harta yang dimiliki, lau mengikutiNya?

'Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan'. Nasehat Paulus ini memang layak dilakukan oleh-orang-orang yang mengutamakan Yesus. Bukankah Paulus juga pernah meminta, jikalu kamu melayani sesamamu, hendanya kamu seolah-olah melayani Tuhan? Memang, orang yang selalu siap menjadi sesame bagi orang lain, akan selalu 'bercahaya seperti bintang-bintang di dunia' (Fil 2: 12-18).

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, dampingilah kami selalu, agar mampu mengutamakan Engkau di atas segala-galanya, dan berani mengamini sabda dan melakukan kehendakMu. Bantulah kami, yang selalu terdesak oleh kecenderungan insani kami. Amin

 

Contemplatio

Pertama, 'jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku'. Keluarga harus dinomerduakan dalam pengenalan akan Kristus.

Kedua, 'barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku'.  Mengikuti Yesus memang harus siap menanggung derita.

 







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Pesta Maria mengunjungi Elizabet