Rabu Pekan Biasa XXXII, 14 November 2018

Tit 3: 1-7 + Mzm 23 + Luk 17: 11-19

 

 

Lectio

Pada suatu hari dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea.  Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: "Yesus, Guru, kasihanilah kami!"  Lalu Ia memandang mereka dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir.  Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.  Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?  Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?"  Lalu Ia berkata kepada orang itu: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau."

 

Meditatio

'Yesus, Guru, kasihanilah kami!'. Itulah seruan ke sepuluh orang sakit kusta kepada Yesus. Mereka berteriak-teriak dari jarak cukup jauh. Mereka berdiri agak jauh, karena mereka tahu diri berkenaan dengan keberadaan diri sebagai orang-orang yang menderita sakit kusta. Apakah mereka orang-orang Samaria? Mendengar teriakan itu, Yesus memandang mereka dan berkata: 'pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam'. Mengapa Yesus tidak memanggil mereka supaya mendekat dan menyembuhkan mereka? Apakah Yesus menyadari juga akan keberadaan mereka? Mereka bermohon belaskasih daripadaNya. Namun mengapa mereka disuruh pergi kepada para imam? Mereka segera pergi juga. Inilah iman. Tanpa banyak berpikir panjang, logika antara permohonan dan jawaban, mereka pergi juga. 

Sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. Iman menghasilkan kesembuhan. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya.  Apakah mereka yang lain tidak ikut bergembira, ketika melihat diri mereka telah sembuh? Apakah dia tidak mengajak orang lainnya untuk kembali kepada sang Guru?  Orang itu adalah seorang Samaria. Dia bukan orang Galilea. Seharusnya orang-orang Galilea yang mendahului bersyukur kepadaNya. Orang, yang dianggap tidak mengenal Allah, malah berani mengumandangkan pujian kepada Allah. Bukankah orang-orang sering menjadi sasaran Yesus mengadakan aneka mukjizatNya? Orang-orang Kapernaum, orang-orang yang benyak menerima berkat, layak dikecaam habis-habisan (Mat 11: 23).   

'Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?  Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?', tanya Yesus kepada orang-orang yang mengikutiNya. Yesus benar-benar menantang setiap orang berani bersyukur dan bersyukur kepada Allah. Namun bukankah mereka bersembilan tetap mentaati sabda dan kehendak sang Guru, yang meminta pergi menghadap para imam? Bukankah dari para imam, mereka mendapatkan surat resmi, bahwa diri mereka telah sembuh, dan tidak najis lagi? Apakah orang Samaria menegaskan apalah arti surat resmi, kalau memang hati dan budi kita tidak bersih?

Ada baiknya kita mendahulukan Tuhan Allah dari segala yang lain. Bukankah 'dari Tuhanlah kamu diberi kekuasaan dan pemerintahan datang dari Yang Mahatinggi, yang akan memeriksa segala pekerjaanmu serta menyelami rencanamu' (Keb 6: 1-3). Hanya kepadaNyalah kita pertanggungjawabkan segala-galanya.

'Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau', tegas Yesus. Iman menyelamatkan hanya dikatakan Yesus kepada satu orang, dan bukannya kepada ke sepuluh orang yang dahulunya sakit kusta itu.

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kami bersyukur atas anugerah yang Kau limpahkan dalam hidup kami. Kiranya kami semakin berani bersyukur atas aneka perisitwa kehidupan, bahkan akan aneka hal kecil yang remeh dan sederhana. Amin

 

Contemplatio

Pertama, 'Yesus, Guru, kasihanilah kami!'. Hendaknya kita berani berseru dan berseru kepadaNya.

Kedua, 'bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?  Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?'. Hendaknya kita menjadi orang-orang yang tahu berterimakasih.

Ketiga, 'berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau'. Berima memang amat menguntungkan.







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Pesta Maria mengunjungi Elizabet

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis